Pendekatan Entreprenuer Menghadapi Perubahan di Era Globalisasi Digital

Semakin berkembang suatu negara, masyarakat, dan sosial, perekonomian juga ikut mengalami perubahan yang hampir tanpa henti. Perubahan itu biasanya memberi dampak cukup besar pada orang-orang dan lingkungan yang ada di dalamnya. Ketika tren ponsel polyponic mulai ditinggalkan akibat kemunculan Blackberry, Nokia yang terlalu percaya diri dengan produknya tetap bertahan dengan meluncurkan jenis produk yang sama. Akibatnya, Nokia tertinggal dan angka penjualannya pun terjun bebas.

Lalu pada saat smartphone lahir dan mulai digemari para pengguna ponsel, Blackberry yang merasa yakin pelanggan tidak akan meninggalkannya juga memilih tidak mengikuti perubahan yang terjadi. Faktanya, kemudahan layar sentuh dan fitur-fitur pendukung yang ada di dalam smartphone membuat ponsel pintar itu jauh lebih laris dibandingkan dengan Blackberry.

Intinya, ketika terjadi perubahan, seharusnya bisnis apa pun terutama bisnis yang masih dalam bidang yang sama—ikut serta dalam perubahan tersebut. Jika tidak mau berubah, maka ia akan tertinggal. Akibat fatalnya, bisnis bisa mengalami kebangkrutan karena tidak ada lagi konsumen yang mau membeli produknya.

Ada banyak alasan yang menjadi penyebab individu pemilik bisnis, tim kerja atau kelompok, bahkan manajemen di dalam perusahaan, menolak melakukan perubahan dalam bisnis yang sedang dijalani. Alasan itu bisa berupa adanya pertimbangan mengenai jaminan dan manfaat yang bisa didapat, adanya ke penting an perorangan atau kelompok, pertimbangan biaya yang harus di keluar kan untuk me lakukan perubahan, ide perubah an yang dianggap tidak akan bisa direalisasikan, sulit mengubah tradisi atau kebiasaan, stres yang berlebihan, takut gagal, asumsi-asumsi negatif, dan lain sebagainya.

Hambatan yang Membuat Entrepreneur Enggan Melakukan Perubahan

  • Kebiasaan, tradisi, aturan, pola-pola yang sulit diubah.
  • Stres yang berlebihan.
  • Kepentingan perorangan/kelompok.
  • Takut gagal.
  • Keyakinan yang salah.
  • Asumsi-asumsi negatif dan tak berdasar.
  • Terlalu mengandalkan logika.
Baca juga  4 Hal Yang Perlu Dilakukan Entrepreneur Untuk Menumbuhkan Keseimbangan Bisnis Di Dalam Masyarakat

Jika bisnis yang saat ini kita jalankan tampak tidak lagi mengalami perkembangan ke arah yang lebih baik, stagnan, penjualan terus menurun, dan kondisi buruk lainnya akibat perubahan yang terjadi di sekitar, bergegaslah untuk mencari solusi sehingga masalah ini bisa segera diatasi. Semakin lama kita melakukan penundaan, kita akan semakin tertinggal dan masalah yang sebelumnya masih bisa diatasi menjadi sulit untuk dicarikan jalan keluarnya.

Jadi, apa yang harus dilakukan untuk menyelesaikan masalah keengganan berperan  serta dalam perubahan yang sedang terjadi?

Sebagai entrepreneur, banyak bisnis yang tidak dijalankan seorang diri. Meski kita adalah pemilik utama bisnis tersebut, pasti kita juga memiliki partner kerja—yang biasanya disebut co-founder—tim kerja yang terdiri dari sekelompok orang, mau pun karyawan. Perubahan yang akan dilakukan sebaiknya tetap melibatkan orang-orang tersebut. Untuk itu, coba lakukan pendekatan dengan cara berikut.

1. Pendekatan Dengan Asas Kebersamaan

Karena menyadari kalau kemajuan dan kesuksesan bisnis adalah hasil kerja dari semua orang yang terlibat di dalam bisnis tersebut maka ketika hendak melakukan perubahan, kita bisa melibatkan semua orang untuk berperan serta dalam perubahan tersebut. Dengan kata lain, penyelesaian masalah dan penemuan solusi terbaik dilakukan secara bersama-sama, berdiskusi, bertukar-pikiran, dan akhirnya mengambil keputusan bersama.

Dalam melakukan pendekatan ini, kita juga bisa mengajukan pertanyaan-pertanyaan berkaitan dengan perubahan yang kita lakukan dan mengumpulkan masukan, saran, maupun kritik, yang kemudian akan ditarik kesimpulan (keputusan) secara ber sama-sama sebagai solusi terbaik. Pertanyaan-pertanyaan tersebut, misalnya sebagai berikut.

  • Perlu/tidaknya melakukan perubahan?
  • Apakah sanggup berkomitmen untuk melakukannya secara bersama-sama jika memang perubahan perlu dilakukan?
  • Jika perubahan perlu dilakukan, apa yang perlu diubah? Mengapa?
  • Siapa yang akan melakukan perubahan, mulai dari peren cana an hingga pelaksanaan perubahan?
  • Kapan perubahan akan dilakukan?
  • Bagaimana caranya? Apakah ada risiko? Pertimbangan apa lagi yang perlu dipikirkan? Strategi apa yang akan digunakan?
  • Ajukan pertanyaan lain yang mendukung terjadinya perubahan yang sesuai harapan.
Baca juga  Trik Penulisan Curriculum Vitae (CV) yang Menarik

2. Pendekatan Dengan Pendelegasian/Penugasan.

Pendekatan yang satu ini dilakukan dengan menunjuk seseorang atau sekelompok orang untuk melakukan perubahan, mulai dari ide-ide yang akan diwujudkan demi terlaksananya perubahan yang diharapkan, penyusunan rencana dan strategi, pelaksanaan, termasuk meng evaluasi hasilnya. Kita sebagai pe milik bisnis hanya tinggal menunggu hasilnya dan memantau dari jauh saja.

3. Pendekatan Dengan Memanfaatkan Kekuasaan.

Jika dua tipe pendekatan sebelumnya tidak bisa dilakukan akibat adanya penolakan terhadap perubahan yang akan dilakukan dari pihak-pihak yang terlibat dalam operasional bisnis, maka pendekatan terakhir ini bisa diterapkan. Kita sebagai pemilik bisnis memanfaatkan kekuasaan kita untuk menerapkan perubahan tanpa terkecuali dan mengabaikan penolakan yang ada. Intinya, siapa yang mau terlibat akan dilibatkan dalam perubahan dan tetap berada dalam perusahaan. Sementara yang tidak berkenan memiliki dua pilihan, tetap berada di perusahaan dengan konsekuensi ikut melakukan perubahan atau dibebaskan meninggalkan perusahaan.

Sumber: 101 Problem Solving for Entrepreneur

Bagikan Artikel

Tinggalkan Balasan