Para Miliarder Memahami Bahwa Berpikir Kreatif Akan Menghasilkan Bayaran Besar

Orang biasa beranggapan bahwa orang yang mengejar kekayaan adalah mereka yang mementingkan diri sendiri, tak bermoral, dan berpikir dangkal. Sementara, kemiskinan dan hidup dalam keadaan keuangan yang pas-pasan adalah mulia. Miliarder justru berpikir bahwa dirinya orang jujur dan berpikir strategis, tanpa harus menyembunyikan hasratnya untuk membangun kekuatan keuangan mereka.

Para miliarder ini senantiasa blak-blakan dan lurus dalam pendekatan berpikir. Mereka tidak menggunakan cara-cara kotor yang mempermainkan keyakinan orang dengan menjual hal-hal yang terlihat suci, namun ternyata manipulatif. Memotivasi orang lain untuk memberikan hartanya kepada hal-hal yang agamawi tidak ada dalam kamus berpikir para miliarder. Cara berpikir yang blak-blakan dan lurus inilah yang mendorong para miliarder untuk memusatkan perhatian sepenuhnya pada tujuan mereka dan bergerak maju dengan cepat. Jadi, di saat orang-orang biasa mencemooh para miliarder dan bangga dengan keadaan mereka yang terjebak dalam utang, para miliarder tersebut malah tidak menghiraukan segala bentuk penghinaan itu. Mereka lebih memilih meneruskan apa yang mereka lakukan demi mencapai kemerdekaan finansial dan kesejahteraan.

Siapa bilang orang kaya tidak menghormati pendidikan formal? Mereka menghargai pendidikan formal, tetapi tidak selalu menganggap bahwa pendidikan adalah syarat menuju kekayaan. Berbeda dengan orang biasa yang beranggapan bahwa pendidikan formal adalah jalan menuju kekayaan.

Orang-orang biasa percaya bahwa dengan meraih gelar Master ataupun Doktor, mereka bisa kaya. Pada akhirnya, mereka terjebak dalam pola pikir yang linear seperti ini dan membatasi pemikiran mereka akan peluang-peluang lain yang bisa saja muncul dalam kehidupan mereka. Kebanyakan dari mereka bahkan berpikir bahwa mereka tidak bisa kaya karena hanya lulus SMP, SMA, atau hanya bergelar sarjana. Faktanya, banyak sekali orang kaya yang tidak lulus kuliah. Larry Ellison, Mark Zuckerberg, Bill Gates, Ralph Lauren, Michael Dell, Roman Abramovich, dan banyak lagi lainnya, adalah contoh-contoh miliarder kelas dunia yang tidak lulus kuliah.

Jangan pula Anda berpikir bahwa sekolah itu tidak penting. Justru sebaliknya, sekolah itu penting. Rata-rata pekerja bergelar sarjana dan biasanya memiliki pendapatan rutin yang lebih tinggi dari yang tidak bergelar sarjana. Sekolah memang tidak memberi jaminan kesuksesan, tetapi harap diingat bahwa perusahaan-perusahaan besar selalu mencari pekerja dengan standar pendidikan yang tinggi. Orang kaya memang banyak yang tidak lulus kuliah, tetapi prasyarat pola pikir mereka yang menjadikan kaya.

Pendidikan formal mengajarkan orang untuk berpikir sistematis dan linear dalam dunia bisnis, namun pada praktiknya pemikiran ideal tidak selalu terjadi. Itulah sebabnya, para miliarder menolak berpikir linear supaya mereka semakin kreatif. Di benak mereka, 1 + 1 tidak harus selalu 2, melainkan bisa saja 4, 5, dan seterusnya. Mereka menggunakan kemampuan berpikir yang mereka miliki demi menemukan solusi lain yang dapat semakin mengembangkan diri mereka agar bisa bersaing dengan para pesaing. Bisa disimpulkan, para miliarder berpendapat bahwa kekayaan didapat dengan cara berpikir yang tanpa batas.

Selain itu, para miliarder meyakini bahwa rahasia kekayaan mereka justru terletak pada kemampuan untuk melihat berbagai persoalan dengan pendekatan-pendekatan yang sederhana. Berbeda dengan orang biasa yang cenderung berpikir dengan cara yang rumit sehingga persoalan apa pun menjadi terlihat rumit. Ketika orang kaya memandang suatu persoalan dengan cara sederhana, hal ini memungkinkan mereka untuk menyelesaikan permasalahannya. Cara-cara akademik dalam menuntaskan persoalan tidak akan dilirik oleh orang-orang kaya. Intinya, mereka tidak tertarik pada proses, melainkan lebih tertarik pada hasil akhirnya. Selesaikan masalah, terima pembayaran, ulangi prosesnya sampai meraih kejayaan, titik, habis perkara. Pandangan seperti inilah yang sering secara keliru dikatakan sebagai “beruntung” oleh orang-orang biasa. Padahal, para miliarder tersebut hanya fokus pada apa yang mereka sukai. Tidak rumit.

“Para miliarder meyakini bahwa rahasia kekayaan mereka justru terletak pada kemampuan untuk melihat berbagai persoalan dengan pendekatan-pendekatan yang sederhana.”

Orang-orang biasa banyak juga yang meyakini bahwa dengan bekerja keras maka mereka akan memperoleh banyak uang. Cara berpikir linear seperti ini selalu mengidentikkan pekerjaan dan kerja keras dengan kesuksesan finansial. Jika hanya bekerja pada orang lain saja, maka sulit juga menjadi kaya.

Cara seperti ini sudah lama. Hanya segelintir orang yang berhasil menjadi kaya raya dari mengandalkan penghasilan yang didapat dengan bekerja pada orang lain. Kebanyakan miliarder, sekalipun awalnya bekerja pada orang lain, justru menjadi kaya karena mereka berani mengambil keputusan untuk memulai usaha bisnis, lalu fokus membesarkan bisnisnya.

Para miliarder memahami bahwa berpikir kreatif akan menghasilkan bayaran besar. Cara berpikir independen dan kreatif adalah harta seseorang yang tidak ternilai harganya. Para miliarder memahami bahwa berpikir kreatif akan menghasilkan bayaran besar.  Contohlah Mark Zuckerberg. Ia tidak bekerja pada orang lain. Ia berpikir kreatif dan menjadi kaya karena pemikirannya. Atau Do Won Chan, ia bekerja siang malam di tiga tempat. Lalu, ia berani memulai membuka toko hingga akhirnya sukses seperti sekarang. Pengusaha asal China, Li Ka Shin, juga demikian. Dari pekerja di pabrik tekstil, ia berani membeli saham-saham perusahaan tekstil dengan cara menyisihkan gajinya yang kecil. Sekarang, ia sudah kaya raya.

Orang-orang biasa selalu berpikir cara menyekolahkan anak-anak mereka ke sekolah tinggi. Mereka juga berpikir untuk pensiun saat tiba usia tua. Sementara, para miliarder berpikir mendirikan kerajaan bisnis, hidup dalam kelimpahan, kemudian mendonasikan sebagian harta mereka pada siapa pun atau lembaga sosial yang mereka kehendaki.

Saat masih kanak-kanak, kita sering mendapatkan nasihat bahwa dengan sekolah yang baik kita akan sukses. Para miliarder mempunyai cara berpikir yang berbeda. Mereka berpendapat bahwa dengan berpikir kreatif maka mereka akan menjadi sukses. Tak peduli mereka memulainya dari bekerja pada orang lain, lalu menyisihkan sebagian penghasilan untuk mulai membangun kerajaan bisnis; atau dengan cara lain. Yang pasti, dengan berpikir kreatif maka kesuksesan akan diraih. Dalam hal ini bisa disimpulkan bahwa kesempatan kita untuk menjadi kaya sebenarnya sama dengan kesempatan yang dimiliki para miliarder tersebut. Masalah utamanya, apakah kita mau melatih cara berpikir kita agar menjadi kreatif?

Source: 99 Perbedaan Cara Berpikir Miliarder VS Orang Biasa

Tinggalkan Balasan