Pahami Penyebab dan Gejala Difteri serta Pengobatannya

Indonesia sudah menyatakan kondisi luar biasa atau KLB untuk wabah difteri, infeksi bakteri yang sangat membahayakan jiwa. Umumnya menyerang selaput lendir pada hidung, tenggorokan, kadang-kadang kulit, dan sangat menular. Tapi penyakit ini dapat dicegah dengan imunisasi.

Imunisasi difteri yang dikombinasikan dengan pertusis (batuk rejan) dan tetanus disebut dengan  DPT (Difteri,  Pertusis, Tetanus). Sebelum usia 1 tahun anak biasanya mendapat tiga kali suntikan DPT.

Bakteri difteri menghasilkan racun yang akan membunuh sel-sel sehat dalam tenggorokan. Sel-sel yang mati ini akan membenetuk membran (lapisan tipis) abu-abu pada tenggorokan. Di samping itu, racun yang dihasilkan juga berpotensi menyebar dalam aliran darah dan merusak jantung, ginjal, serta sistem saraf.

Penyebab

Bakteri Corynecbacterium diphteria menular dengan beberapa cara:

  1. Percikan ludahpenderita di udara saat penderita bersin atau batuk, paling sering terjadi.
  2. Barang-barang yang sudah terkontaminasi oleh bakteri, contohnya mainan atau handuk.
  3. Sentuhan langsung pada luka borok (ulkus) akibat difteri di kulit pertama yang tinggal di lingkungan padat dan kurang bersih.

Gejala-gejala

Masa inkubasi atau masa tenggang sejak bakteri masuk ke tubuh sampai timbul gejala kira-kira membutuhkan waktu 2 hingga 5 hari, dimulai dengan:

  1. Demam dan menggigil, sakit tenggorokan, dan suara serak, sulit bernapas atau napas yang cepat. Lapisan tebal atau membran berwarna abu-abu menutup tenggorokan dan amandel.
  2. Pembengkakan kelenjar limpa pada leher, lemas, dan lelah.
  3. Pilek, awalnya cair, lama-kelamaan menjadi kental dan terkadang bercampur darah.
  4. Difteri yang menyerang kulit menyebabkan luka seperti borok (ulkus) yang akan sembuh dalam beberapa bulan tapi biasanya meninggalkan bekas di kulit.

Diagnosis dan Pengobatan Difteri

Dokter segera memulai pengobatan pada seseorang yang terduga terjangkit bahkan sebelum ada hasil laboratorium. Pasien dianjurkan untuk dirawat dalm ruang isolasi  di rumah sakit, dengan pengobatan melalui antibiotik dan antitoksin. Sebagian besar penderia dapat keluar dan ruang isolasi  setelah mengonsumsi antibiotik selama 2 hari namum tetap harus menyelesaikan konsumsi antibiotik selama 2 minggu. Penderita yang sulit bernapas karena hambatan membran abu-abu dalam tenggorokan akan dianjurkan untuk menjalani proses pengangkatan membran. Penderita difteri dengan gejala ulkus pada kulit dianjurkan untuk membersihkan bisul dengan sabun dan air secara saksama.

Komplikasi

Jika tidak dengan cepat dan tepat, racun bakteri difteri dapat memicu beberapa komplikasi yang berpotensi mengancam jiwa. Beberapa diantaranya meliputi:

  1. Gangguan pernapasan karena partikel-partikel membran di tenggorokan daoat hancur dan masuk ke paru-paru, berpotensi memicu reaksi peradangan sehingga mengganggu fungsi paru-paru.
  2. Kerusakan jantung karena racun diferi masuk ke jantung dan menyebabkan peradangan otot jantung.
  3. Kerusakan saraf karena racun difteri juga dapat menyebabkan kelumpuhan pada diafragma membuat pasien tidak bernapas, dapat terjadi tiba-tiba pada awal muncul gejala atau berminggu-minggu setelah infeksi sembuh. Karena itu, penderita difteri pada anak-anak yang mengalami komplikasi dianjurkan untuk tetap diawasi di rumah sakit.
  4. Difteri hipertoksik, sebagai bentuk difteri yang sangat parah dengan gejala yang sama namun disertai pendarahan yang parah dan gagal ginjal.

Pencegahan dengan Vaksinasi

Langkah pencegahan paling efektif adalah vaksin. Vaksin DPT termasuk imunisasi wajib bagi anak-anak Indonesia, dilakukan 5 kali pada saat anak berusia 2 bulan, 3 bulan, 4 bulan, satu setengah tahun, dan lima tahun. Selanjutnya dapat diberikan booster dengan vaksin sejenis (TDap/TD) usia 10 tahun dan 18 tahun. Vaksin TD dapat diulang setiap 10 tahun untuk memberikan perlindungan optimal. Meski orang yang terinfeksi difteri belum tentu menunjukkan tanda dan gejala, dia tetap mampu menulari sampai dengan 6 minggu setelah infeksi awal.

Kapan Vaksin untuk Dewasa?

Vaksin difteri untuk orang dewasa menggunakan vaksin Tetanus dan Difteri (TD) atau Tetanus, Difteri, dan aselular pertusis (TDap), yaitu vaksin DPT dengan reduksi antigen dan pertusis. Bedanya adalah TDap menggunakan komponen pertusis aselular, artinya bakteri pertusis dibuat tidak aktif sehingga jarang menyebabkan demam.

Vaksin akan semakin efektif bila diberikan setiap 10 tahun selama seumur hidup karena vaksin hanya mampu memberikan perlindungan selama 10 ahun, sehingga setelah 10 tahun perlu diberikan boooster atau penguat. Menurut Center for Disease Control pemberian vaksin difteri diberikan pada usia 19-64 tahun sebanyak satu dosis. Berikut jadwal pemberian vaksin difteri bagi orang dewasa:

  1. Orang dewasa yang belum pernah mendapatkan vaksin TD atau belum lengkap status imunisasinya, diberi 1 dosis vaksin TDap diikuti vaksin TD sebagai penguat setiap 10 tahun.
  2. Orang dewasa yang sama sekali tidak diimunisisasi diberi dua dosis pertama dengan jarak 4 minngu dan dosis ketiga diberikan setelah 6 sampai 12 bulan dari dosisi kedua.
  3. Orang dewasa yang belum menyelesaikan tiga dosis vaksin TD seri primer diberi sisa dosis yang belum dipenuhi.

Indonesia memang bellum memiliki program imunisasi difteri untuk dewasa. Ini sebabnya Anda perlu memastikan apakah status imunisasi Anda sudah lengkap atau belum. Jika dirasa belum, segeralah vaksin difteri. Bila terdapat salah satu orang termasuk terduga difteri di lingkungan Anda maka harus segera meminta divaksinasi uang meski sudah pernah divaksin saat kecil. Ini bertujuan untuk menambah kekebalan tubuh Anda dari penularan penyakit difteri.

Source: dr. Hardja Widjaja (Info kita)

Tinggalkan Balasan