Meninggalkan Pacaran dan Menjomblo Untuk Menghafal Al Quran itu Luar Biasa

Kenapa yang pacaran itu susah diajak menghafal Quran, salah satunya yang punya peluang banyak untuk menghafal Quran adalah para jomblo-ers karena syarat yang mesti dipenuhi kalau pengin menghafal Quran itu harus ninggalin maksiat. Hafalan Quran sendiri memang sensitif dengan sesuatu yang kotor karena memang Quran itu kitab suci sehingga perlakuan terhadapnya pun harus perlakuan yang baik.

Yang dimaksud dengan hanya jomblo yang bisa bukan berarti selain jomblo enggak bisa. Dalam konteks ini, kita sedang membandingkan antara yang konsisten men-jomblo tanpa pacaran dengan mereka yang menodai masa-masa jomblo-nya dengan pacaran sehingga kesimpulannya, hanya jomblo yang menghindari diri dari pacaran lah yang bisa.

Berikut ini adalah beberapa hal yang menjadi penguat mengapa jomblo mempunyai kesempatan besar untuk bisa menghafal Quran.

Pertama

Para jomblo-ers itu biasanya mempunyai banyak waktu luang. Banyak di antara mereka yang tiap hari kerjaannya tidur dan makan doang, walau enggak semua sih (hanya sebagian oknum jomblo). Belum lagi kalau libur kuliah. Apalagi kalau kuliahnya cuma Sabtu-Minggu. Waktu tersebut kalau dipakai fokus untuk menghafal Quran dalam waktu empat bulan aja, sebenarnya sudah bisa selesai tuh 30 juz. Itu pun kalau menghafal tiap harinya seperempat juz. Kalau bisa setengah juz sehari, bisa selesai dua bulan doang tuh. Dahsyat kan.

Kedua

Kaum jomblo itu enggak terlalu banyak mikirin hal-hal yang enggak penting seperti yang dipikirin oleh mereka yang pacaran sehingga mereka bisa fokus menghafal Quran. Seorang jomblo enggak akan ngerasain takut pacarnya diambil orang. Lah, memang enggak punya pacar.

Ketiga

Jomblo itu biasanya enggak terlalu sering galau dan merana dengan dosis yang tinggi. Walaupun kadang ngerasain yang namanya ngenes dan gelisah, tapi dosisnya masih terbilang standar lah. Kamu harus tahu, kalau yang namanya orang pacaran terus ngerasain galau karena dikhianatin pacarnya itu kadang galaunya enggak sembuh sampai berhari-hari, bahkan berbulan-bulan. Apalagi kalau enggak bisa move on, wah bisa galau abadi tuh.

Keempat

Jomblo itu sebenarnya butuh kegiatan. Terkadang, sang jomblo akan merasakan titik kejenuhan kalau masa jomblo-nya cuma dihabiskan buat tidur doang. Mau ngajakin teman main futsal, eh teman-temannya pada pergi sama pacarnya masing-masing. Pengin main ke toko buku, eh ternyata yang ke toko buku itu kebanyakan mereka yang menggandeng pasangan sambil mesra-mesraan. Mau main ke taman, banyak yang mojok. Akhirnya, enggak sedikit yang ngabisin waktu cuma buat di kamar doang, paling-paling curhat di laptop. Jadi, mereka biasanya akan senang kalau ada yang ngajak berkegiatan.

Putuskan atau Halalkan

Putuskan atau Halalkan via pexels.com

“Buat kamu yang pacaran terus pengin hafal Quran, apa yang harus dilakukan?”

Yang harus dilakukan pertama kali adalah kamu harus memilih satu di antara dua pilihan. Putuskan atau halalkan. Lebih baik galau sampai tiga bulan karena putus sama pacar daripada enggak bisa ngafalin Quran seumur hidup karena pacaran. Tapi tentu, kita harus memberikan pengertian kepada sang pacar bahwa kita pengin nempuh jalan hidup yang terbaik. Katakan padanya,

“Kalau cintamu bener-bener tulus, mohon tung gu sampai aku selesai menghafal Quran, kemudian baru kita menjalin ikatan yang halal melalui pernikahan.”

Pacaran dan hafalan quran itu bagai air dan api, enggak bisa menyatu.

Kalau mau lancar menghafal Quran, berhasil sampai beres 30 juz, mau enggak mau, kamu harus menjauhi maksiat. Mereka yang sudah mempunyai hafalan Quran, bahkan mungkin sudah selesai menghafal Quran 30 juz, terus akhirnya pacaran, hafalannya biasanya jadi enggak karuan.

Siapa pun kita sebenarnya mempunyai kesempatan untuk bisa menjadi hafiz Quran, penghafal Quran, penjaga kemurnian Quran. Jaminan mudahnya Quran untuk dihafal pun sebenarnya sama sekali tidak dikhususkan untuk orang-orang tertentu saja. Jaminan-Nya bahkan berlaku untuk siapa pun yang penting ada tekad dan kemauan, serta yang enggak kalah pentingnya adalah bersedia meninggalkan perilaku maksiat seperti pacaran ini. Kenapa? Karena bisa saja jaminan Allah itu tidak sampai kepada kita karena terhalang oleh maksiat yang enggak pernah kita tinggalkan.

Bagi yang sudah siap nikah, enggak usah nunggu lama-lama. Insya Allah setelah nikah juga masih bisa menghafal Quran sama pasangan. Bahkan, Insya Allah akan lebih indah.

Khusus buat yang pacaran tapi belum berani atau belum siap nikah,

jalan yang paling aman adalah “putus”. Simpel, kan? Tapi, praktiknya memang enggak semudah teorinya. Putus yang penulis sebut-sebut di sini artinya kembali ke jalan yang lurus.

Ada beberapa tips kalau kita mau putus alias berhenti dari pacaran.

Pertama,

apa pun alasannya, kita harus tetap jujur sama pacar kita. Karena kalau bohong, sewaktu-waktu bisa saja kebohongan itu terbongkar dan memunculkan masalah yang tidak diinginkan.

Kedua,

lebih baik katakan langsung di hadapannya, jangan melalui telepon, SMS, Facebook, apalagi lewat surat. Biar apa? Biar enggak terjadi yang namanya salah paham sehingga menimbulkan kebencian.

Ketiga,

kalau memang perlu, silakan ajak sahabat kita untuk menguatkan alasan yang kita kemukakan dan mencegah terjadinya sesuatu yang tidak diinginkan.

Keempat,

tetap ucapkan kata-kata yang baik, yaitu kata-kata yang membuat pacar kita semakin sadar, sekaligus menerima apa yang kita sampaikan dengan baik.

Kelima,

kita tetap harus mencari situasi dan kondisi yang memang cocok. Jangan sampai menyampaikan maksud putus di depan umum.

Tinggalkan Balasan