Waktu Potensial Posting dan Promosi Produk di Website dan Media Sosial

Berjualan online tidak kenal batas ruang dan waktu. Transaksi dapat terjadi ketika kita sedang tidur lelap. Tahu-tahu sudah ada orang yang memesan barang dan mentransfer sejumlah uang. Itulah kelebihan dari berjualan online. Sekilas terdengar begitu mudah dan indah. Hati-hati, kita bisa terjebak dalam kubangan waktu tanpa batas yang justru membuat kita sulit mengenali kapan saja waktu yang tepat untuk menawarkan barang, membuat promosi, memposting blog, dan sejenisnya.

‘Tanpa batas waktu’ memang seolah membuat berjualan online begitu gampang dan menyenangkan. Di sisi lain, pemahaman ‘tanpa batas waktu’ membuat sebagian penjual bingung sendiri. Di toko offline, orang bisa menetapkan kapan toko dibuka dan kapan ditutup. Biasanya mengikuti irama jam kerja atau mengiku­ti sistem shift seperti kebanyakan toko swalayan.

Bagaimana dengan toko online? Kita tidak mungkin menghabiskan waktu seharian penuh untuk memposting info jualan atau berkicau di Twitter tiada henti membahas keunggulan produk yang kita tawarkan. Tidak sepanjang waktu orang aktif di online marketplace, Google, Facebook, atau Twitter. Mereka juga punya kesibukan di dunia nyata. Inilah yang membuat pebisnis online harus jeli  memahami kapan waktu potensial untuk memposting sesuatu. Tentu kita tidak mau semua kesibukan kita di dunia maya berlalu begitu saja tanpa hasil, bukan?

Kapan Sebaiknya Memposting Sesuatu?

Ada waktu-waktu tertentu di mana orang ramai berkicau di Twitter, melakukan browsing untuk berbelanja online, menyediakan waktu khusus untuk memeriksa email secara detail, atau mengamati status Facebook teman-temannya. Inilah waktu-waktu yang tepat untuk mengirim postingan sehingga aktivitas online kita bisa berjalan lebih efektif.

Tidak ada rumusan yang pasti tentang kapan sebaiknya kita mengunggah sesuatu di Internet agar mendapat respons yang optimal. Ada banyak variabel yang menentukan. Apakah di waktu kita memposting sesuatu maka postingan itu dibaca banyak orang? Dari banyak orang itu, apakah ada yang tertarik dengan postingan kita? Jika tertarik, apakah ia mau merespons postingan tersebut? Kalau ia merespons, apakah responsnya negatif atau positif? Respons positif seperti apa, sekadar berkomentar atau bertanya? Atau tertarik untuk melakukan transaksi? Dan seterusnya. Setidaknya ada banyak analisis dan riset yang sudah dilakukan para pakar mengenai kapan waktu-waktu potensial untuk mengunggah sesuatu di Internet. Hasil analisis itu bisa menjadi semacam acuan bagi para pebisnis online. Mengenai kapan pastinya waktu potensial yang paling tepat akan dikenali seiring dengan makin bertambahnya intensitas. Seorang pebisnis online yang jeli akan mampu mengenali kapan waktu potensial ini muncul.

Ada beberapa ‘bocoran’ mengenai kapan sebaiknya kita memposting suatu infor­masi di dunia maya:

  1. Toko Online

  • 00-9.00: Sebelum orang mulai bekerja biasanya iseng melakukan browsing, mulai dari membuka situs berita, media sosial, sampai mengunjungi situs belanja.
  • 00-13.00: Jam istirahat makan siang bagi karyawan atau mahasiswa. Mereka merasa penat dengan pekerjaan atau kuliah, lalu menyempatkan diri mencari penyegaran dengan melakukan browsing.
  • 00-17.00: Pekerjaan/kuliah mu­lai mereda sehingga orang mulai bisa menyempatkan diri lagi untuk online.
  • 00-22.00: Sepulang kerja/ kuliah, ada banyak waktu luang untuk online. Trafik ini ramai hingga jam menjelang tidur.
  1. Blog

Sejauh ini ada pro dan kontra, apakah update dilakukan ketika banyak orang yang online atau justru sebaliknya, saat trafik sedang rendah. Dan Zarnella, seorang pakar media sosial dan penulis, punya pandangan menarik seputar kapan sebaik-nya melakukan update blog.

Zarnella berpendapat, apabila kita memposting hal baru di blog saat trafik sedang tinggi maka potensi diabaikan pun tak kalah tinggi. Ibaratnya, kita mengumumkan sesuatu di tengah keramaian dan hiruk-pikuk sehingga sulit mendapat perhatian. Saat trafik tinggi, semua orang akan memanfaatkannya untuk meng-update blog atau apa pun itu. Otomatis update yang kita lakukan pun akan tenggelam. Di sisi lain, update yang dilakukan saat trafik sepi justru mendapat lebih banyak perha­tian.

Berikut hasil riset yang pernah dilakukan Zarnella terkait kapan waktu potensial untuk melakukan update blog.

  • 70% pengguna Internet mengaku lebih suka membaca blog di pagi hari.
  • Pria lebih banyak membaca blog di malam hari ketimbang wanita.
  • Senin adalah hari terjadi trafik terting gi bagi rata-rata blog.
  • Blog yang diupdate lebih dari satu kali per hari berpotensi dikunjungi lebih banyak pengunjung baru.
  • Komentar pada kolom blog paling banyak dilakukan pada hari Sabtu, sekitar pukul 9 pagi.
  • Jam 11 siang adalah trafik tertinggi bagi kebanyakan blog.
  1. Twitter

Aplikasi Twitter begitu ringan, termasuk kontennya. Platform media sosial ini sangat disukai pengguna gadget sebab sangat praktis dan bisa diakses dengan mudah. Ada beberapa analisis yang dapat dipertimbangkan untuk mengenali kapan sebaiknya kita berkicau di Twitter.

Weekend

Berdasar riset Dan Zarnella diketahui bahwa orang sangat aktif di Twitter pada weekend. Kepekaan pengguna Twitter atas suatu brand meningkat 17% saat akhir pekan. Bisa jadi karena pada akhir pekan para pengguna Twitter sudah dalam kondisi rileks untuk mengamati lini massa Twitter dibandingkan saat hari kerja. Trafik paling rendah adalah hari Senin. Trafik mulai menanjak dimulai pada hari Rabu dan terus meningkat mendekati akhir pekan.

Merasa liburan akhir pekan kita terganggu karena harus berkicau di Twitter terkait bisnis? Tenang. Ada banyak aplikasi pengelola media sosial yang bisa mengatur jadwal kapan twit kita muncul di lini massa. Jadwal ini bisa disusun saat kita punya waktu luang sehingga libur akhir pekan tidak perlu terganggu.

Weekdays

Hal berlawanan dikemukakan oleh studi yang dilakukan Argyle Social. Di sini dikatakan bahwa postingan di Twitter saat hari kerja atau weekdays justru lebih potensial 14% dibandingkan saat weekend. Pukul 5 sore merupakan waktu paling potensial dibandingkan jam-jam lain sepanjang hari karena retweet paling banyak didapatkan pada jam itu.

  1. Facebook

Catriona Pollard, Direktur CP Communication yang berbasis di Australia, me­nekankan bahwa waktu terbaik untuk memposting di Facebook adalah hari Kamis dan Jumat. Hari Senin hingga Rabu merupakan hari di mana para Facebooker sangat sepi dalam merespons sesuatu.

Sementara KISSmetrics dan Dan Zarnella punya pandangan berbeda. Hasil riset mereka menyatakan trafik tertinggi di Facebook justru terjadi di akhir pekan, khususnya hari Sabtu. Mengenai kapan jam terbaik untuk update status di Facebook masih diperdebatkan. Ada yang menyatakan antara pukul 1 sampai pukul 3 siang. Ada pula yang setuju dengan antara pukul 9 pagi sampai 7 malam. Secara umum, siang hari merupakan waktu yang solid untuk memposting sesuatu, dan jam-jam setelah makan malam, serta sebelum bekerja adalah waktu singkat yang tersedia.

  1. Email Marketing

Ada banyak analisis mengenai kapan sebaiknya mengirim email marketing ke pelanggan. Dan Zarnella punya analisis yang sangat detail tentang hal ini.

  • Jam 10 malam-6 pagi: Zona waktu mati karena hampir tidak ada orang yang mau membuka email di jam-jam ini.
  • Jam 6 pagi-10 pagi: Waktu terbaik untuk mengirim email marketing bagi pelanggan.
  • Jam 10 pagi-12 siang: Mayoritas orang sibuk bekerja dan sedikit sekali kemungkinan membuka email.
  • Jam 12 siang–2 siang: Media online melakukan update selama periode ini.
  • Jam 2 siang – 7 malam: Mulai banyak orang yang tertarik membuka email.
  • Jam 7 malam–10 malam: Periode di mana banyak orang memeriksa email, terutama email-email penawaran produk atau jasa.

Waktu-waktu potensial di atas bukanlah ‘harga mati’, melainkan sekadar paparan hasil riset dan analisis para ahli. Setidaknya kita punya gambaran kasar mengenai kapan sebaiknya memposting sesuatu yang berhubungan dengan bisnis online.

Pada akhirnya, kita harus belajar mengenali pelanggan kita. Kapan biasanya mereka online, mencari info seputar barang kebutuhan, atau update tentang produk terbaru yang sesuai hobi mereka? Seorang pebisnis online, sama seperti pebisnis offline, akan paham pola-pola itu, terlebih apabila ia sudah membina hubungan akrab dengan pelanggannya.

Tinggalkan Balasan