Sebelum Membaca Al Quran, Yuk Pahami Adab-Adabnya

  1. Sebelum membaca Al Quran, hendaknya seseorang membersihkan mulutnya dengan siwak atau selainnya. Siwak adalah sunnah pada saat akan shalat, tilawah, wudhu, dan khotbah.
  2. Saat membaca Al Quran, hendaknya dalam keadaan suci. Membaca Al Quran dalam keadaan berhadats diperbolehkan oleh ijmak ulama. Berbeda dengan orang yang junub. Mereka tida diperbolehkan membaca dan memegang mushaf. Sebelum membaca, orang yang junub harus mandi atau tayamum. Dalam sebuah surat yang ditulis Nabi untuk Amr bin Hazm disebutkan:

Jangan ada yang memegang mushaf, kecuali orang yang dalam keadaan suci.” (HR. Ad Darimi)

Wanita yang sedang haid atau nifas boleh membacanya. Tidak ada dalil shahih yang melarang seorang wanita untuk melakukan itu. Hukum haid dan nifas berbeda dengan junub. Haid berlangsung selama enam au tujuh hari dan selama itu seorang muslimah utuh membacanya, baik karena khawatir lupa atau karena statusnya sebagai guru atau murid. Hanya saja, saat membalik lembar demi lembar, ia harus menggunakan ranting yang suci atau semacamnya.

  1. Dianjurkan untuk membaca Al Quran di tempat yang bersih. Sebagian ulama menganjurkan untuk membaca Al Quran di masjid.
  2. Boleh membaca Al Quran dengan berdiri atau berbaring. Aisyah pernah membaca hizbnya dengan berbaring di atas tempat tidur. Meskipun begitu, lebih utama dengan menghadap kiblat. Memakai hijab juga tidak disyaratkan ketika membaca Al Quran.
  3. Tilawah diawali dengan membaca ta’awwudz, meminta perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk. Ini berdasarkan firman Allah:

فَإِذَا قَرَأۡتَ ٱلۡقُرۡءَانَ فَٱسۡتَعِذۡ بِٱللَّهِ مِنَ ٱلشَّيۡطَٰنِ ٱلرَّجِيمِ ٩٨

Apabila kamu membaca Al Quran hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk” [An-Nahl: 98]

  1. Pada saat membaca Al Quran harus disertai kekhusyukan dan tadabbur. Allah berfirman:

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ ٱلۡقُرۡءَانَ أَمۡ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقۡفَالُهَآ ٢٤

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran ataukah hati mereka terkunci.” [Muhammad: 24]

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ ٱلۡقُرۡءَانَۚ وَلَوۡ كَانَ مِنۡ عِندِ غَيۡرِ ٱللَّهِ لَوَجَدُواْ فِيهِ ٱخۡتِلَٰفٗا كَثِيرٗا ٨٢

Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” [An-Nisa: 82]

كِتَٰبٌ أَنزَلۡنَٰهُ إِلَيۡكَ مُبَٰرَكٞ لِّيَدَّبَّرُوٓاْ ءَايَٰتِهِۦ وَلِيَتَذَكَّرَ أُوْلُواْ ٱلۡأَلۡبَٰبِ ٢٩

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.” [Shad: 29]

  1. Dianjurkan mengulang-ulang ayat untuk menadaburiya. Tamim Ad Dari dahulu selalu mengulang-ulang ayat:

أَمۡ حَسِبَ ٱلَّذِينَ ٱجۡتَرَحُواْ ٱلسَّيِّ‍َٔاتِ أَن نَّجۡعَلَهُمۡ كَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ سَوَآءٗ مَّحۡيَاهُمۡ وَمَمَاتُهُمۡۚ سَآءَ مَا يَحۡكُمُونَ ٢١

“Apakah orang-orang yang membuat kejahatan itu menyangka bahwa Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, yaitu sama antara kehidupan dan kematian mereka? Amat buruklah apa yang mereka sangka itu.” [Al Jatsiyah: 21]

Sedang Asma’ juga seringkali mengulang-ulang ayat:

 فَمَنَّ ٱللَّهُ عَلَيۡنَا وَوَقَىٰنَا عَذَابَ ٱلسَّمُومِ ٢٧

“Maka Allah memberikan karunia kepada kami dan memelihara kami dari azab neraka.” [Ath Thur: 27]

  1. Menangis pada saat membaca Al Quran disyariatkan jika hal itu karena takut kepada Allah bukan karena riya’. Allah berfirman:

وَيَخِرُّونَ لِلۡأَذۡقَانِ يَبۡكُونَ وَيَزِيدُهُمۡ خُشُوعٗا۩ ١٠٩

Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu´.” [Al Isra: 109]

  1. Dianjurkan untuk membaca dengan tartil. Keharusan membaca secara tartil telah disepakati oleh para ulama berdasarkan firman Allah:

 أَوۡ زِدۡ عَلَيۡهِ وَرَتِّلِ ٱلۡقُرۡءَانَ تَرۡتِيلًا ٤

atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al Quran itu dengan perlahan-lahan.” [Al Muzzamil: 4]

  1. Apabila melewati ayat rahmat, dianjurkan untuk memohon anugerah kepada Allah dan jika melewati ayat azab, dianjurkan untuk memohon perlindungan kepada Allah dari keburukan azab. Jika melewati ayat pujian kepada Allah, dianjurkan memuji Allah dengan mengucapkan, Subhanahu wa ta’ala atau yang semisalnya.
  2. Tidak tertawa, gaduh, dan berbicara saat membaca Al Quran kecuali terpaksa. Dan hendaknya melaksanakan firman Allah:

وَإِذَا قُرِئَ ٱلۡقُرۡءَانُ فَٱسۡتَمِعُواْ لَهُۥ وَأَنصِتُواْ لَعَلَّكُمۡ تُرۡحَمُونَ ٢٠٤

“Dan apabila dibacakan Al Quran, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.” [Al A’raf: 204]

  1. Membaca Al Quran dengan qira’ah yang sudah masyhur dan mutawatir. Tidak dibenarkan membaca Al Quran dengan riwayat asing. Jika pembaca sudah membaca dengan cara salah satu qari’ maka ia harus konsisten dengannya, selama ayatnya terkait. Jika ia telah menyudahi keterkaitannya maka ia hendaknya ia membaca sesuai dengan salah satu dari tujuh cara qira’ah (qiraah sab’ah). Yang lebih utama baginya adalah konsisten dengan cara baca yang pertama dalam majelis (belajar qira’ah).
  2. Diharamkan membaca ayat secara terbalik, misalnya membaca surat Al Fatihah dari ayat terkahir ke ayat pertama.
  3. Boleh membaca Al Quran secara bersamaan dan boleh mengeraskan suara bacaan jika tidak takut riya’.
  4. Dianjurkan untuk memperbagus suara bacaan. Ini merupakan ijmak para ulama dan disebutkan dalam sebuah hadis:

“Barangsiapa yang tidak melagukan Al Quran maka ia bukan dari kami.” [HR Abu Daud]

  1. Dianjurkan untuk meminta dibacakan oleh orang yang suaranya bagus. Ibnu Mas’ud menuturkan bahwa Rasulullah bersabda kepadanya, “Bacalah Al Quran untukku!” Ibnu Mas’ud menjawab, “Wahai Rasulullah, pantaskah aku membaca untukmu padahal Al Quran itu diturunkan kepada engkau?” Beliau bersabda, “Sungguh, aku ingin mendengarnya dari orang lain.” Ibnu Mas’ud kemudian membacakan untuk beliau surat An-Nisa sampai ayat 41. Beliau bersabda, “Cukup, sekarang!” Saat Ibnu Mas’ud menoleh, ternyata kedua mata beliau mencucurkan air mata.” [HR Bukhari]
  2. Tidak membatasi pada nomor ayat atau urutan tetapi hendaknya memulai bacaan pada permulaan tema dan berhenti pada akhir tema.
  3. Makruh membaca Al Quran pada saat rukuk, sujud, dan tasyahud, namun diperbolehkan thawaf dan sa’i. Jangan membaca saat menguap dan sejenisnya. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah:

Jika seseorang di antara kalian menguap hendaknya ia tutup mulutnya dengan tangan karena setan akan masuk.” [HR Muslim]

  1. Jika pembaca Al Quran mendengar salam, ia harus menghentikan bacaan dan menjawab salam karena menjawab salam hukumnya wajib. Apabila bersin, ucapkan Alhamdulillah dan jika mendengar azan, jawab seperti lafalnya kemudian lanjutkan membaca.
  2. Disunnahkan untuk mengeraskan bacaan ketika shalat Subuh, Jum’at, Idul Fitri dan Idul Adha, dua rakaat pertama shalat Maghrib dan Isya’, serta saat Tarawih dan Witir. Hal ini disunnahkan bagi imam dan orang yang shalat munfarid (sendirian). Bacaan shalat pada siang hari adalah siriyah, sedang shalat malam adalah jahriyah.
  3. Berdasarkan jumhur ulama, sujud tilawah hukumnya sunnah, bukan wajib. Zaid bin Tsabit meriwayatkan bahwa Nabi membaca surat An Najm dan beliau tidak sujud. Syarat sujud tilawah seperti shalat nafilah. Syaratnya suci, menutup aurat, dan menghadap kiblat. Adapun bagi pendengar tidak disyaratkan mengikuti pembaca dalam hal sujud dan bangkit. Memulai sujud dari berdiri itu lebih baik daripada sujud dari duduk.
  4. Diperbolehkan berobat dan meminta kesembuhan dengan Al Quran. Apabila Nabi hendak tidur beliau membaca Al Ikhlas dan Mu’awwadzitain (Al Falaq dan An-Nas)

Oleh Dr. Said Abdul Adhim dalam buku “Nikmatnya Membaca Al Quran.”

Tinggalkan Balasan