5 Kunci Memenangkan Persaingan Dalam Inovasi Bisnis

  1. Informasi

Ide kreatif terlahir dari analisis yang baik. Oleh karena itu, ‘isi diri’ kita dengan informasi dari berbagai sumber, di antaranya lapor an keuangan, peta persaingan, artikel tren bisnis, dan lain sebagainya. Analisis semua informasi itu, lalu tulis ide-ide yang terlintas. Misalnya, bisnis kita adalah toko roti. Lalu, kita melihat tren “ngopi” cantik. Para wanita senang bertemu sesamanya, menghabiskan waktu dengan mengobrol, dan makan cemilan, meski tidak ada kopi di meja mereka. Inilah kesempatan kita membuka kafe roti yang bisa dijadikan tempat nongkrong.

  1. Inkubasi

Simpan catatan dan tumpukan sumber informasi yang telah kita miliki. Sisihkan sementara waktu. Biarkan semua informasi itu meresap untuk berinkubasi. Biarkan otak kita beristirahat. Lalu, pikirkan hal yang sama sekali berbeda. Kita bisa pergi menonton bioskop, berkebun, atau bertemu dengan teman-teman.

  1. Inspirasi

Sebenarnya dalam proses inkubasi, otak kita menelaah infor masi dan menganalisis masalah sementara kita melaku kan kegiatan lain. Setelahnya, inspirasi bisa tiba-tiba datang dalam bentuk ide! Biasanya ide ini datang pada saat tak terduga; saat kita berkendara, bahkan di tengah malam. Catatlah ide-ide yang muncul sebelum menghilang, segila apa pun ide itu terdengar. Misalnya, membuat kopi lava, kue rasa cokelat dalam kemasan gelas kopi. Di dalam kue berisi cairan kopi dan krim yang dapat dinikmati siapa saja, bahkan bisa disukai oleh konsumen yang bukan pencinta berat kopi. Untuk mempermanis tampilan, kita membayang kan akan menambahkan hiasan lemon atau wafer di atasnya.

  1. Implementasi

Tak terhitung berapa banyak ide bagus yang terbengkalai sia-sia karena tidak dilaksanakan. Menuliskan inspirasi yang muncul merupakan merupakan langkah pertama implementasi. Setelahnya, kita harus bergegas untuk melangkah pada tahap selanjutnya, seperti menyusun rencana, melakukan uji coba, dan sebagainya. Dalam prosesnya, kita bisa memanfaatkan kemampuan yang ada di dalam diri kita, pengetahuan yang kita miliki, atau bahkan memanfaatkan teknologi. Intinya, segera ciptakan produk baru untuk memenangkan persaingan yang semakin ketat.

  1. Bisnis Sukses Tidak Dijalankan Sebagai Usaha Sampingan

Banyak di antara kita yang pernah mendengar kalimat-kalimat semacam ini, “Punya usaha sendiri? Wah, hebat!” Tak peduli betapa kecil atau sederhananya bisnis yang kita jalankan, kebanyakan orang akan memberi penghargaan atas pencapaian kita karena telah memiliki usaha sendiri. Lalu dengan berkembangnya ekonomi bisnis untuk kalangan menengah ke bawah, banyak orang yang berprofesi sebagai pekerja/karyawan mulai menyisihkan sebagian penghasilan mereka untuk memulai bisnis. Mereka tetap bekerja di perusahaan orang lain, tetapi mulai merintis usaha sendiri dengan mempekerjakan karyawan atau dibantu salah satu anggota keluarga.

Masalahnya, menjalankan suatu bisnis, terutama start-up berusia muda, tidak bisa dijadikan sebagai pekerjaan sampingan. Kita membutuhkan perencanaan bisnis yang tersusun dengan baik, mulai dari produk yang hendak diusung, pasar yang dituju, strategi pemasaran yang digunakan, waktu launching bisnis, pengembangan produk, mengelola tim kerja/karyawan, dan sebagainya.

Bisakah semua ini kita lakukan di waktu luang dan di luar jam kerja utama kita?“Ah, tapi kalau langsung berhenti kerja dan memulai bisnis sendiri, risikonya terlalu besar!” Pernyataan ini banyak diungkapkan calon entrepreneur yang masih beranggapan start-up bisa dijalankan secara sampingan dan hanya di waktu luang.

Faktanya, semua pekerjaan memiliki risiko masing-masing. Bekerja di perusahaan orang juga ada banyak risiko yang membayangi kita, seperti pengurangan jumlah karyawan, restrukturisasi tenaga kerja, atau berakhirnya masa produktif yang mengharuskan kita pensiun dan akhirnya tetap kehilangan penghasilan.

Jadi, kalau memang sama-sama memiliki risiko, kenapa kita tidak menanggung risiko atas sesuatu yang nantinya menjadi milik kita sendiri?

Sumber: 101 Problem Solving for Entrepreneur

Tinggalkan Balasan