Bahagia itu Mudah dengan Memaknai Kerja Sebagai Ibadah

Selama berabad-abad manusia berjuang akan dua hal, yaitu kemakmuran dan kebahagiaan. Sayangnya, apa yang terjadi kemudian, sebagian besar manusia tidak mendapatkan dua-duanya. Apalagi menurut penelitian Carnegie Mellon University, sejak 1983 hingga 2009 tingkat stress meningkat dari waktu ke waktu, 18% sampai 24%. Alih-alih bahagia yang bertambah, malah stress yang bertambah. Yang sebenarnya:

  • Target boleh bertambah, namun stress jangan sampai bertambah.
  • Impian boleh membesar, namun resah dan gelisah jangan sampai membesar.

Bahkan di antara mereka ada yang mengalami gangguan jiwa. Beneran ada, tidak mengada-ada. Karena menurut mendiang Ann Landers, “ 1 dari 4 orang di dunia ini dalam tekanan tertentu mengalami gangguna jiwa.

Jauh-jauh hari, dua orang bijak Mahatma Ghandi dan Dalai Lama, dengan kalimat berbeda pernah menympulkan  bahwa kebahagiaan itu dimulai dari dalam, bukan berdasarkan kepemilikan ini dan itu dari luar. Bagaikan sebuah kesejatian. Sebagian orang berpikir, kalau punya rumah dan mobil, pastilah dia akan bahagia, apa iya? Nggak juga. Begitu punya rumah dan mobil, tidak berapa lama dia akan berpikir rumah lain yang lebih besar dan mobil lain yang lebih cepat.

Sebagian lagi berpikir kalau jadi manager, pastilah dia akan bahagia. Padahal belum tentu, begitu jadi manager dia akan berpikir jadi direktur, begitu jadi direktur dia akan berpikir jadi komisaris. Dan seterusnya, coba bayangkan ini:

  • Anda akan berpikir merasa menjadi bahagia jika menjadi direktur.
  • Ketika Anda berhasil menjadi direktur di usia 40 tahun, itu artinya selama 39 tahun Anda tidak bahagia/sengsara.
  • Setelah berhasil menjadi direktur, apakah benar Anda merasa bahagia? Iya sih, tapi cuma enam bulan. Setelah enam bulan, Anda mulai memikirkan hal yang lain.
  • Mestinya Anda memutuskan untuk bahagia detik ini juga tanpa syarat.

Ada suatu publikasi Daily Mail yang menyatakan bahwa dalam seminggu, waktu yang paling membahagiakan adalah pukul 19.26 pada Sabtu malam. Secara rata-rata, usia yang paling membahagiakan adalah usia 34 tahun.

Kerja itu ibadah 1 via pixabay.com

Perlu diingat bahwa keberadaan agama bukan saja untuk mengatur, tetapi juga untuk membahagiakan dan menyelamatkan.

Sekali lagi, untuk membahagiakan dan menyelamatkan:

  • Penelitian University of Wisconsin (2012) menyimpulkan bahwa syukur dan keyakinan kepada Tuhan membuat orang bahagia.
  • Jurnal Psychological Science (2012) memaparkan bahwa orang yang taat beragama memiliki kepercayaan diri dan kondisi psikologi yang lebih baik. Penelitian hampir 200.000 orang di 11 negara.
  • Penelitian University of Illionois dan Gallup Organization (2011) menunjukkan bahwa orang yang beragama lebih bahagia. Penelitian berlangsung di 150 negara.
  • Penelitian Legatum Prosperity Index menjabarkan bahwa orang yang taat beragama memiliki daya tahan terhadap fluktuasi ekonomi. Penelitian diselenggarakan di 110 negara.

Sejenak, coba Anda pikirkan:

  • Siapa yang membuat CN235? Pastilah Dirgantara Indonesia yang paling tahu.
  • Siapa yang membuat iPhone? Siapa lagi kalau bukan Apple, pastilah mereka yang paling tahu soal iPhone.
  • Siapa yang membuat manusia? Tuhan. Tidak diragukan lagi, pastilah Tuhan yang paling tahu soal manusia.
  • Sekiranya manusia mencari manual dari selain Tuhan, tentulah ia akan sulit untuk bahagia dan selamat. Dengan kata lain, jika manusia ingin bahagia baik dalam pekerjaan maupun dalam kehidupan, hendaklah ia memaknai dan memakai manual dari Tuhan-nya.

Han Spenmann, ilmuwan Jerman dan penerima Nobel, membuktikan bahwa asal mula kehidupan adalah bagian dari tulang ekor. Menariknya lagi, sel-sel pada tulang ekor ini tidak dapat dihancurkan meskipun ditumbuk dan direbus. Ini pula yang kemudian dibuktikan oleh Syaikh Abdil Madjid, Dr. Othoman Al-Djillani, dan Dr. Al-Olaki.

Kerja itu ibadah 2 via pixabay.com

Diungkapkan oleh Nabi Muhammad, “Seluruh bagian tubuh anak Adam akan hancur dimakan tanah kecuali tulang ekor, yang darinya tubuh diciptakan dan dengannya disusun kembali.” Melalui hadis ini, Nabi memberitahu kita bahwa seluruh bagian tubuh manusia akan rusak oleh tanah, kecuali tulang ekor. Lalu, dari tulang inilah manusia berasal dan dari tulang ini pula manusia dibangkitkan.

Bagian dari tulang ekor ini disebut juga ajbudz dzanab, relicz, atau coccyx. Disebut juga saririka datu dalam agama Hindu dan Budha. Dapat dikatakan, ajbudz dzanab bagaikan microchip dan black box yang merekam segala perbuatan manusia selama di dunia. Dari lahir sampai meninggal. Sekiranya kita benar-benar memahami rangkaian kejadian ini, niscaya kita akan memaknai segala sesuatu sebagai ibadah.

  • Bukankah dengan bekerja, ia mencukupi dirinya sendiri, sehingga menjaga dirinya dari meminta-minta.
  • Bukankah dengan bekerja, ia mencukupi keluarga ini dan membantu keluarga besar.
  • Bukankah dengan bekerja, ia berusaha menjadi teladan terbaik bagi anak-anaknya.
  • Bukankah dengan bekerja, ia berusaha untuk jujur dan gigih, agar menjadi amal jariyah bagi orangtua dan guru-gurunya.
  • Bukankah dengan bekerja, ia menjalankan perannya sebagai khalifah dimana ia pantang menyia-nyiakan potensi dan pantang berbuat kerusakan.
  • Kerja itu ibadah, dakwah, amanah, anugerah, kehormatan, pelayanan, panggilan, aktualisasi, potensi, dan seni. Setidaknya, ada sepuluh makna. Dan inilah kelebihan kita, karena literatur Barat tidak mengenal konsep kerja sebagai ibadah.

Tinggalkan Balasan