Teknik Wawancara yang Tepat dalam Berbagai Situasi

Kemampuan seseorang melakukan wawancara sangat penting dalam public speaking karena sebuah wawancara bukan hanya bertujuan memberikan informasi, tapi juga memberikan hiburan.

Ada tiga jenis teknik wawancara:

  1. Pertanyaan cepat (Machine gun interview)

Mengajukan pertanyaan langsung bertubi-tubi kepada tamu. Teknik ini biasa digunakan pada pembawa acara berita. Karena terbatasnya waktu, seseorang pewawancara harus langsung masuk ke inti permasalahan, sehingga tidak ada waktu untuk berbasa-basi.

  1. Pertanyaan lambat (sniper interview)

Banyak menggunakan basa-basi dengan tujuan membuat nyaman tamu, lalu baru menanyakan tujuan wawancara. Teknik ini biasa digunakan oleh jurnalis media cetak cetak atau online yang punya banyak waktu berbicara dengan narasumber. Dengan teknik ini, pertanyaan penting mematikan diberikan pada akhir wawancara, saat narasumber sudah merasakan nyaman dengan wawancara karena diberikan pertanyaan ringan menyenangkan, lalu pelan-pelan mulai serius sampai ke inti wawancara.

  1. Pertanyaan terbesar (landmine interview)

Banyak memberikan pertanyaan jebakan, sehingga tamu memberikan informasi tanpa merasa sedang diwawancara. Teknik ini digunakan, oleh pewawancara yang sudah cukup ahli. Karena harus bisa memainkan perasaan narasumber  sehingga pertanyaan penting sensitif bisa diberikan tanpa menyudutkan sambil keakraban bisa terus terjadi dengan mengajukan pertanyaan menghangatkan perasaan.

Langkah-langkah wawancara

Semua proses wawancara harus menggunakan rumus 5W1H (What, Who, Where, When, Why, & How). Dengan rumus ini, Anda bisa menggali berbagai informasi dari narasumber. Pada saat melakukan wawancara, kesampingkan dulu kepentingan dan pendapat pribadi, bersikaplah secara objektif dengan melihat setiap keadaan dari berbagai sudut pandang. Posisikan diri Anda sebagai audience yang ingin tahu suatu keadaan, bukan sebagai ahli yang sudah tahu cara penyelesaian. Biarkan narasumber Anda yang memberikan penjelasan bagaimana menyelesaikan suatu masalah, tugas Anda sebagai pewawancara adalah mencari tahu lebih dalam dan lengkap akan sebuah informasi, juga menyederhanakan kalimat-kalimat sulit berbelit jawaban narasumber menjadi sederhana dan mudah dimengerti audience.

Contoh sederhana penggunaan 5W1H dalam sebuah wawancara.

Tema:

Keberhasilan seorang atlet peraih medali emas

Narasumber:

Atlet peraih medali emas

List pertanyaan:

  1. What: Apa latar belakang keberhasilan ini? Apa kesan-kesan dan reaksi masyarakat sehubungan dengan keberhasilan ini?
  2. Who: Siapa atlet ini? Latar belakangnya? Siapa saja orang yang berjasa dalam prosesnya?
  3. Where: Di mana dia meraih medali emas? Keadaan di sana seperti apa? Dimana biasanya latihan?
  4. When: Kapan dia meraih medali emas? Sejak kapan persiapannya?
  5. Why: Kenapa cabang olahraga ini yang dia pilih? Apa saja tantangannya?
  6. How: Bagaimana proses dia berhasil memperoleh medali emas tersebut? Bagaimana sistem latihannya? Bagaimana kedisiplinan hidup membawanya sampai sesukses ini?

Tentunya materi ini bisa ditambah-kurangkan sesuai situasi dan tidak harus berurutan. Semakin kreatif pertanyaan akan semakin menarik sebuah wawancara. Untuk bisa kreatif dalam wawancara, Anda harus memiliki banyak materi mengenai topiknya atau narasumbernya. Bahkan kalau perlu Anda sudah tahu terlebih dahulu jawabannya, sehingga bisa memberikan pertanyaan lebih detail ke narasumber apabila ada yang kurang lengkap. Untuk itu sebelum wawancara, lakukanlah hal-hal berikut.

  1. Persiapan
  2. Tentukan tujuan wawancara
  3. Tentukan siapa yang akan diwawancara
  4. Kenali latar belakang kasus dan tamu yang akan di wawancara
  5. Proses wawancara
  6. Selalu siap dengan pertanyaan cadangan apabila tamu berbelit-belit dalam memberikan jawaban.
  7. Posisikanlah diri Anda setara dengan tamu. Jangan memposisikan diri di atas atau di bawah, sehingga tamu akan merasa tidak nyaman dan tidak grogi menjawab pertanyaan yang diberikan.
  8. Berkonsentrasilah terhadap setiap jawaban. Jangan hanya berkonsentrasi pada list pertanyaan yang sudah disiapkan.
  9. Perhatikan alur wawancara. Jangan biarkan pembicaraan keluar jalur atau tamu mengatur jalannya proses wawancara.
  10. Perhatikan durasi wawancara.
  11. Kesimpulan, buat kesimpulan yang netral sesuai dengan hasil wawancara.

Modal dasar pewawancara

  1. Selalu melihat suatu permasalahan dari sudut pandang yang berbeda; siap untuk memberikan pertanyaan tak terduga yang relevan. Fokuslah pada satu situasi, tapi jangan terfokus pada satu rasa ingin tahu saja, posisikan diri Anda dalam berbagai keadaan dan orang.
  2. Memiliki pengetahuan luas; memiliki pengetahuan di luar kehidupan Anda sehari-hari. Banyaklah bertanya, membaca, menonton, mendengarkan, bertemu orang, bertukar pikiran agar Anda mengetahui berbagai situasi. Anda tidak perlu harus menjadi ahli pada semua hal, cukup mengerti berbagai situasi.
  3. Memiliki semangat yang tinggi; rasa antusias dan semangat terhadap pekerjaan akan membuat Anda kreatif dalam bertanya walau tentang hal yang tidak menarik sekalipun. Dengan semangat, Anda akan menyukai proses bertanya, bukan hanya ingin mengetahui jawabannya.
  4. Kurangi ego; jangan terfokus dan hanya membicarakantentang diri sendiri, keinginan terlihat pintar, atau ingin lebih menjadi pusat perhatian dibanding yang diwawancara.
  5. Memiliki rasa ingin tahu; ini akan membuat pewawancara mampu menggali jawaban dari yang diwawancara.
  6. Memiliki empati; rasakanlah apa yang dirasakan orang yang Anda wawancara, tapi tetap memiliki objektivitas agar pertanyaan Anda bersifat netral.
  7. Memiliki rasa humor; humor selalu menarik perhatian dan mencairkan suasana. Apabila mungkin, masukkan humor dalam wawancara Anda, agar lebih menarik dan membuat orang yang Anda wawancara lebih nyaman.
  8. Memiliki gaya sendiri; Anda boleh memiliki idola. Tapi setiap karakter itu unik, sehingga menirunya habis-habisan hanya akan membuat Anda terlihat aneh.

Tinggalkan Balasan