Gangguan Makan Kompulsif: Definisi, Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasinya

Gangguan Makan Kompulsif Definisi, Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasinya

Gangguan makan ini diderita oleh mereka yang menganggap makan sebagai pelarian dari emosi yang ditekan atau stres yang dihadapi. Pengidap merasa seperti “kecanduan” makanan dan tidak bisa mengendalikan diri sehingga berakibat pada peningkatan berat badan.

Gejala Gangguan Makan Kompulsif

Para ahli mendefinisikan gangguan makan kompulsif jika terdapat gejala berulang setidaknya 3 kali dalam seminggu:

  • Makan lebih cepat dari biasanya
  • Makan sampai melewati batas kenyang
  • Makan walau tidak lapar
  • Makan sendirian atau sembunyi-sembunyi
  • Merasa bersalah setelah makan berlebihan • Merasa diri tidak normal (dalam hal makan)
  • Merasa dikuasai keinginan kuat untuk makan
  • Sebagai bentuk kompensasi rasa bersalah, penderita akan berdiet secara berlebihan atau memuntahkan semua yang dimakan (yang akhirnya mengakibatkan bulimia) Penderita tidak terbatas usia maupun jenis kelamin.

Penyebab dan Cara Mengatasi Gangguan Makan Kompulsif

1. Makan terlalu cepat

Otak butuh waktu kurang lebih 12–20 menit untuk menerima sinyal bahwa tubuh sedang makan. Makan terlalu cepat membuat otak belum sempat menerima sinyal bahwa tubuh sedang makan, dan karena belum “merasa makan” akhirnya porsi makan jadi berlebihan. Kunyah perlahan makanan untuk memberi waktu otak menangkap sinyal “makan”.

2. Tidak fokus saat makan

Reseptor di dalam lambung yang mengirim sinyal “kenyang” ke otak akan terganggu oleh distraksi atau pengalih perhatian saat makan. Sekantong keripik kentang habis tanpa sadar karena dimakan sambil membaca atau menonton. Meskipun kalori cukup besar, otak tetap tidak menangkap sinyal adanya makanan yang masuk. Makan tanpa melakukan hal lain akan menyelaraskan kerja tubuh dan otak, tahu kapan mulai merasa kenyang dan berhenti sebelum benarbenar kenyang.

3. Stres

Tuntutan pekerjaan dan aneka masalah dalam kehidupan yang membuat rasa tertekan mendorong kita untuk melarikan diri pada makanan. Makan menjadi “penghiburan” meski tidak merasa lapar, padahal makan bukan solusi terbaik menghadapi masalah. Lakukan meditasi, yoga, olahraga, atau berkonsultasi dengan psikolog atau dokter untuk mengatasi stres.

4. Kurang minum air putih

Rasa haus sering membuat otak mengira tubuh sedang lapar. Akibatnya otak mengirim sinyal lapar padahal sesungguhnya tubuh kekurangan cairan. Minum 1 gelas air putih untuk menghilangkan rasa lapar semu. Biasakan juga minum 1 gelas air putih sebelum makan sehingga porsi makan tidak terlalu banyak.

5. Kurang tidur

Kurang tidur (kurang dari 6–8 jam sehari secara teratur) memengaruhi keseimbangan hormon yang mengatur nafsu makan. Bila tidak memungkinkan, usahakan kualitas tidur yang baik. Ciptakan suasana nyaman di kamar tidur, jauh dari gawai agar tubuh lebih rileks, tidak berolahraga minimal 2–3 jam sebelum waktu tidur, dan hindari makanan yang dapat membuat tetap terjaga seperti cokelat, makanan pedas atau berempah, teh, kopi, dan lainnya.

6. Menggunakan piring besar

Piring atau wadah makan berukuran besar memicu kita mengambil makanan lebih banyak. Piring kecil lebih cepat penuh sehingga “memaksa” kita berhenti mengambil makanan.

7. Salah pilih jenis makanan

Pilih makanan tinggi serat dan protein supaya kenyang lebih lama dengan kalori lebih rendah, seperti roti gandum, oat, apel, jeruk, telur, keju, anggur, sayuran hijau. Jumlah takaran makanan-makanan ini lebih banyak dibanding makanan lain untuk mencapai nilai kalori yang sama. Misalnya, 200 kalori setara 4 lembar roti tawar gandum, atau 1.435 gram seledri, atau 9 buah tomat besar. Segenggam keripik kentang, atau 1 batang sosis, atau sedikit olesan mayones dan saus tomat sudah mencapai 200 kalori.

8. Terlalu banyak makanan instan

Selain makanan ‘inti’, perhatikan juga bahanbahan tambahan lain dalam makanan dan cara pengolahannya pada label komposisi makanan. Nugget ayam instan diolah dari daging ayam, ditambah tepung dan zat aditif lain seperti penguat rasa, yang akan menambah kandungan kalori. Nugget daging ayam dibuat melalui proses pengolahan memasak 1 kali sebelum dibekukan untuk dikemas dan siap digoreng. Saat terhidang, nugget telah mengalami proses pengolahan beberapa kali dan kehilangan nutrisinya. Usahakan mengonsumsi makanan yang natural atau yang tidak mengalami proses pengolahan berulang kali.

9. Olahraga berlebihan

Olahraga secara berlebihan akan mengacaukan metabolisme tubuh dan cepat menimbulkan rasa lapar. Bila selalu merasa sangat lapar setelah berolahraga, coba kurangi intensitas olahraga tapi perbanyak frekuensinya. Misalnya, mengurangi olahraga beban, namun memperpanjang durasi olahraga kardio. Berapa lama dan berapa banyak olahraga yang harus dilakukan setiap orang berbeda-beda.

10. Kesepian atau bosan

Rasa ini memang berhubungan dengan kecenderungan makan berlebihan. Pertemuan keluarga, pesta-pesta atau perayaan, identik dengan makanan. Seseorang yang merasa kesepian akan berusaha mencari ‘sensasi yang mirip dengan perayaan’ sehingga makan walaupun tidak merasa lapar. Cari kesibukan yang kreatif supaya mengalihkan keinginan untuk makan.

11. Berlebihan menghindari makanan tertentu

Tahu keripik kentang tidak sehat, kita menggantinya dengan makanan lain, misalnya apel. Tapi rasanya belum puas, lantas ditambah makan pisang, atau makanan lainnya lagi, sampai akhirnya kita tetap mengonsumsi keripik kentang juga. Kalori yang diasup malah lebih banyak dibanding cuma makan keripik kentang. Lebih baik langsung saja mengonsumsi makanan yang diinginkan sambil membatasi diri. Perhatikan takaran saji di kemasan makanan supaya tidak kebablasan.

12. Tidak sarapan

Tidak sarapan akan menimbulkan rasa sangat lapar di jam makan siang sehingga porsi makan menjadi berlebihan, seakan untuk ‘membayar utang’ makan. Makanlah 3 kali sehari secara teratur, jangan tidak makan di jam makan kemudian ‘dirapel’ pada waktu makan selanjutnya. Gangguan makan kompulsif dapat diterapi dengan kesadaran diri sendiri. Bila tetap merasa sulit menghilangkannya setelah mencoba saran di atas, segeralah berkonsultasi dengan dokter. Jika tidak segera ditangani, peningkatan berat badan, kolesterol, risiko penyakit jantung koroner, diabetes mellitus, stroke, dan hipertensi pun menanti.

Sumber: (dr. Fiona Tjiputra/Info Kita)

Bagikan Artikel

Tinggalkan Balasan