Demam Berdarah Dengue (DBD): Pencegahan, Gejala, dan Pengobatannya

Demam Berdarah Dengue (DBD): Pencegahan, Gejala, dan Pengobatannya

Demam Berdarah Dengue atau DBD disebabkan oleh virus Dengue yang ditularkan kepada manusia melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albocpictus. Penularan lebih banyak terjadi melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti, nyamuk yang mudah dikenali dari belang hitam-putih pada tubuhnya.

Aedes aegypti betina membutuhkan darah untuk proses produksi telur. Jika nyamuk ini menggigit manusia yang memiliki virus Dengue, maka nyamuk ini menjadi terinfeksi dan selanjutnya setelah 1 minggu dapat menjadi media penular jika menggigit manusia sehat lainnya. Penularan tidak dapat terjadi secara langsung dari manusia ke manusia.

Nyamuk penular ini dapat dijumpai di hampir seluruh daerah di Indonesia kecuali tempat yang memiliki ketinggian lebih dari 1.000 meter dpl. Aedes aegypti bisa terbang sampai 400 meter, betinanya dapat bertelur 5 kali sepanjang hidupnya, puluhan telur setiap kalinya, dan dapat bertahan dalam keadaan kering sampai berbulan-bulan sehingga tindakan membuang atau menguras air dari tempat penampungan perlu diikuti dengan tindakan menggosok seluruh permukaan wadah. Nyamuk ini lebih memilih manusia ketimbang binatang, menggigit berulang kali, dan menggigit lebih dari satu orang. Karena gigitannya tidak menyebabkan nyeri, orang sering kali tidak menyadari ketika digigit. Aedes aegypti sangat gesit dan dapat terbang maju-mundur dengan cepat sehingga sangat sulit mengejar dan menangkapnya. Inilah yang menyebabkan penyebaran virus Dengue menjadi sangat cepat dan luas.

Virus Dengue dapat menyebabkan demam Dengue (Dengue Fever), Demam Berdarah Dengue (Dengue Haemorrhagic Fever), serta dalam bentuk yang lebih fatal dan berpotensi menyebabkan kematian berupa syok (Dengue Shock Syndrome). Ada 4 serotipe virus Dengue, yaitu DEN-1, DEN-2, DEN-3, dan DEN-4. Orang yang telah terkena dapat mengembangkan kekebalan seumur hidup terhadap serotipe virus tersebut tetapi masih dapat terkena virus Dengue dengan serotipe berbeda.

Gejala demam Dengue menyerupai penyakit virus pada umumnya seperti:

  • demam tinggi yang mendadak,
  • sakit kepala,
  • nyeri belakang bola mata,
  • nyeri persendian,
  • nyeri otot,
  • lemah,
  • mual muntah.

Penanganan meliputi istirahat, asupan cairan yang adekuat, obat penurun demam dan antinyeri (misalnya paracetamol tetapi hindari jenis aspirin dan ibuprofen karena dapat meningkatkan risiko perdarahan), dan obat penghilang mual.

Pada Demam Berdarah Dengue (DBD), gejala-gejala tersebut ditambah dengan:

  • manifestasi perdarahan seperti perdarahan di bawah kulit yang tampak seperti bercak kemerahan di kulit, mimisan, dan gusi berdarah,
  • nyeri perut,
  • muntah baik ada maupun tidak ada darah,
  • feses berwarna hitam,
  • mulut terasa kering
  • rasa haus.

Penanganan berupa istirahat, asupan cairan baik melalui mulut maupun melalui intravena (infus), obat penurun demam, antinyeri, antimual, terapi elektrolit, transfusi, pemantauan tekanan darah, dan pemberian oksigen Masa yang berbahaya dimulai pada hari ke-3 sampai hari ke-10 sejak gejala awal dirasakan. Demam yang mulai hilang tidak berarti orang menjadi sehat. Waspadai adanya manifestasi perdarahan yang disertai nyeri perut yang semakin hebat, muntah terus-menerus, napas menjadi cepat, penderita menjadi lemah dan gelisah. Keadaan ini dapat berkembang menjadi syok jika terlambat mendapatkan penanganan. Pada tahap ini perdarahan menjadi masif, ujung jari-jari tangan dan kaki menjadi dingin, lembap, basah, denyut nadi melemah, dan rasa gelisah.

Sampai saat ini belum ditemukan obat untuk membunuh virus Dengue, sementara vaksin untuk mencegah Dengue masih dalam tahap uji coba sehingga tindakan mencegah penularan masih terbatas pada pemberantasan nyamuk penular. Nyamuk penular biasanya menggigit dalam ruangan dan pada kisaran 2 jam sesudah matahari terbit dan beberapa jam sebelum matahari terbenam.

Mereka juga dapat menggigit pada malam hari di tempat yang terkena paparan cahaya. Dalam hal ini seluruh anggota masyarakat diharapkan berperan aktif menjaga kebersihan di dalam maupun di luar rumah terutama di musim pancaroba dan musim hujan. Gerakan bersama ini disebut dengan Gerakan Jumat Bersih bertujuan memberantas sarang nyamuk dan memusnahkan jentik nyamuk.

Metode yang paling efektif dan efisien adalah kegiatan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan cara 3M Plus, yaitu:

  • Menguras: Menguras dan membersihkan atau menggosok tempat-tempat yang sering dijadikan wadah penampungan air seperti bak mandi, ember air, tempat penampungan air minum, penampung air lemari es, vas bunga, dan sebagainya.
  • Menutup: Menutup rapat-rapat tempattempat penampungan air seperti gentong, drum, kendi, toren air, dan sebagainya.
  • Memanfaatkan kembali atau mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menyebabkan genangan air seperti kaleng bekas, botol bekas, mangkok, ban bekas, dan sebagainya. Jika tidak dapat dimanfaatkan, tutup rapat atau timbun dalam tanah atau isi rongga dengan tanah atau pasir.

Kegiatan 3M ini ditambah dengan Plus, maksudnya adalah segala bentuk kegiatan pencegahan yang mencakup:

  • Menaburkan bubuk larvasida (abate) di penampungan air yang sulit dibersihkan.
  • Menggosok wadah dan mengganti air dalam tempat minum binatang peliharaan atau di vas bunga paling sedikit seminggu sekali.
  • Menggunakan obat nyamuk atau antinyamuk.
  • Menggunakan kelambu saat tidur terutama saat tidur siang.
  • Memasang kasa pencegah nyamuk pada jendela.
  • Memelihara ikan pemangsa jentik nyamuk seperti ikan kepala timah, ikan cupang, ikan cetul. • Menanam tanaman pengusir nyamuk seperti serai wangi, akar wangi, lavender, geranium, dan lainnya.
  • Mengatur cahaya dan ventilasi dalam rumah agar terang dan tidak lembap.
  • Menggunakan pakaian lengan panjang dan celana panjang.
  • Menghindari kebiasaan menggantung pakaian di dalam rumah. Lipatlah baju dan simpan dalam lemari. Nyamuk Aedes aegyptisenang beristirahat di tempat gelap dan dingin seperti baju yang digantung, terutama yang berwana gelap, di balik tirai, di bawah sofa, atau di kolong tempat tidur.

Banyaknya kasus DBD di Indonesia berkaitan dengan berbagai faktor seperti masih banyaknya tempat perindukan nyamuk Aedes aegypti, pemahaman dan partisipasi aktif masyarakat yang masih terbatas dalam pemberantasan sarang nyamuk berupa gerakan 3M Plus, terjadinya perubahan dan manipulasi lingkungan terkait urbanisasi dan pembangunan tempat permukiman baru yang disertai dengan mobilitas penduduk yang semakin meningkat. Mari kita berperan aktif menjaga lingkungan agar bebas nyamuk demi kesehatan bersama.

(dr. Susanti/Info Kita)

Bagikan Artikel

Tinggalkan Balasan