Dari Mana dan Sejak Kapan Sebenarnya Jomblo Itu Muncul?

Pertama, kita telusuri dari sisi asal katanya dulu nih. Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kita sebenarnya tidak menemukan kata jomblo. Yang ada adalah kata jomlo yang artinya pria atau wanita yang belum memiliki pasangan hidup. Kata jomlo sebenarnya berasal dari bahasa Sunda yang kemudian dibakukan ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

Mulanya, sebutan jomlo digunakan untuk menyebut seorang perempuan yang sudah tua, tetapi belum juga menikah atau mempunyai pasangan. Kata tersebut digeneralisasi (diperluas maknanya) yang awalnya hanya merujuk pada seorang perempuan, lambat laun kata ini juga digunakan untuk laki-laki yang belum mempunyai pasangan.

Yang mencengangkan lagi, lambat laun, banyak juga yang memahami bahwa jomblo itu bukan hanya orang yang belum mempunyai pasangan halal, tetapi juga orang yang belum punya pacar. Nah, lho! Padahal di dalam Islam, pacaran kan dilarang. Dari pemaknaan seperti inilah, timbul kasus anak SMP bahkan SD yang sudah nyari-nyari pacar karena enggak mau dipanggil jomblo. Enggak sedikit juga yang akhirnya pacaran.

Istilah jomblo hanya ada di Indonesia. Di Arab, walaupun banyak yang belum mempunyai pasangan, mereka tidak akan disebut jomblo karena kata ini memang tidak dikenal oleh bahasa mereka. Jadi, kalau kamu sudah enggak tahan dipanggil jomblo, mungkin kamu bisa pindah ke Arab biar enggak ada lagi yang manggil jomblo.

Macam-macam jomblo via pexel.com

Jomblo diartikan sebagai seorang manusia, baik cewek maupun cowok, yang memang sudah waktunya mempunyai pasangan hidup (yang halal), tapi belum juga mempunyai pasangan.

Macam-Macam Jomblo

Seperti kue, jomblo juga mempunyai macam-macam varian. Dari sisi pemaknaannya, status jomblo itu bisa dibagi dua.

Pertama

Pemaknaan jomblo yang sesungguhnya, yaitu mereka yang memang belum menemukan pasangan hidupnya yang halal, yaitu seorang istri untuk laki-laki dan seorang suami untuk yang perempuan. Dengan catatan, mereka belum pernah menemukan pasangan sebelumnya, alias belum menikah. Karena beda lagi ceritanya kalau sudah pernah menikah, orang-orang enggak manggil jomblo lagi. Mereka disebut janda atau duda.

Kedua

Pemaknaan jomblo yang terlalu dipaksakan, yaitu sebutan yang biasa dipakai anak-anak muda zaman sekarang ini. Jomblo dalam pandangan mereka bukan hanya untuk orang yang belum menikah saja, tapi juga buat mereka yang belum mempunyai pacar atau “gandengan”. Jadi, jangan heran kalau kita mendengar sebutan ini sudah digunakan oleh anak-anak seumuran SD. Ini pasti karena pemaknaan mereka yang terlanjur salah. Enggak tahu tuh siapa yang menjadi oknum pertama penyalahgunaan makna jomblo semacam ini.

Untuk pemaknaan yang kedua, penulis tidak mau membenarkannya. Sebagai seorang muslim, kita harus sadar dan mengingat bahwa Islam tidak pernah membenarkan adanya pacaran, bahkan yang ada malah melarangnya.

Ada pun jomblo yang penulis sebut-sebut di dalam buku ini lebih banyak ditujukan untuk pemaknaan yang pertama, yaitu siapa pun yang belum mempunyai pasangan halal. Jadi, siapa pun yang belum menikah, baik yang sudah pengin tapi tak kunjung nemuin jodohnya, atau pun yang memang belum mau menikah, atau bisa juga karena memang belum siap untuk menikah karena macam-macam alasannya.

Bagaimana dengan yang saat ini mempunyai pacar? Penulis tetap menganggap mereka sebagai jomblo. Mereka hanya salah jalan atau lebih tepatnya sedang tersasar. Niat hati enggak mau nge-jomblo, tapi caranya salah sehingga status jomblo-nya masih tetap menempel dan malah menumpuk dosa.

“Kira-kira kalau kamu salah jalan, apa yang akan kamu lakukan?

Apakah terus mengikuti jalan yang salah itu? Apakah mencari jalan keluar? Atau jika kamu tersasar di hutan, akankah kamu tetap di hutan? Kamu pasti tahu jawabannya. Tahu kan apa yang mesti dilakukan? Buktikan kalau kamu cerdas!”

Kalau kita perhatikan, sekarang ini banyak orang yang membagi-bagi kriteria jomblo. Singkatannya juga keren-keren pula, dari yang biasa-biasa aja, sampai ada yang kelewat menyeramkan. Ada istilah jomblo ngenes alias jomblo menyedihkan, ada jomblo terselubung yang enggak pernah mau menampakkan ke-jomblo-annya, ada jomblo kepo yang banyak nanya, ada juga yang katanya jomblo high class yang bangga dengan status jomblo-nya, bahkan tak jarang orang mendeklarasikan dirinya sebagai jojoba atau jomblojomblo bahagia.

Sebutan-sebutan kayak gitu mungkin sering banget kita dengar. Ya, intinya sabar-sabar aja deh. Semua orang pasti harus melewati masa-masa jomblo. Enggak ada kan yang baru lahir sudah langsung mempunyai pasangan atau menikah. Itu adalah salah satu tangga kehidupan yang harus dilewati, Mblo! Tapi emang sih, kenyataannya ada yang masa men-jomblo-nya sebentar dan ada juga yang seakan enggak berakhir. Padahal sebenarnya bukan enggak berakhir, tapi belum waktunya berakhir.

Ini adalah pertanyaan yang lumayan menyayat hati seorang jomblo. Ngenes banget sebenarnya kalau kita men-jomblo, terus ditanya kayak gini. Yang jujur dan berani mungkin bisa saja menjawab apa adanya, bahkan tak sungkan-sungkan minta dicariin jodoh. Tapi, enggak sedikit juga—bahkan mungkin kebanyakan—yang enggak mau jujur karena malu. Akhirnya, dia bilang belum penginlah, pengin kuliah dululah, atau kerja dulu biar mapanlah.

Dari beberapa fakta di lapangan, berikut alasan-alasan kaum jomblo menjalani masa ke-jomblo-annya.

Pertama

Pengin fokus mencari ilmu dulu alias menyelesaikan pendidikan. Enggak sedikit nih yang mempunyai prinsip seperti ini. Bagi mereka, men-jomblo adalah salah satu syarat kalau memang benar-benar pengin fokus dengan pendidikannya.

Kedua

Pengin fokus kerja dulu, ngumpulin modal buat nikah. Ini memang harus dilakukan agar setelah menikah nanti, kita benar-benar sudah siap menghadapi kehidupan. Lagi pula, perempuan rata-rata ingin mempunyai pasangan yang sudah mapan. Begitu pun lelaki, mereka biasanya enggak akan pede kalau mau menikah sementara kehidupannya belum mapan. Tentunya, ukuran mapan untuk setiap orang berbeda-beda. Ada yang berpandangan bahwa mapan itu sudah mempunyai rumah, mobil, dan lain-lainnya. Ada juga yang menilai bahwa mapan itu sekadar dapat mencukupi segala macam kebutuhan setelah nikah.

Ketiga

Memang belum nemu-nemu jodohnya. Mungkin sebenarnya udah ngebet pengin mempunyai pasangan, tapi apalah daya, belum ada yang cocok, atau mungkin belum ada yang mau. Sabar ya! Mereka yang belum menemukan jodoh bisa jadi karena enggak mau nyari, malu lah, enggak pede-anlah, atau bisa juga sudah nyari ke segala penjuru dunia, tapi belum ada yang mau menerima.

Untuk kamu yang jomblo dengan alasan yang pertama, kalau itu memang sudah menjadi prinsip, hal itu enggak masalah kok. Selama kamu mampu menjaga diri, sanggup menyimak kata orang lain tentang status ke-jomblo-an kamu, sanggup sabar kalau terus dikata-katain jomblo. Ya, pegang saja prinsip itu. Tapi kalau memang enggak kuat dengan itu semua, kuliah setelah nikah itu juga enggak masalah.

Sementara untuk kamu yang memilih jomblo dengan alasan kedua, silakan aja. Tapi, jangan sampai terus-terusan mengejar karier membuat kamu lupa mencari pasangan, sampai lupa menikah. Kalau kita terus-terusan “mencari dunia”, enggak akan ada habisnya! Enggak selamanya menikah itu harus kaya dulu. Justru, kebanyakan orang menikah dulu baru menjadi kaya. Hal ini memang sudah jaminan Allah.

Ada pun untuk kamu yang termasuk kategori ketiga, memang sih kasihan. Tapi sekali lagi, tetap sabar yah! Jodoh itu memang sudah ditentukan Allah, tapi tentunya kita jangan sampai lupa berikhtiar.

Teruslah berusaha! Setiap orang pasti yakin bahwa Allah sudah mengatur rezekinya, tapi rezeki itu harus dijemput dengan usaha dan ikhtiar. Begitu pun masalah jodoh karena jodoh juga bagian dari rezeki.

Tinggalkan Balasan