2 Faktor Disfungsi Ereksi (DE) pada Pria dan Pengobatannya

2 Faktor Disfungsi Ereksi (DE) pada Pria dan Pengobatannya

Gangguan ereksi pada pria atau sering pula disebut Disfungsi Ereksi (DE), yaitu keadaan penis tidak mampu mempertahankan kekuatan untuk melakukan hubungan seksual dengan baik, atau sulit mencapai ereksi, sulit bertahan di posisi ereksi, dan gairah seksual juga menurun.

Menurut ahli andrologi dr. Nugroho S, ereksi penis pria ada 4 tingkat:

  • Tingkat 4: Paling keras seperti timun muda.
  • Tingkat 3: Penis besar, tapi tidak seluruhnya keras, bisa penetrasi ke vagina, kira-kira seperti sosis.
  • Tingkat 2 dan 1: Penis kira-kira seperti kue moci, kenyal.
  • Tingkat 4 disebut penis sehat tidak ada DE, sementara di bawah itu sudah ada tanda-tanda DE.

Faktor penyebab Disfungsi Ereksi (DE)

Faktor Psikis

  1. Stres: Beratnya beban pikiran dan tanggung jawab, banyak urusan yang mesti diselesaikan secepatnya, rumah tangga kurang harmonis, anak-anak bandel, beban keuangan, hilang daya tarik terhadap pasangan, atau trauma seksual takut gagal memuaskan pasangan dapat memengaruhi potensi kekuatan penis.
  2. Emosi: Marah, jenuh, jengkel, cemas, baik di rumah ataupun tempat kerja akan memengaruhi suasana di tempat tidur.

Faktor Organik

  1. Obesitas: Kegemukan dapat memengaruhi fungsi seksual dan mengurangi rasa percaya diri. Obesitas juga bisa menurunkan kadar hormon testosteron dalam darah yang penting untuk mengatur potensi seksual pria, sehingga hasrat untuk berhubungan seksual juga turun (libido menurun).
  2. Penyakit: Tekanan darah tinggi, sakit gula, dan kadar lemak tinggi juga berpengaruh terhadap potensi seksual pria. Tekanan darah tinggi merusak lapisan pembuluh darah sehingga mengakibatkan pengerasan dan penyempitan (aterosklerosis), membuat aliran darah utama ke penis terganggu. Hipertensi juga menurunkan kadar testosteron sehingga memengaruhi kemampuan seksual pria. Kadar kolesterol yang meningkat, terutama LDL (kolesterol jahat), menyebabkan timbunan plak pada pembuluh darah dan mengurangi aliran darah pada pembuluh darah penis. Penderita diabetes 2–3 kali lebih berisiko terkena DE dibandingkan orang normal. Kadar gula yang tidak terkontrol dengan baik merusak dinding pembuluh darah dan saraf tepi sehingga mengganggu aliran darah ke penis dan saraf untuk merespons rangsangan seksual. Penyakit Peyronie (adanya jaringan parut di dalam penis), gangguan tidur, gagal ginjal, sirosis, kelebihan zat besi pada darah atau hemokromatosis, sklerodema (pengerasan kulit), penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) yang sering diderita perokok, dan penyakit yang menyerang sistem saraf juga mampu memengaruhi ereksi, misalnya epilepsi, stroke, multiple sclerosis, Alzheimer, Parkinson, dan sindrom Guillain-Barré, hipertiroid (kelebihan hormon tiroid), hipotiroid (kekurangan hormon tiroid), dan hipogonadisme yang menyebabkan kekurangan hormon testosteron.

Gejala Disfungsi Ereksi

Gejala yang menetap, di antaranya:

  1. Sulit mendapatkan ereksi
  2. Sulit mempertahankan ereksi
  3. Keinginan untuk berhubungan seksual menurun

Pengobatan

Penyebab DE multifaktor, saling terkait mulai dari gangguan kesehatan pembuluh darah, saraf, hormonal, struktur penis, dan pengaruh obatobatan tertentu. Otak berperan penting dalam memicu ereksi, juga kondisi psikologis. Sebaiknya dokter terlebih dahulu mencari tahu apa latar belakang DE melalui penelusuran riwayat medis dan pemeriksaan fisik yang diikuti tes penunjang. Jika penyebabnya psikis, sebaiknya disarankan berkonsultasi kepada psikolog atau psikiater.

Obat-obatan yang biasa diberikan dokter antara lain obat perangsang ereksi, atau pemberian hormon testosteron jika terdapat kekurangan hormon tersebut. Obat ini mesti diberikan kepada pasien yang tidak memiliki kontraindikasi karena golongan obat ini menyebabkan pembuluh darah melebar dengan konsekuensi tekanan darah akan turun, sehingga tidak bisa diberikan pada orang bertekanan darah rendah dan sedang mengonsumsi obat yang memperlebar pembuluh darah (golongan nitrat/obat jantung).

Jika dengan pengobatan tidak membuahkan hasil yang diharapkan, dokter mungkin akan merekomendasikan tindakan operasi dengan metode tergantung kondisi. Selain obat, penting juga untuk memperbaiki pola hidup sehat dengan menjaga berat badan tetap proporsional, hindari rokok dan alkohol, stres, juga disarankan untuk olahraga aerobik atau kardio secara teratur.

Penelitian menunjukkan pria dengan diet rendah kalori selama delapan pekan dapat meningkatkan kemampuan ereksi lebih baik. Semua obat yang biasa digunakan untuk DE harus dikonsumsi secara ekstra hati-hati dan harus dengan sepengetahuan atau arahan dokter, jangan asal menggunakan obat-obatan yang dijual bebas.

(Sumber: dr. Hardja Widjaja/Info kita)

Tinggalkan Balasan