Sistem Pertahanan Tubuh Pada Manusia

A. Sel Darah Putih (Leukosit)

Sistem pertahanan tubuh dalam tubuh manusia dilaksanakan oleh sel darah putih (leukosit). Dalam setiap 1 mm3 darah terdapat 6.000 – 9.000 sel darah putih. Perbandingan jumlah sel darah putih dengan sel darah merah adalah 1 : 600. Sel darah putih memiliki berbagai macam bentuk yaitu 25% berupa agranulosit dan 75% berupa granulosit. Sel darah putih dapat bergerak secara amoeboid, serta dapat menembus dinding kapiler (diapedesis).

Leukosit mempunyai fungsi utama sebagai pertahanan tubuh, yaitu dengan cara memakan kuman yang masuk ke dalam tubuh atau disebut fagositosis. Leukosit dibentuk di dalam jaringan retikuloendotelium dari sumsum tulang merah. Leukosit dibedakan menjadi dua, yaitu granulosit (plasmanya bergranula) dan agranulosit (plasmanya tidak bergranula). Leukosit granulosit dibedakan menjadi tiga, yaitu neutrofil, eosinofil, dan basofil.

  1. Neutrofil, plasmanya bersifat netral, bentuk inti bermacam-macam (berinti bengkok, berinti banyak, dan berinti batang). Bersifat fagosit.
  2. Eosinofil, plasmanya bersifat asam, berbintik-bintik kemerahan yang jumlahnya meningkat jika terjadi infeksi. Bersifat fagosit.
  3. Basofil, plasmanya bersifat basa, berbintik-bintik kebiruan, dan bersifat fagosit.

Leukosit agranulosit dibedakan menjadi dua, yaitu limfosit dan monosit.

  1. Limfosit, berinti satu dan tidak dapat bergerak bebas, serta berperan dalam pembentukan zat antibodi.
  2. Monosit, berinti satu besar, berbentuk bulat panjang, dapat bergerak cepat, dan bersifat fagosit.

Jika sel darah putih berjumlah kurang dari 6.000/mm3 disebut leukopenia, dan apabila sel darah putih berjumlah lebih dari 9.000/mm3 disebut leukemia (kanker darah).

B. Sistem Kekebalan Tubuh

Imunitas merupakan suatu keadaan tubuh yang resistan terhadap suatu penyebab infeksi tertentu. Respon imun dalam tubuh dilakukan oleh leukosit, khususnya limfosit melalui dua mekanisme, yaitu daya fagositosis dan pembentukan zat antibodi. Daya fagositosis dikoordinasikan oleh limfosit T. Setelah terjadi gangguan berupa masuknya bibit penyakit, limfosit T memberi sinyal kepada sel-sel fagosit lainnya (monosit, leukosit, neutrofil, eosinofil, dan basofil) dan sel makrofag untuk melakukan penyerangan. Pembentukan zat antibodi dilakukan oleh limfosit B. Antigen ini melekat pada zat patogen dan melumpuhkannya.

Pemegang peranan penting dalam imunitas dalam tubuh adalah limfosit dan monosit, yang akan berkembang menjadi makrofag. Limfosit yang berperan dalam imunitas adalah limfosit T dan limfosit B. Limfosit T akan membentuk sistem imunitas sel (yang berperan terhadap infeksi bakteri, virus, jamur, daya tahan terhadap kanker, timbulnya alergi, dan kegagalan pencangkokan organ

tubuh). Limfosit B akan membentuk sistem imunitas humoral (imunitas yang membentuk imunoglobulin atau antibodi). Sistem kekebalan humoral akan membentuk kekebalan terhadap infeksi bakteri maupun virus.

Berdasarkan dari dapatannya, sistem kekebalan (imunitas) dibedakan menjadi kekebalan dapatan aktif dan kekebalan dapatan pasif. Kekebalan dapatan aktif dapat terjadi jika seseorang kebal atau tidak menderita suatu penyakit setelah diberikan vaksinasi dengan bibit penyakit tersebut. Jika kekebalan itu diperoleh setelah orang mengalami sakit disebut kekebalan aktif alami. Kekebalan dapatan pasif dapat terjadi sebelum dan sesudah bayi lahir. Kekebalan dapatan pasif sebelum bayi lahir terjadi apabila bayi dalam kandungan menerima antibodi dari ibunya melalui plasenta sehingga bayi tersebut imun terhadap penyakit yang sama dengan kekebalan yang dimiliki ibunya. Kekebalan dapatan pasif setelah lahir, jika seseorang terhindar dari penyakit setelah dilakukan suntikan dengan serum yang mengandung antibodi.

Untuk mencegah berbagai penyakit yang disebabkan oleh virus maupun bakteri, telah dibuat berbagai macam vaksin, misalnya vaksin cacar, vaksin polio, vaksin morbili, vaksin TCD (untuk penyakit tifus, kolera, dan disentri), vaksin BCG (untuk penyakit TBC), dan vaksin hepatitis. Vaksin merupakan bibit penyakit yang dilemahkan yang akan menghasilkan antigen dan bila disuntikkan pada seseorang akan merangsang tubuh untuk melawan dengan membentuk antibodi.

Penyakit yang menyerang sistem kekebalan tubuh adalah AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome). Penyakit ini akan menyerang sistem kekebalan tubuh sehingga daya tahan tubuh penderita terhadap penyakit berkurang atau bahkan hilang sama sekali.

Sumber: Sukses Kuasai Materi Biologi SMA

Bagikan Artikel

Tinggalkan Balasan