Cara Memasuki Zona Persaingan Dengan Produk Yang Sama

Sejak beberapa waktu lalu, mi instan berkuah susu menjadi tren di pasaran. Banyak restoran-restoran kecil bermunculan dan menawarkan menu tersebut. Mereka saling bersaing memperebutkan pasar yang sama. Padahal sebelumnya telah kita ketahui bahwa salah satu trik menghadapi persaingan adalah melakukan diferensiasi produk. Untuk kasus mi instan berkuah susu tadi, apakah cukup hanya membedakan pilihan bahan baku? Saya rasa, konsumen tidak terlalu peduli dengan merek mi instan atau susu yang menjadi bahan baku. Kebanyakan konsumen lebih berorientasi pada cita rasa yang enak, harga murah, dan penampilan yang bagus.

Kasus lain, ada banyak toko parfum yang sekarang ini sangat mudah ditemui di pinggir jalan. Kita bisa membeli parfum apa saja, mulai dari yang harumnya manis seperti permen karet atau yang segar beraroma bunga, dari parfum merek terkenal hingga buatan artis. Ketika banyak toko parfum bermunculan, apakah cukup menurunkan harga saja untuk menarik lebih banyak konsumen?

Pemberian sampel merupakan salah satu cara terbaik untuk menarik perhatian konsumen yang menjadi target pasar kita. Keuntungannya, kita dapat memberikan langsung produk itu untuk memperkenalkan kelebihan, sekaligus menciptakan kesadaran akan keberadaan produk itu. Dengan memberikan sampel, kemungkinan besar konsumen akan melakukan pembelian. Hasilnya sudah pasti berbeda kalau kita hanya memasang iklan atau menawarkan diskon.

Dari sisi konsumen, mereka merasa mendapatkan kepuasan instan karena bisa merasakan keistimewaan produk secara langsung dan membuat mereka mudah mengambil keputusan, apakah akan melakukan pembelian atau tidak. Berikut adalah beberapa kondisi yang tepat untuk memberikan sampel produk kita.

1. Memberikan Sampel Untuk Menjangkau Pelanggan Baru

Tujuannya, menciptakan kesadaran konsumen akan keberadaan produk kita dan memberi kesempatan kepada mereka untuk merasakan manfaat produk secara langsung.

Baca juga  Cara Mengurangi Beban Kerja Dengan Manajemen Waktu

2. Memberikan Sampel Untuk Mengubah Persepsi Pelanggan

Wendy’s pernah menciptakan persepsi di benak pelanggan dengan meluncurkan slogan, “Mana Daging Sapinya?” Slogan ini berhasil meningkatkan penjualan Wendy’s secara drastis yang mengakibatkan penjualan McDonald’s meng alami penurunan. Hal ini bukan berarti McDonald’s tidak memakai daging sapi pada burgernya karena faktanya ia menggunakan 100 persen daging sapi pada produknya sama seperti Wendy’s. Lalu, bagaimana cara McDonald’s melawan persepsi ciptaan Wendy’s tadi? Benar! Dengan pemberian sampel. McDonald’s membuat setumpuk burger, memotongnya menjadi potongan-potongan kecil, menusukkan tusuk gigi di atasnya, dan menawarkan secara gratis pada konsumen. Hasilnya, terjadi kenaikan drastis dalam persepsi kualitas dan tingkat kepuasan konsumen McDonald’s, bahkan lebih dari yang dapat dilakukan Wendy’s.

3. Memberikan Sampel Untuk Melancarkan Penjualan

Dalam memberikan sampel, kita harus jeli. Tidak ada gunanya memberi sampel produk kepada orang yang sudah pasti melakukan pembelian. Sebaliknya, ketika kita melihat konsumen melewati kita dengan wajah ragu, bergegaslah memberinya sampel produk kita. Waktu terbaik untuk memberikan sampel adalah ketika pelanggan terlihat ingin membeli, namun masih ada keraguan dalam hatinya. Cara ini akan mengubah keragu-raguan mereka menjadi suatu tindakan pembelian.

4. Memberikan Sampel Untuk Mendemonstrasikan Kegunaan Produk

Saat ingin menjual selai stoberi buatan tangan, kita dapat menjualnya bersamaan dengan roti yang selama ini telah dikenal konsumen. Maka, konsumen memiliki kesempatan mencoba selai itu pada roti yang sudah biasa mereka konsumsi. Hal ini menciptakan kesadaran akan manfaat produk dan mampu meningkatkan penjualan.

5. Memberikan Sampel Untuk Mendorong Peningkatan Pembelian

Lego Toy Company sering kali memberikan sampel untuk meningkatkan pembelian konsumen. Dengan memberikan sampel set lego sederhana yang dapat disambung-sambungkan, mereka berharap setelah memainkannya beberapa waktu, mereka kemudian tertarik untuk membeli mainan rakitan yang lebih rumit dan tentu saja lebih mahal.

Baca juga  Kesalahan Manajemen Top Down

Sumber: 101 Problem Solving for Entrepreneur

Bagikan Artikel

Tinggalkan Balasan