Kunci Sukses Doamu Dikabulkan Dalam Kondisi Apapun

Setelah sekian lama kamu beribadah dan banyak berdoa untuk meminta hajat kepada Allah Subhanahu wa ta’ala tetapi belum merasa dikabulkan boleh jadi ada beberapa fakor yang menghalangi keterkabulan doa. Apa saja sih yang menghalangi doa kita tidak dikabulkan, diantaranya adalah sebagai berikut.

  1. Jika makanan yang disantap, atau minuman yang diteguk, atau pakaian yang dikenakannya, berasal dari barang yang haram.

“Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahuanhu bahwa ia berkata: Rasulullah shalallahualaihi wa sallam telah bersabda,”Sesungguhnya Allah itu Thayyib (Bersih dan Baik). Dan Dia tidak menerima kecuali yang thayyib. Sesungguhnya Allah memerintahkan kepada kaum mukminin dengan apa yang juga diperintahkan kepada para Rasul.

 ‘Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.’ (Al-Mu’minum [23]: 51).

Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah.’ (Al-Baqarah [2]: 172).

Kemudian beliau menyebutkan perihal seorang lelaki yang menempuh perjalanan jauh, dengan rambut yang kusut dan tubuh berdebu, yang menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya berdoa, ‘Ya Rabbi, ya Rabbi…’ sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan ia dikenyangkan dengan hal-hal yang haram. Maka, bagaimana mungkin orang seperti itu akan dikabulkan doanya?” (HR. Muslim)

  1. Tergesa-gesa dan kemudian meninggalkan doa.

“Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahuanhu bahwa Rasulullah shalallhualaihi wa sallam bersabda,’Masing-masing dari kalian akan dikabulkan doanya selagi ia tidak tergesa-gesa, yaitu mengatakan,’Aku telah memanjatkan doa, namun tidak juga dikabulkan’.” (HR. Bukhari dan Muslim)

  1. Meninggalkan kewajiban yang diperintahkan atau diwajibkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

Diriwayatkan dari Hudzaifah bin Yaman radhiyallahuanhu dari Nabi shalallhualaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: ‘Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, kalian memerintahkan kemakrufan dan mencegah perbuatan munkar, atau hampir-hampir saja Allah mengirimkan hukuman dari-Nya kepada kalian, kemudian kalian berdoa kepada-Nya namun tidak dikabulkan’.(HR. Tirmidzi)

  1. Memanjatkan doa yang mengandung unsur dosa dan pemutusan jalinan kekerabatan.

“Diriwayatkan dari Abu Sa’id radhiyallahuanhu bahwa Nabi shalallhualaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah seorang muslim itu memanjatkan doa kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan permohonan yang di dalamnya tidak terdapat unsur dosa atau pemutusan tali kekerabatan, kecuali pastilah Allah subhanahu wa ta’ala akan memberikan kepadanya salah satu di antara tiga hal. Entah doanya dikabulkan dengan segera, atau Allah menyimpankan untuknya di akhirat, atau Allah akan menghindarkannya dari keburukan sebanding dengan bobot doa yang dipanjatkannya.’Para sahabat berkata,’Kalau begitu, kami akan memperbanyak doa.’Nabi shalallhualaihi wa sallam kemudian bersabda, “Allah akan lebih memperbanyak lagi (pemberian-Nya).” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)

Dan juga hal-hal lainnya yang berupa pelanggaran aturan Allah dan Rasul-Nya, atau kemaksiatan dan perkara-perkara yang menjauhkan hamba dari Rabbnya. Selanjutnya, hindari hal-hal sebagai berikut:

  1. Memanjatkan doa yang mengandung unsur-unsur tawassul syirik dan bid’ah.
  2. Memanjatkan doa atau memohon sesuatu yang mustahil, atau yang tidak bisa diterima oleh akal, atau kebiasaan syara’.
  3. Memanjatkan doa untuk keburukan keluarga, harta, anak, maupun diri sendiri.
  4. Memanjatkan doa yang berisi tindakan dosa, seperti mendoakan seseorang agar terjerumus ke kubang kemaksiatan, atau memanjatkan doa yang berisi pemutusan jalinan kekerabatan.
  5. Mendoakan tersebarnya kemaksiatan.
  6. Putus asa atau kurang yakin akan keterkabulan doa.
  7. Berlebihan dalam meninggikan suara ketika berdoa.
  8. Dan hal-hal lainnya yang dilarang oleh syara’ berkenan dengan tindakan atau perkataan yang berhubungan dengan pemanjatan doa.
Waktu-waktu, keadaan-keadaan, dan tempat-tempat dikabulkannya doa

Waktu-waktu, keadaan-keadaan, dan tempat-tempat dikabulkannya doa.

Setiap orang yang memanjatkan doa, jika memungkinkan hendaklah memperhatikan waktu-waktu ijabah serta bergegas menggunakan suasana maupun tempat yang kuat harapannya menjadi salah satu unsur keterkabulan doa yang dipanjatkan. Waktu-waktu, keadaan-keadaan, dan tempat-tempat dikabulkannya doa yang dimaksudkan itu, sebagaimana yang dijelaskan oleh para ulama berdasarkan istinbath (kesimpulan) dari berbagai riwayat hadis, diantaranya adalah sebagai berikut.

  1. Malam lailatul qadar.
  2. Pada waktu akhir malam.
  3. Usai menjalankan shalat fardhu.
  4. Waktu antara adzan dan iqomah.
  5. Saat tertentu yang terdapat setiap malam.
  6. Ketika dikumandangkan adzan sebagai panggilan untuk menunaikan shalat fardhu lima waktu.
  7. Ketika turun hujan.
  8. Ketika dalam barisan jihad di jalan Allah subhanahu wa ta’ala.
  9. Saat tertentu pada hari Jum’at. Pendapat yang paling kuat adalah menyatakan pada waktu-waktu ashar pada hari Jum’at. Bisa juga pada saat khutbah shalat jum’at.
  10. Ketika minum air zamzam disertai niat tulus.
  11. Ketika sedang sujud.
  12. Ketika bangun tidur pada malam hari serta memanjatkan doa ma’tsur.
  13. Doa orang-orang usia kematian si mayit.
  14. Doa yang dipanjatkan setelah memberikan pujian kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan bershalawat kepada Nabi shalallahu alaihi wa sallam dalam tasyahhud akhir.
  15. Ketika memanjatkan doa dengan menggunakan nama-Nya yang agung apabila digunakan untuk meminta kepada-Nya, maka Dia akan memberi.
  16. Doa yang dipanjatkan pada hari Arafah.
  17. Doa yang dipanjatkan pada bulan Ramadhan.
  18. Doa ketika kaum muslimin berhimpun di majelis dzikir.
  19. Memanjatkan doa dalam menghadapkan hati sepenuhnya kepada Allah subhanahu wa ta’ala diiringi dengan keikhlasan sepenuhnya pula.
  20. Doa orang tua untuk kebaikan anaknya maupun keburukannya.
  21. Doa ketika mengerjakan puasa hingga berbuka, dan ketika berbuka.
  22. Doa usai berwudhu apabila seseorang memanjatkan doa denga lafal yang ma’tsur.
  23. Doa yang dipanjatkan setelah melempar jumrah shugra maupun setelah melempar jumrah wustha.
  24. Doa yang dipanjatkan di dalam Kabah dan doa yang dipanjatkan oleh seorang yang mengerjakan shalat di dalam Hijir Isma’il, karena ia merupakan bagian dari Baitullah.
  25. Doa yang dipanjatkan di bukit Shafa, Marwah, dan Masyaril Haram.

Bagaimanapun, seorang mukmin hendaklah senantiasa memanjatkan doa kepada Rabbnya kapan dan dimana saja ia berada. Sebab, secara umum Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (Al-Baqarah [2]: 186)

Tapi waktu-waktu dan keadaan serta tempat yang telah disebut di depan lebih patut untuk mendapat perhatian lebih.

Tinggalkan Balasan