Para Miliarder Meyakini Uang Dapat Melakukan Segala Sesuatu Termasuk Berderma

Kutipan mencintai uang adalah akar segala kejahatan sering diartikan bahwa uanglah yang menjadi sumber kejahatan. Karena uang, seseorang menjadi jahat. Karena uang, seseorang melakukan korupsi. Karena uang pula, seseorang rela mengorbankan sesamanya. Padahal, uang adalah benda mati. Mungkinkan benda mati mengubah perilaku seseorang?

Kutipan tersebut menyatakan, “mencintai uang” adalah akar segala kejahatan. Kata “mencintai” adalah kata kerja. Artinya, setiap kata kerja memiliki subjek sebagai pelakunya. Dengan kata lain, “mencintai uang” justru menandakan bahwa manusia tetap menjadi aktor utama. Bagaimanapun, uang adalah alat tukar dan tidak mungkin bisa mengubah perangai manusia. Pemeran utamanya adalah manusia. Apakah dengan uang manusia menjadi jahat, ataukah dengan uang manusia menjadi baik, kedua hal itu sangat bergantung pada pemiliknya.

Seorang miliarder memang punya watak ambisius untuk memiliki uang banyak, tetapi bukan berarti ia orang yang jahat. Sebaliknya, orang biasa yang hidup dalam kemiskinan justru berpotensi besar melakukan berbagai jenis kejahatan hanya demi mendapatkan uang.

Coba perhatikan di sekitar Anda. Kebiasaan berderma justru dengan mudah dilakukan oleh orang yang punya uang banyak. Jangkauan derma dari miliarder pastilah lebih luas dari derma yang dilakukan oleh orang biasa. Sekarang ini sudah menjadi pengetahuan umum tentang solidaritas sosial perusahaan. Suatu sektor usaha melakukan pertanggungjawaban sosial melalui program-program Community Development atau program-program Corporate Social Responsibility.

Dampak program semacam ini tentu lebih besar dibandingkan dengan derma orang per orang. Tentu saja Community Development/CSR sangat sulit dilakukan oleh perseorangan. Sekalipun demikian, memang tidak dapat dipungkiri adanya perilaku miliarder yang bermental cinta uang

melebihi sesamanya. Mereka berpikir mementingkan diri sendiri, seperti mapan secara ekonomi, namun perilakunya menghambat kesejahteraan pekerja, melakukan korupsi, senang melakukan suap, dan lain sebagainya. Sementara itu, tidak sedikit miliarder yang melakukan derma, memperhatikan kesejahteraan karyawan, dan sebagainya.

Baca juga  Strategi Diferensiasi Produk Menghadapi Produk Pesaing

Uang memang tidak dapat menjamin kebahagiaan batin seseorang. Miliarder-miliarder juga memahami hal ini. Hanya saja, para miliarder ini mengerti bahwa dengan memiliki uang maka hidup akan jadi lebih mudah. Para miliarder ini meyakini bahwa dengan uang mereka dapat melakukan segala sesuatu yang mereka mau, termasuk berderma.

“Para miliarder meyakini bahwa, dengan uang, mereka dapat melakukan segala sesuatu yang mereka mau, termasuk berderma.”

Berbeda halnya dengan orang biasa yang kebanyakan berupaya membatasi diri dengan berbagai keyakinan yang keliru tentang uang. Satu hal penting yang perlu diingat, menyalahkan uang sebagai faktor penyebab berubahnya perilaku manusia menjadi rakus bukanlah hal yang diyakini para miliarder. Keyakinan seperti ini ada pada orang biasa yang takut dan tidak siap untuk menjadi kaya raya.

Dengan menyalahkan uang, orang biasa akan tetap berada dalam upaya bertahan hidup di tengah dunia yang kaya raya ini. Sementara, para miliarder malah terus menjaga keyakinan bahwa kekayaan mereka dapat melayani seluruh keperluan dan keinginan mereka, dan kekayaan itu pulalah yang dapat menyebabkan mereka menjadi semakin kaya.

Jadi, pertanyaannya sederhana saja, apakah Anda masih menyalahkan uang sebagai penyebab orang menjadi rakus dan tak bermoral? Jika masih berpikir demikian, yakinlah bahwa Anda tidak akan pernah menjadi kaya.

Sumber: 99 Perbedaan Cara Berpikir Miliarder VS Orang Biasa

Bagikan Artikel

Tinggalkan Balasan