5 Strategi Dalam Menentukan Harga Produk

Bagikan Artikel ini:

Salah satu rahasia kesuksesan bisnis adalah memberi harga yang sesuai bagi produk. Berikan harga yang tepat, maka hal itu bisa meningkatkan penjualan. Sekali saja menjalankan strategi yang salah, maka akan muncul banyak masalah yang menghambat bisnis. “Bisa jadi ini hal tersulit untuk dilakukan,” ujar Charles Toftoy, profesor asosiasi ilmu manajemen di George Washington University. “Menentukan harga adalah perpaduan seni dan sains.” Ada beragam jenis strategi penentuan harga dalam bisnis. Pada akhirnya tidak ada formula pasti, melainkan hanya mendekati. Semua tergantung banyak faktor yang perlu dipertimbangkan, mencakup target konsumen, perbandingan dengan pesaing, hingga memahami hubungan antara kualitas dan harga.

Pebisnis bidang retail seperti online shop bisa menyamakan harga penjualan dengan harga pasaran. Sementara pebisnis bidang industri kreatif yang menciptakan produknya sendiri seperti jenis kerajinan, bisa memasang harga sesuai dengan biaya produksi dan harga kreativitasnya. Penjual barang-barang antik pun bisa menentukan harga berdasar keunikan dan kelangkaan barang. Faktanya, tidak sesimpel itu. Setiap hari, para pebisnis online harus bergelut dan bersaing dengan begitu banyak pesaing. Semua menawarkan harga yang menarik untuk dilirik.

Ada 5 taktik yang dapat dicoba dalam strategi menentukan harga:

1. Charm pricing

Sesuai namanya, penentuan harga ini didasarkan atas tampilannya yang menarik. Jangan pernah meremehkan kekuatan psikologi. Sebuah studi menyatakan, produk dengan harga yang diakhiri dengan angka 9 terjual 24% lebih banyak dibanding produk yang harganya diakhiri angka nol. Hal ini tidak sekadar disebabkan oleh harga yang terlihat lebih murah. Para ilmuwan MIT pernah melakukan riset dengan eksperimen penentuan harga. Mereka menjual tiga pakaian yang sama persis dengan harga berbeda, masing-masing 39 dolar, 30 dolar, dan 44 dolar. Hasilnya, pakaian dengan harga 39 dolar paling banyak terjual. Pikiran manusia sudah terkondisikan untuk menyederhanakan angka dan fokus pada angka pertama di tag harga. Harga produk 399 dolar secara otomatis akan identik dengan harga 300 dolar, walau sebenarnya lebih dekat ke 400 dolar.

2. Prestige pricing

Pernahkah kamu merasa membayar terlalu mahal untuk suatu produk tapi merasa tidak keberatan membayar tinggi untuk produk lain? Ini disebabkan oleh pengaruh nilai suatu produk. Pikiran manusia sering membuat mereka yakin bahwa suatu produk akan membawa kesenangan lebih banyak jika harganya mahal. Penentuan harga berdasar prestise adalah salah satu cara di mana kita bisa meningkatkan nilai penerimaan suatu produk. Ingat, strategi ini hanya bisa dilakukan terhadap produk-produk yang unik. Jika kamu menjual produk generik yang sama dengan begitu banyak yang dijual pesaing, maka strategi ini tidak berlaku.

Kunci dari harga yang prestise adalah paduan harga tinggi dengan tampilan produk yang memukau, branding, didukung review pelanggan. Emosi pelanggan perlu dilibatkan agar mereka dapat menerima harga yang lebih tinggi. Kickstarter sukses dengan strategi ini melalui produk lampunya seharga 59 dolar. Harga prestise juga bisa diberlakukan dengan menambahkan nilai lebih dalam pelayanan, seperti “Jaminan 12 bulan uang kembali” atau “Layanan servis 24 jam 7 hari seminggu”.

3. Price anchoring

Banting harga, demikian istilah yang tepat untuk menggambarkan strategi ini. “Hari ini saja, dari Rp500.000 menjadi Rp200.000! Cepat, jangan sampai kehabisan!”. Model bisnis inilah yang dijalankan di Groupon Goods dan meraup kesukesan 100%. Ada desakan untuk segera membeli barang-barang, sebab waktunya ditentukan dalam tempo sangat singkat. Pembelanja termakan oleh rayuan “banting harga”, sampai tidak sempat membandingkan harga dengan online shop lain. Padahal bisa jadi harganya hanya beda tipis atau sama saja.

4. Math pricing

Kalau kamu orang yang menyukai angka-angka, sesekali tentukan harga produk dengan cara matematika klasik. Cara paling sederhana adalah temukan berapa biaya produksi, ditambah biaya pengemasan, pengiriman ke pelanggan, dan tambahkan margin profit. Jika barang itu barang generik yang juga dijual para kompetitor, tambahkan margin profit 20%. Tapi jika barang itu hasil produksi sendiri, tambahkan margin profit 50%. Sebagai contoh, Bob menjual USB flash kapasitas 32GB. Dia membelinya secara borongan seharga 5 dolar per unit. Ditambah biaya pengiriman dari supplier ke Bob sebesar 5,9 dolar. Dia butuh biaya pengemasan 50 sen. Biaya pengiriman ke pelanggan sebesar 1,90 dolar. Total biaya adalah 8,30 dolar, ditambah 20% menjadi 9,96 dolar.

5. Keunggulan kompetitif

Dalam berbelanja, orang dengan mudah keluar masuk toko untuk membandingkan harga. Lebih mudah lagi, di era belanja online, di mana orang cukup hanya mengklik beberapa online shop untuk mengetahui harga-harga. Atau buka saja Google Shopping, di mana semua produk bisa diketahui spesifikasi dan harganya. Menentukan harga berdasar “keluar masuk toko” lalu mengambil keputusan harga paling rendah. Berusaha mencari harga yang sekiranya paling menarik bagi konsumen. Apakah itu bijak? Coba untuk berpikir sebagai konsumen. Ketika membeli suatu produk, apakah kita hanya mempertimbangkan harga saja? Betulkah kita selalu mencari yang termurah? Bagaimana dengan kualitas layanannya? Sebuah online shop bisa saja memberi harga paling murah, tapi pengiriman barangnya bisa makan waktu beberapa hari, dalam kemasan yang kurang menarik. Sementara online shop lain yang hanya terpaut beberapa ribu rupiah saja bisa mengirimnya dalam sehari, dengan kemasan yang lebih baik. Mana yang kamu pilih? Persaingan bisnis selalu melahirkan pihak yang lebih unggul dari yang lain, termasuk dari sisi harga. Tapi perlu dipertimbangkan lagi, apakah dengan memberi harga termurah dapat menjadi jaminan bahwa kamu akan unggul? Ada banyak faktor yang membuat sebuah online shop laku keras, dan bukan cuma harga.

Harga yang Dinamis

Sadarkah kamu, beberapa online shop sering kali mengubah-ubah harga produk? Inilah yang disebut sebagai harga dinamis atau dynamic pricing, yaitu strategi penentuan harga yang berubah sesuai dengan permintaan dan ketersediaan. Cara ini memungkinkan penjual menaikkan dan menurunkan harga secara fleksibel demi mendapatkan keuntungan. Biasanya mereka menggunakan software khusus untuk memindai informasi dari online marketplace besar seperti Amazon setiap 10 menit, demi mengetahui harga, ketersediaan barang, dan penjualan. Amazon sendiri menggunakan strategi serupa, dengan mengubah harga sejumlah produknya, rata-rata 10 menit setiap hari. Hasilnya? Perusahaan itu mengalami peningkatan penjualan 27,2% dari 2012 ke 2013. Walmart dan Best Buy pun melakukan strategi serupa.

Harga yang Dinamis by pexels.com

Bagaimana menentukan taktik harga dinamis ini? Berikut beberapa di antaranya:

1. Harga yang tersegmen

Taktik menaikkan harga dengan menawarkan layanan premium untuk segmen khusus. Misalnya, menyediakan produk edisi terbatas, dengan kemasan spesial, dan layanan yang berbeda dengan layanan kebanyakan.

2. Harga puncak

Penjual mengambil keuntungan dengan menaikkan harga ketika terjadi permintaan yang besar. Suatu produk dalam jumlah terbatas di pasaran diminati oleh banyak orang, sehingga produk tetap akan laku walau harganya dinaikkan. Taktik ini bisa dipakai dalam momen khusus, seperti ketika suatu klub sepak bola bertanding, sehingga orang berlomba mendapatkan pernak-pernik orisinal yang langka di pasaran.

3. Harga berbasis waktu

Cara ini sudah banyak dipakai sejumlah vendor. Ketika Xbox 360 baru dirilis, harganya 399 dolar. Namun begitu Xbox One yang lebih canggih muncul, harga Xbox 360 diturunkan menjadi 299 dolar.

4. Harga penetrasi

Mencoba memperkenalkan produk baru tapi belum yakin konsumen bisa menerimanya? Penjual bisa memasang harga serendah mungkin agar konsumen tertarik untuk membelinya. Setelah produk itu populer, penjual dapat menaikkan harganya perlahan-lahan. Semakin sengit kompetisi bisnis e-commerce, membuat para pemilik online shop semakin rajin memonitor kompetitornya. Intinya, bagaimana membuat para pembelanja membanjiri online shop kita bukan saja karena harganya yang menarik, melainkan juga karena mereka benar-benar percaya bahwa produk dan layanan kita memang unggul.

Sumber: buku 99 Langkah Sukses Berbisnis E-Commerce

Bagikan Artikel ini:

1 tanggapan pada “5 Strategi Dalam Menentukan Harga Produk”

  1. Pingback: Harga Kapsul Bioenergi Berapa ...........................................???

Tinggalkan Balasan