Shalat Mengingatkan Hamba kepada Allah

Pada saat seseorang mengerjakan shalat, maka sebenarnya ia sedang berada di hadapan Allah subhanahuwata’ala tanpa ada perantara atau tirai yang menghalanginya. Tentu saja, saat itu ia tengah merasakan bahwa dirinya begitu dekat dengan Allah subhanahuwata’ala serta merasa di dampingi oleh-Nya. Dengan demikian, jiwanya merasakan keamanan, ketentraman, kepercayaan diri dan keyakinan, sehingga dengan begitu khusyuknya ia mengerjakan rukuk dan sujud untuk meminta pertolongan dan dukungan Allah subhanahuwata’ala. Allah bahkan menyatakan bahwa orang-orang beriman itu sungguh beruntung, yaitu orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya, sebagaimana yang tertera dalam ayat berikut.

قَدۡ أَفۡلَحَ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ٱلَّذِينَ هُمۡ فِي صَلَاتِهِمۡ خَٰشِعُونَ

Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu´ dalam shalatnya.” (Al-Mu’minun [23]: 1-2)

Baik shalat fardhu maupun shalat sunnah, secara terus-menerus dan berkesinambungan, dilaksanakan oleh setiap muslim. Tidak ada udzur yang bisa mencegah atau menghalangi seseorang untuk meninggalkan shalat fardhu; entah itu disebabkan karena sakit maupun ketika dalam keadaan safar. Setiap kali ia beranjak dari satu waktu, ia selalu bertemu dengan datangnya kewajiban shalat yang mesti dikerjakannya dimanapun ia berada. Sebagaimana sabda Nabi shallallahualaihi wa sallam:

Bumi (tanah) itu dijadikan untukku sebagai tempat sujud (shalat) dan sebagai alat bersuci. Maka siapa pun dari kalangan umatku yang mendapati waktu shalat, maka hendaklah ia mengerjakan shalat.” (HR. Bukhari)

Dalam Islam, pelaksanaan ibadah tidak hanya dibatasi oleh tembok masjid atau mushalla saja. Akan tetapi, seluruh hamparan bumi ini adalah tempat untuk beribadah kepada-Nya.

Antara satu pelaksanaan shalat dengan pelaksanaan shalat berikutnya, seorang muslim tentu merasakan bahwa ia baru saja berada di hadapan Allah subhanahuwata’ala dengan bermunajat kepada-Nya dan meminta petunjuk-Nya. Dan, sebentar lagi ia juga akan melakukan hal yang sama ketika waktu shalat berikutnya telah tiba. Sudah tentu bahwa seorang hamba yang keadaannya demikian tentu tidak akan lepas dari dzikir kepada Allah subhanahu wata’ala disebabkan oleh pengaruh pelaksanaan shalat. Dengan begitu pula, iman akan semakin kuat dan terus bertambah kualitasnya. Tekad hatinya menjadi kuat untuk selalu beribadah kepada Allah, sehingga ia tidak pernah terbuai oleh kesibukan-kesibukan dunia, sedangkan jiwanya mampu mengalahkan berbagai godaan.

Allah subhanahuwata’ala berfirman:

رِجَالٞ لَّا تُلۡهِيهِمۡ تِجَٰرَةٞ وَلَا بَيۡعٌ عَن ذِكۡرِ ٱللَّهِ وَإِقَامِ ٱلصَّلَوٰةِ وَإِيتَآءِ ٱلزَّكَوٰةِ يَخَافُونَ يَوۡمٗا تَتَقَلَّبُ فِيهِ ٱلۡقُلُوبُ وَٱلۡأَبۡصَٰرُ

Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sahlat, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang.” (An-Nur [24]: 37)

 Ibadah shalat yang dikerjakan secara langgeng diberbagai waktu yang berbeda-beda menjadi karakter tersendiri yang membedakannya dari seluruh bentuk peribadahan lainnya. Pada umumnya, tugas-tugas syariat (selain rukun Islam yang mendasar, yaitu shalat, zakat, puasa, haji), selalu terkait dengan kemaslahatan-kemaslahatan tertentu atau tergantung kepada hubungan dengan sesama manusia yang wajib ditunaikan dalam kondisi-kondisi tertentu, yang kemudian akan gugur kewajiban tersebut jika sudah ditunaikan, atau jika kewajiban itu sudah diikhlaskan oleh yang berhak mendapatkannya, atau oleh hal lainnya.

Berbeda sekali dengan keempat rukun Islam di atas, yang merupakan wajib ‘ain (kewajiban bagi setiap orang) dan merupakan hak Allah subhanahuwata’ala yang tidak boleh diabaikan. Di antara berbagai kewajiban rukun Islam ini, shalatlah yang memiliki sifat tersendiri, yaitu bahwa pelaksanaannya bersifat terus menerus dan atas siapa saja. Hal ini akan berbeda dengan disyariatkannya puasa yang hanya diwajibkan bagi orang yang mampu; haji yang hanya diwajibkan bagi setiap orang yang mampu menempuh perjalanannya dan biayanya; sedangkan zakat bahkan hanya menjadi kewajiban orang yang memiliki harta yang mencapai nishab. Sementara itu, kewajiban shalat tidak akan gugur oleh adanya udzur, namun hanya diringankan rukun-rukunnya untuk menghindari kesulitan pelaksanaannya. Adapun kewajiban dasarnya masih tetap berlaku sehingga makna-makna shalat yang agung itu tidak akan pernah hilang.

Urgensi dan Kedudukan Shalat dalam Islam

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

 وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ ٥٦

Aku tidaklah menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (Adz-Dzariyat: 56)

Ayat ini dengan tegas berbicara mengenai tujuan penciptaan jin dan manusia, yaitu menunaikan tugas yang luhur. Hamba yang telah menunaikan tugas ini, maka ia telah merealisasikan tujuan dari penciptaan dirinya. Sebaliknya, hamba yang kehidupannya terlepas dari tujuan ini, maka ia pun terlepas dari tujuan ini pula. Tujuan itu, adalah beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala saja berdasarkan syariat yang ditetapkan oleh-Nya di dalam melakukan peribadahan kepada-Nya.

Kehidupan seorang hamba tidak akan lurus kecuali jika ia menunaikan tugas dan tujuan ini. Jadi, ibadah merupakan tujuan dari penciptaan manusia, serta yang menjadi misi dalam kehidupan ini.

Shalat merupakan salah satu bentuk ibadah yang dilakukan seorang hamba kepada Khaliqnya, dan shalat pula merupakan hubungan antara hamba dengan Rabbnya. Adapun dalam Islam, kedudukan shalat laksana kedudukan kepala bagi tubuh kita.

Diriwayatkan dari Ibnu Umar radiyallahuanhu bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada iman bagi orang yang tidak amanah; tiada (sah) shalat bagi orang yang tidak bersuci; dan tidak ada agama bagi orang yang tidak mengerjakan shalat. Sesungguhnya kedudukan shalat dari agama ini adalah laksana kedudukan kepala dari tubuh.” (HR. Thabrani)

Shalat juga merupakan rukun (pilar) kedua dalam Islam setelah dua kalimat syahadat. Dengan shalat pulalah dapat dibedakan apakah seseorang itu muslim ataukah kafir. Dan juga, shalat merupakan ciri keislaman serta keimanan seseorang. Dalam Islam, shalat memiliki kedudukan yang tinggi yang tidak akan bisa dijangkau atau ditandingi oleh jenis ibadah yang lainnya. Shalat merupakan ibadah yang pertama-tama di syariatkan setelah ikrar dua kalimat syahadat. Dan juga, sunnah Nabi juga telah menerangkan bahwa shalat adalah rukun Islam yang terpenting.

Shalat adalah pilar agama. Maka, barangsiapa yang menegakkannya, sungguh dia telah menegakkan agama. Begitu juga sebaliknya, barangsiapa meninggalkannya, sungguh dia telah merobohkan agama ini pula. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Muadz bin Jabal radiyallahuanhu disebutkan bahwa Nabi shalallahu alaihi wa sallam bersabda:

Maukah aku beritahukan kepadamu tentang pokok seluruh perkara, pilarnya dan juga puncak dan mahkotanya?” Aku menjawab, “Tentu, ya Rasulullah!” Beliau kemudian bersabda, “Pokok perkara adalah Islam, pilarnya adalah shalat, dan puncak mahkotanya adalah jihad.” (HR. Tirmidzi)

Shalat menjadi rukun kedua setelah dua kalimat syahadat, sehingga kududukannya sangat tinggi dalam Islam. Posisinya yang jatuh setelah dua kalimat syahadat ini menjadi bukti akan kelurusan akidah seseorang serta menjadi bukti mengenai apa yang ada di dalam hatinya.

Diriwayatkan dari Abu Abdirrahman Abdullah bin Umar radiyallahuanhuma bahwa ia berkata: Aku telah mendengar Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda: “Islam itu dibangun di atas lima pilar, yaitu kesaksian (syahadat) bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, melaksanakan ibadah haji Baitullah, dan puasa Ramadhan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Adapun mengenai shalat yang didahulukan atas seluruh rukun Islam lainnya setelah dua kalimat syahadat, perkara ini menunjukkan perihal kedudukannya yang begitu agung. Bagaimana tidak, karena shalat merupakan ibadah yang pertama kali difardhukan oleh Allah subhanahu wa ta’ala atas para hamba-Nya di Mekah ketika itu, dan juga merupakan ibadah yang pertama kali disempurnakan di Madinah.

Diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahuanha bahwa ia berkata,”Pada mulanya Allah subhanahu wa ta’ala memfardhukan shalat dua rakaat, baik ketika sedang muqim maupun ketika sedang safar. Namun akhirnya shalat safar itu ditetapkan seperti semula, sedangkan berkenaan shalat orang yang muqim ditambah rakaatnya.” (HR. Bukhari)

Tidak ada perkara lain yang dibebankan kepada hamba seperti halya ibadah shalat. Dinamakan shalat kiranya lantaran terdapat kesesuaian antara lafal dan maknanya. Dengan shalat, hubungan hamba dengan Allah subhanahu wa ta’ala menjadi lebih kuat. Dan keistimewaan ini tidak terdapat pada ibadah yang lain. Hal itu ditegaskan dengan kewajiban untuk melaksanakannya saat di rumah, bepergian, dalam kondisi aman maupun dalam ketakutan, di kala damai, bahkan saat terjadi peperangan sekalipun.

Para sahabat telah menjalani hidup dengan meyakini bahwa tidak ada suatu amal yang apabila ditinggalkan mengakibatkan kekafiran, kecuali shalat. Pemahaman seperti ini bersumber dari Al-Quran, petunjuk Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam, dan praktik amaliah beliau.

Suatu waktu, Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam, pernah menyebut perkara-perkara yang membuat beliau bersuka cita, namun beliau menyatakan bahwa, “penyejuk mataku ada di dalam shalat.” Dasarnya adalah sebuah hadis yang diriwayatkan dari Anas radhiyallahuanhu bahwa beliau bersabda:

Aku dibuat suka kepada wanita dan minyak wangi dari antara perkara dunia kalian. Namun, kesejukan mataku ada di dalam shalat. (HR. Ahmad)

Maksudnya sesuatu yang paling menggemberikan beliau shalallahu alaihi wa sallam adalah shalat.

Al-Marwazi, ketika berbicara mengenai keagungan shalat dan keutamaannya atas seluruh bentuk amalan ibadah yang lain mengatakan, “Segala puji bagi Allah subhanahu wa ta’ala yang telah menganugerahkan kepada hamba-Nya  yang beriman berupa sesuatu yang bisa mengenalkan mereka kepada-Nya, memurnikan tauhid terhadap rububiyah-Nya serta meninggalkan setiap bentuk peribadahan kepada selain-Nya. Maka, Allah subhanahu wa ta’ala mewajibkan kepada mereka beberapa ibadah fardhu.

Tidak ada kenikmatan yang lebih agung bagi orang-orang yang beriman kepada Allah subhanahu wa ta’ala melebihi kenikmatan iman dan tunduk kepada kemuliaan-Nya, khusyuk kepada keagungan-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala tidak pernah memfardhukan suatu kewajiban atas mereka, setelah kewajiban mentauhidkan-Nya dan membenarkan para utusan-Nya dengan segala risalah yang mereka bawa dari sisi-Nya, melebihi kewajiban shalat. Allah subhanahu wa ta’ala menyatakan bahwa hal itu merupakan perintah-Nya yang mesti mereka laksanakan; yang juga sudah dilaksanakan oleh para Nabi dan umat-umat terdahulu sebelum perutusan Nabi Muhammad shalallahu alaihi wa sallam.

(Mustafa Karim)

Tinggalkan Balasan