Prosedur Riset Pasar untuk Memastikan Produk Startup Anda Sukses

Startup yang sukses karena fondasi pengembangan produk yang kuat. Namun, banyak entrepreneur menjadi korban oriented syndrome. Dengan kata lain, entrepreneur sering membuat kesalahan karena hanya fokus pada menciptakan produk sesuai keinginan mereka tanpa mempertimbangkan elemen penting lainnya. Meski produk merupakan kunci penting bisnis yang sukses, entrepreneur juga harus fokus pada logistik seperti ukuran pasar, kebutuhan konsumen, dan permintaan publik. Selain mengembangkan dan menyempurnakan produk mereka, entrepreneur juga perlu melakukan riset pasar mendalam untuk memastikan bahwa produk mereka sukses.

1. Mendifinisikan Masalah dan Menemukan Solusinya

Produk yang baik artiya memiliki kemampuan untuk memecahkan masalah tertentu. Produk ini sebenarnya sedang berusaha memecahkan masalah apa? Jika jawabannya jelas, pertanyaan berikutnya, bagaimana ini akan memecahkan tantangan tersebut?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan poin utama yang akan diajukan oleh banyak venture capitalist. Banyak entrepreneur beranggapan bahwa ururan pertanyaan-pertanyaan ini bisa dibolak-balik. Namun, tidak demikian. Tidak peduli seberapa imajinatif produknya atau seberapa cerdas solusinya, jika masalah atau kesulitan yang akan dipecahkan sang produk tidak jelas, nilai produk ini akan melemah.

Kadang, masalahnya bisa terlihat sangat sederhana, tetapi hal ini tetap saja merupakan masalah yang harus dipecahkan. iMoney adalah situs perbandingan layanan keuangan terdepan di Malaysia, dan merupakan protofolio company Fenox Venture Capital. Bagi sebagian orang, layanan keuangan merupakan hal yang membingungkan tetapi penting. Kredit rumah, khususnya, merupakan pendapatan mayoritas bank, tetapi memberikan pengalaman mengerikan pada konsumen.

iMoney mengindentifikasi masalah ini khusus dan berusaha memecahkannnya melalui sebuah situs web perbandingan yang mudah digunakan. Konsumen bisa mencari berbagai macam solusi yang dengan mudah dan memilih layanan yang paling baik bagi mereka. Cara menjelaskankan permasalahannya menginspirasi kepercayaan venture capitalist untuk berinvestasi.

Nilai lebih industri startup adalah meski solusi awal yang diberikan produk belum final, jika ada masalah yang ingin dipecahkan perusahaan tertentu, solusinya bisa dimodifikasi sesuai dengan masalahnya. Solusi bisa diubah dan disempurnakan sepanjang penerapannya, selama fokusnya masih utuh. Model ini dikenal sebagai “pivot”. “Pivot” adalah perubahan model bisnis dan pengembangan produk. Pivot berkebalian dengan kepercayaan umum, patut didorong dan bukannya diremehkan.

2. Melakukan Riset Pasar

Setelah menguraikan masalah yang dihadapi dan solusi yang mungkin bisa diterapkan, langkah berikutnya adalah melakukan riset pasar.

Berikut beberapa poin utama yang bisa dipertimbangkan pada tahap proses ini.

  • Siapa yang akan menggunakan produk tersebut?
  • Akankah produk tersebut diterima oleh penduduk lokal? Di seluruh wilayah dunia?
  • Apa halangan yang ada untuk ekspansi ke luar negeri?

Untuk menganalisis pasar secara efektif, besar kecilnya pasar harus diukur atau diteliti. Inilah Total addressable Market (TAM) sebuah startup. Dari sudut pandang venture capitalist, TAM sangat penting dalam proses pengambilan keputusan investasi.

Sebagai aturan dasarnya, para investor  di Silicon Valley mempertimbangkan investasi pada perusahaan-perusahaan yang beroperasi di pasar yang menghasilkan  US$100 juta atau lebih. Ukuran pasar menentukan penaksiran terhadap perusahaan tersebut. Jika pasar dihitung pada ukuran kurang dari US$100 juta, maka perusahaan tidak bisa dinilai lebih dari US$10 juta.

Untuk mengkonfirmasi ukuran pasar, penting memahami perbedaan antara “pasar nyata” (atau pasar langsung” yang sudah ada, dan “pasar potensial” (pasar sekitarnya atau pasar tidak langsung) yang merupakan nilai pasar yang mungkin bisa diraih.

Seperti yang digambarkan, pasar nyata sudah ada. Pasar nyata bisa ditemukan melalui beragam sumber, misalnya dari hasil riset atau internet. Walaupun begitu, karena banyak perusahaan menciptakan produk-produk berpengaruh yang belum pernah ada sebelumnya, “pasar potensial” juga harus diformulasikan.

Dalam mengukur ukuran pasar, penting untuk meneliti jenis orang yang bisa dilayani produk tersebut. Penting juga untuk membedakan antara “pasar nyata” dan “pasar potensial”.

Sebuah analisis pasar yang tepat bisa menjadi kunci sukses sebuah produk. Riset pasar akan memberi Anda wawasan area pasar apa yang belum digarap, dan dimana ada kemungkinan gangguan produk Anda. Dengan demikian, Anda bisa fokus pada target yang sudah ditentukan dari kompetisi yang ada dengan lebih efisien.

Setelah melakukan riset pasar menyeluruh pada industri E-Commerce fesyen. Diajeng Lestari mengidentifikasi celah di pasar. Tidak ada toko fesyen online yang melayani fesyen muslim secara spesifik, tempat sekitar 800 juta orang menjadi target pasar potensialnya. Berdasarkan riset pasar ini ia mendirikan HijUp.com yang merupakan platform E-Commerce yang menjual produk yang secara khusus dipilihkan untuk wanita muslim.

3. Menganalisis Kompetitor

Analisis kompetisi digunakan untuk mengonfirmasi apakah sebuah produk baru cukup berpengaruh atau tidak, atau apakah produk tersebut serupa dengan produk perusahaan lain. Sebagai tambahan, hal ini juga bisa membantu untuk menemukan calon akuisisi atau rekanan potensial.

Berikut ini beberapa pertanyaan yang bisa dipertimbangkan selama melakukan analisis kompetitor.

  • Sudah adakah produk serupa di pasar?
  • Siapakah kompetitornya?
  • Apa yang membuat produk saya berbeda dengan kompetitornya?
  • Siapakah rekanan potensial saya?
  • Siapakah calon akuisisi potensial saya?

Penting untuk diingat bahwa berada dalam industri yang sama tidak berarti dalam pasar yang sama pula. Analisis kompetitif bisa menentukan perbedaan pasar yang bisa digarap. Sebagai contoh industri SNS (Social Networking Sites) berbeda-beda dalam hal berikut ini.

  • Facebook: berhubungan dengan teman.
  • Twitter: menciptakan koneksi dengan pengguna yang mungkin bisa teman dekat.
  • LinkedIn: mengurus koneksi bisnis atau profesional.

4. Mempertimbangkan Keuntungan

Selanjutnya, inilah waktu untuk memikirkan keuntungan. Siapa yang akan membayar produk ini pada akhirnya? Berapa banyak yang mereka mau bayar? Inilah yang disebut monetization.

Bagi banyak perusahaan, sebagian dari motivasi untuk memulai startup adalah mendapatkan keuntungan. Akibatnya, entrepreneur harus menciptakan rencana bisnis untuk meningkatkan keuntungan jangka pendek dan jangka panjang.

Berikut beberapa poin yang bisa dipertimbangkan saat menciptakan model keuntungan:

  • Haruskah produk saya dijual atau dilisensikan kepada pengguna?
  • Haruskah produk saya dilisensikan pada perusahaan lain?
  • Haruskah produk saya menggunakan model freemium?
  • Mungkinkah untuk mendapatkan keuntungan dengan menetaokan biaya, seperti biaya iklan dari perusahaan lain?

Banyak startup mulai menggunakan model  freemium sebagai model keuntungan mereka. Model freemium memungkinkan sebuah perusahaan  menyediakan produk dasar mereka secara Cuma-Cuma sambil menetapkan biaya untuk produk premium dengan fitur khusus. Perusahaan seperti Evernote dan Dropbox menggunakan metode ini.

Kebanyakan mobile game yang ada di pasar saat ini juga menggunakan sistem freemium. Sebagai contoh, beberapa mobile game hadir dengan iklan yang melekat di dalamnya. Baru ketika pengguna membeli versi premium, iklan tersebut akan hilang.

Banyak startup pada masa lalu sukses menerapkan model freemium dalam rencana bisnis mereka. Ini merupakan model yang populer bagi layanan jejaring sosial (SNS). Sebagian besar SNS gratis untuk penggunanya. Pada tingkatan tertentu, SNS semacam ini menjadi platform yang menarik untuk iklan. Menggunakan iklan menjadi cara mudah bagi SNS untuk menghasilkan keuntungan.

Source: Startup Pedia (Anis Uzzaman)

Tinggalkan Balasan