Apakah Ada Pacaran Islami? Berikut Solusi Perasaan Cinta Seorang Manusia Kepada Lawan Jenisnya

Islam memang sangat menghormati fitrah manusia. Salah satunya adalah berkaitan dengan perasaan cinta seorang manusia kepada lawan jenisnya. Akan tetapi, Islam menetapkan ketentuan-ketentuan khusus dalam hal penyalurann ya agar tidak terjadi hal-hal yang menimbulkan keburukan bagi umat manusia. Salah satu caranya adalah diarahkan ke pernikahan alias hubungan halal.

Pacaran adalah hubungan yang dijalin oleh laki-laki dan perempuan tanpa didahului ikatan pernikahan, padahal di dalam Islam tidak dibenarkan.

Bahkan, tidak ada satu pun pendapat ulama yang membolehkan pacaran.

Di dalam Al-Quran dijelaskan bahwa kita dilarang melakukan perbuatan-perbuatan yang mendekati zina. Jadi bukan hanya zina yang haram, tetapi perbuatan-perbuatan yang menjurus atau mengarahkan kepada perbuatan zina juga dilarang. Pacaran adalah salah satunya.

Perbuatan-perbuatan yang mengarah kepada zina di dalam pacaran di antaranya berupa:

  1. Berdua-duaan di tempat yang sepi;
  2. Bersentuhan atau bergandengan tangan;
  3. Berciuman atau berpelukan;
  4. Memperlihatkan aurat kepada lawan jenisnya;
  5. Pandangan dengan syahwat;
  6. Obrolan mesra yang menimbulkan nafsu, baik secara langsung maupun dengan media penghubung, seperti ponsel.

Kalau kita lihat sekarang ini, pacaran sudah mengandung unsur-unsur tersebut. Orang-orang sekarang boleh saja mengatakan bahwa pacaran yang mereka lakukan adalah pacaran Islami. Tapi, kalau kenyataannya mengandung unsur-unsur yang disebutkan di atas, bagaimana bisa disebut Islami? Banyak orang yang tadinya yakin dengan pacaran Islami yang dilakukannya, tapi ujung-ujungnya jatuh pada hal-hal tersebut. Kalau pun seandainya pacarannya tidak mengandung perbuatan-perbuatan tersebut maka apakah kita yakin dan bisa menjamin kalau kita enggak akan terjerumus ke dalamnya? Bukankah setan selalu punya banyak cara untuk menjerumuskan kita? Islam—sekali lagi—tidak melarang sesuatu, kecuali karena banyaknya bahaya atau akibat buruk jika dilanggar.

Solusi Perasaan Cinta via pexels.com

Ini dia alasannya, kenapa pacaran itu berbahaya.

Pertama,

Pacaran menjadi penyebab mudahnya seseorang terjerumus ke dalam perzinaan. Di zaman sekarang, pacaran biasanya enggak akan puas kalau enggak ada jalan-jalan, enggak ngerasa lengkap kalau enggak berdua-duaan. Akhirnya, imannya semakin lemah dan sangat rentan terjerumus ke dalam dosa.

Kedua,

Pacaran bisa merusak kehidupan masa depan. Kebanyakan waktu akan terbuang sia-sia hanya untuk memikirkan pacar.

Ketiga,

Pacaran hanya membuat hidup boros. Bahkan, uang pemberian orang tua bisa saja habis dipakai buat pacaran sama buat nraktir pacar. Orang tua mana yang ingin anaknya membuang-buang harta pemberiannya untuk maksiat. Jadi, pacaran juga mengkhianati orang tua.

Keempat,

Pacaran bisa memicu tindakan kriminal. Kita sering kali menyaksikan berita di TV, ada remaja yang berkelahi, bahkan membunuh orang lain karena rebutan pacar. Hmmm, menyedihkan.

Pacaran Kok Bangga!

Salah satu fenomena mengherankan sekaligus mengerikan yang terjadi di kalangan pemuda adalah pacaran seakan menjadi sesuatu yang membanggakan, bahkan dipamer-pamerkan di hadapan umum. Terlebih lagi, ketika yang pacaran itu sudah menjalani hubungan sampai bertahun-tahun. Dan tahu enggak, apa yang lebih parah lagi? Yang lebih parah lagi adalah masing-masing kedua orang tuanya malah menyetujuinya.

Tak sedikit juga yang statusnya muslim dan mengetahui bagaimana penilaian agamanya terhadap pacaran, tapi masih aja tetap pacaran.

Sebenarnya, apa sih yang membuat mereka tetap pacaran?

Setidaknya, ada dua faktor yang melatarbelakangi seseorang melakukan pacaran, yaitu faktor internal dan eksternal.

Faktor Internal

Faktor internal atau faktor yang ada di dalam diri yang kurang pengetahuan tentang agama. Kalau yang mengerti dan memahami agama, pasti enggak mau tuh pacaran. Karena dia tahu, kalau agamanya tidak meridai pacaran. Yang enggak mengerti agama, biasanya memilih solusi yang salah, curhat kepada orang yang salah ketika dia terjerat masalah pribadi, akhirnya yang diperbuat juga salah.

“Bagaimana kalau ngerti agama, tapi tetap pacaran juga?” Nah, itu bisa terjadi karena nafsu syahwatnya yang sudah enggak bisa dikendalikan. Apalagi manusia mengalami hal yang disebut dengan masa pubertas. “Solusinya gimana?” Ya, mending nikah aja kalau memang enggak kuat. Kalau pun belum sanggup menikah—sebagaimana kata Nabi—banyakin puasa deh.

Faktor eksternal

Faktor eksternal atau faktor luar yang membuat seseorang memilih pacaran adalah karena bawaan lingkungan yang jelek.

“Apanya yang jelek?” Pergaulannya. Apalagi kalau yang jelek itu penampilannya. Super jelek itu namanya. Di dalam lingkungan, ada yang namanya teman, dari teman inilah biasanya menular perilaku-perilaku yang jelek. Oleh karena itu, hati-hati memilih teman, Mblo!

Faktor eksternal ini termasuk juga di antaranya teknologi, gadget, jejaring sosial, atau media-media lainnya yang kalau digunakan dengan salah maka bisa bahaya. Muatan-muatan yang merusak moral juga dapat diakses dengan mudah. Foto-foto atau video-video di media sosial yang mengumbar aurat bisa menjadi salah satu pemicu rusaknya moral manusia saat ini. Oleh karena itu, kita seharusnya dapat menggunakan media-media tersebut dengan sebaik-baiknya.

Di televisi, kita melihat “gibahtainment” berita tentang artis-artis yang pacaran dijadikan berita yang enggak pernah habis-habisnya. Ya akhirnya beginilah, pacaran menjadi sesuatu yang tidak aneh di kalangan remaja. Mereka pacaran bukannya malu, eh malah bangga. Piye iki. Mereka yang bangga tetap pacaran sebenarnya bangga menumpuk-numpuk dosa. Iya enggak, Mblo? Mudah-mudahan kita bisa konsisten untuk enggak pacaran sampai ketemu yang halal.

Terlanjur Pacaran?

Di antara sobat muda, bisa saja ada yang sedang menjalin hubungan pacaran (hayooo ngaku?) atau paling tidak, pernah pacaran atau pernah punya pacar. Sobat muda yang sekarang konsisten enggak pacaran, abaikan saja, enggak usah ngikutin mereka ya.

Sebenarnya, orang yang pacaran itu lagi tersesat, lagi salah jalan.

Sobat muda pasti sudah tahu apa yang harus dilakukan kalau tersesat atau salah jalan. Oleh karena itu, buru-buru cari jalan keluar, buru-buru kembali ke jalan yang lurus.

“Jalan lurusnya apa?”

Ya, enggak pacaran.

Solusi Perasaan Cinta 2 via pexels.com

Nih, tips bagi yang sudah terlanjur pacaran. Simak baik-baik, ya!

*Yang jomblo juga boleh baca kok, biar tahu.

Pertama, bertaubat kepada Allah.

Taubat kan artinya kembali maka bertaubat kepada Allah artinya kembali kepada Allah. Kenapa harus kembali? Tadi kan sudah dijelaskan, hakikatnya Sobat muda sedang tersesat maka kembalilah kepada jalan yang lurus, kembali kepada hal yang memang diridai Allah. Caranya adalah memperbanyak istigfar, salat tepat waktu, dan rajin-rajinlah membaca Al-Quran.

Kedua, putuskan hubungan pacaran.

Jalan yang harus ditempuh untuk Sobat muda yang sudah terlanjur pacaran, terus belum sanggup untuk menikah, atau belum berani nikah, enggak lain enggak bukan adalah dengan memutuskannya. Pedih, galau, gelisah, itu sudah pasti ada. Tapi ingat, siksa di akhirat itu lebih pedih lagi. Lebih baik pedih sedikit di dunia daripada pedih kelewat batas di akhirat nanti.

Ketiga, halalkan dengan hubungan pernikahan.

Kalau memang sudah siap dan sudah mampu mengambil segala risiko dengan menikah, kenapa tidak? Daripada terus-terusan maksiat, lebih baik diakhiri saja dengan menikah. Bagi perempuan, segeralah minta kejelasan untuk dinikahi jika enggak mau putus. Untuk laki-laki, segera datangi orang tuanya dan buktikan bahwa Sobat muda akan segera menikahinya.

“Bagaimana kalau pacarnya enggak mau diputusin, apalagi ngancem-ngancem mau bunuh diri?”

Ya, ajak nikah aja sekalian kalau memang enggak mau pisah.

“Dianya belum siap dinikahin, gimana dong?”

Aneh-aneh aja sebenarnya. Sanggup pacaran, tapi enggak sanggup nikah. Padahal, pacaran itu juga ngabisin duit, salah satunya buat nraktir pacar makan enak di restoran. Sementara, nikah itu lebih indah, lebih irit, paling buat beli beras sama lauk pauk sehari-hari. Yang serius, pasti mikir deh.

Buat yang jomblo, jangan ikut-ikutan pacaran deh atau yang sudah pernah pacaran, jangan diulangi lagi ya. Pacaran itu banyakan galaunya daripada senangnya. Banyakan puyeng pikiran daripada plongnya. Banyak ngabisin duit, banyak bikin… Aaah, pokoknya banyak deh. Masa sih harus ditulis satu-satu.

Tinggalkan Balasan