Yuk Pahami Fungsi Label Dalam Makanan Kemasan

Seiring berkembangnya industri makanan, makanan kemasan mendapat perhatian semakin besar. Segala jenis makanan dikemas dengan tujuan memperpanjang masa kadaluarsanya, mempertahankan rasa,  menjaga kebersihan dan kerapian, serta pembeli melalui berbagai bentuk, warna, dan tulisan dalam kemasan.

Sebagai konsumen kita harus cermat dan cerdik memilah makanan atau minuman kemasan. Tentunya kita harus mengenal isi yang tertera dalam kemasan makanan, yang terbagi menjadi beberapa bagian seperti cara penyajian, komposisi kandungan isi, informasi nilai gizi, cara penyimpanan, cara penyajian, dan sebagainya.

Beberapa hal yang harus diperhatikan antara lain:

  1. Komposisi (Ingerdients) adalah daftar kandungan isi yang disusun berdasarkan jumlah kandungan, dimulai dari yang paling banyak atau paling berat. Cara termudah melihat komposisi adalah membaca 3-5 item yang disebut pertama kali. Misalnya, jika penderita diabetes ingin minum kopi kemasan, cek apakah gula adalah bahan yang disebut pertama kali atau kedua. Bila ya, sebaiknya penderita diabetes berhati-hati, mengingat dia harus membatasi asupan gula.
  2. Masa kadaluarsa (Expired Date) adalah informasi sampai kapan makanan kemasan masih layak dikonsumsi.
  3. Informasi nilai gizi (Nutrition Facts) adalah informasi mengenai zat gizi yang terkandung dalam kemasan. Agar dapat mengetahiu degan tepat berapa banyak zat gizi yang dikonsumsi, sebaiknya kita mengenal berbagai istilah yang digunakan seperti:
  • Takaran saji (Serving Size): pengukuran standar berdasarkan jumlah yang dianggap biasa dimakan dalam sekali makan atau yang disarankan produsen untuk sekali makan, biasanya menggunakan satuan gram atau mililiter. Takaran saji dapat berbeda dengan yang kita putuskan untuk dikonsumsi. Misalnya, pada satu bungkus keripik tertulis takaran saji 10 gram, sementara berat bersih satu bungkus 140 gram, maka artinya satu bungkus keripik tersebut dihitung untuk 14 kali makan. Jika kita makan sekaligus 1 bungkus, maka semua angka yang tertera (termasuk kalori, jumlah gula, jumlah sodium) harus dikalikan 14.
  • Kalori (Calories): jumlah energi yang terkandung dalam 1 takaran saji.
  • Nutrisi (Nutrients): kandungan berbagai nutrisi dalam 1 takaran saji disertai persentasi kandungan setiap nutrisi  berdasarkan kebutuhan energi 2.150 kkal.

Berdasarkan hal yang perlu diperhatikan adalah:

  • Sodium/natrium atau “salf”: tidak sama dengan garam dapur yang terdiri dari sodium/natrium dan klorida. Untuk menentukan jumlah garam dalam makanan, kalikan jumlah sodium dengan 2,5. Asupan sodium dalam satu hari disarankan tidak lebih dari 2.300 mg.
  • Kolesterol juga yang termasuk harus dibatasi asupannya. Semakin tinggi kolesterol (dalam hal ini “kolesterol jahat”) semakin tinggi risiko terjadinya plak atau sumbatan dalam pembuluh darah.
  • Lemak disarankan 20-35% dari total energi. Batasi atau hindari asupan lemak jenuh (saturated fat) dan transfat.
  • Karbohidrat perlu sangat diperhatikan oleh penderita diabetes.
  • Serat dianjurkan minimal 25-30 gram per hari.
  • Protein dianjurkan untuk dikonsumsi setidaknya 56-59 gram perhari untuk perempuan dan 62-66 gram per hari untuk laki-laki.
  1. Selain tertulis jumlah dalam 1 takaran saji, selalu tertulis juga kandungan seluruh zat nutrisi (termasuk juga kandungan kalori) dalam setiap 100 gram atau 100 ml. Angka ini berguna bila kita ingin membandingkan produk dari produsen yang berbeda.
  2. Klaim label (Label Claims) adalah informasi yang diberikan produsen untuk menggambarkan produknya. Ada beberapa istilah dalam klaim label yang disepakati, yang mungkin belum sepenuhnya dimengerti oleh masyarakat awam:
  • Light: harus mengandung setengah jumlah lemak, setengah jumlah garam, atau seperti jumlah kalori dari produk sejenisnya.
  • Reduced, Less, Fewer: harus mengandung setidaknya 25% lebih sedikit zat gizi yang dimaksud seperti gula, garam, kalori, atau lemak dari produk sejenisnya.
  • Free, without, Zero, No: bukan berarti bebas atau tidak mengandung zat yang dimaksud seperti gula, garam, kalori, atau lemak, melainkan berarti sangat sedikit zat yang dimaksud. Contohnya, bila dikatakan bebas kalori, makanan atau minuman tersebut sesungguhnya mengandung 5 kalori atau lebih sedikit dalam setiap takaran saji; sedangkan bebas lemak artinya setiap takaran saji mengandung 0,5 gram lemak atau kurang.
  • Low: mengandung zat yang dimaksud, seperti gula, garam, kalori, atau lemak yang tidak melebihi anjuran yang direkomendasikan. Low Fat artinya produk tersebut hanya mengandung 3 gram lemak atau kurang pada setiap takaran saji. Low Cholesterol artinya hanya mengandung 20 mg atau kurang kolesterol dalam setiap takaran saji; Low Sodium artinya hanya mengandung 40 mg atau kurang sodium per takaran saji; Low Calorie artinya hanya mengandung 40 kalori atau kurang per takaran saji.
  • High (misahlnya high fiber) menunjukkan produk tersebut mengandung setidaknya 20% dari anjuran yang direkomendasikan untuk asupan zat tersebut.

Kesalahan yang umum terjadi adalah tidak memperhatikan jumlah takaran saji. Seluruh perhitungan dan kandungan yang tertulis dalam kemasan adalah berdasarkan takaran saji. Perlu digarisbawahi bahwa takaran saji berbeda dengan porsi makan. Porsi makan adalah jumlah yang kita putuskan untuk dikonsumsi. Jika tertulis takaran saji 100 ml, kita harus lihat lagi berat bersih kemasan. Jika berat bersih 250 ml, dan kita minum sekaligus satu kemasan, artinya konsumsi kita 2,5 kali lebih banyak dibanding takaran saji sehingga seluruh angka yang tercantum harus dikalikan 2,5.

Teliti sebelum membeli agar tidak salah pilih dapat membuat kita lebih sehat. Persaingan bisnis makanan atau minuman kemasan membuat produsen berlomba-lomba dengan berbagai cara agar produknya terlihat lebih baik, lebih enak, dan lebih sehat. Jangan mudah tergiur dan akhirnya terjebak tulisan atau gambar pada kemasan. Apa yang tertulis pada kemasan memang benar apa adanya, tetapi kita akan mudah terjebak jika tidak memahaminya.

Semua yang masuk ke mulut kita adalah hak dan keputusan kita sendiri. Bijak memilih dan memilah sangat menentukan kesehatan kita sekarang dan kemudian hari.

Source: dr. Susanti (Info kita)

Tinggalkan Balasan