Shalat Dhuha sebagai Salah Satu Kunci Rezeki dan Kekayaan

Bagikan Artikel ini:

Dalam meraih setiap keinginan dan cita-cita dalam hidup ini, setiap hamba hendaklah memadukan antara unsur usaha (ikhtiar) semaksimal mungkin, dan juga disertai dengan doa kepada Allah subkhanahu wa ta’ala sekhidmat mungkin. Sebab Allah subkhanahu wa ta’ala memerintahkan kita agar berusaha mencari karunia yang telah disediakan oleh-Nya di muka bumi ini, yaitu dengan beekrja secara profesional dan penuh dengan ketekunan. Namun, ikhtiar saja tidaklah cukup. Sebagai hamba, kita semua ini adalah makhluk yang lemah dan sangat membutuhkan uluran tangan dari Dzat yang telah menciptakan dan menyiapkan rezeki untuk kita. Oleh karena itu, di samping usaha yang kita lakukan kita harus selalu berdoa dan memohon kepada Allah subkhanahu wa ta’ala agar berkenan melimpahkan rexeki yang barakah kepada kita. Seba, Dialah pemilik segalanya.

Dengan ikhtiar dan doa, sebenarnya kita menunaikan bentuk ibadah kepada Allah subkhanahu wa ta’ala, karena keduanya sama-sama diperintahkan-Nya. Jika unsur ikhtiar kita tinggalkan, ini berarti sama saja “omong-kosong” di samping mengabaikan salah satu bentuk ibadah yang diperintahkan. Dan jika unsur doa yang kita lupakan, sama artinya kita memiliki sifat sombong. Sebab, itu berarti menyandarkan segala keberhasilan dan kesuksesan kepada diri ita, ilmu kita, wawasan kita, profesionalisme kita, dan seterusnya. Sama seperti kesombongan Qarun yang dikisahkan di dalam Al Quran.

Oleh karena itu, kedua unsur ini harus selalu kita padukan di dalam menjalani kehidupan, khususnya dalam mencari karunia Allah subkhanahu wa ta’ala, agar apa yang kita harapkan itu bisa diraih, membawa barakah, serta mendatangkan pahala di sisi Allah subkhanahu wa ta’ala.

Keberhasilan usaha yang dilakukan oleh seorang mukmin tidaklah diukur dengan kalkulasi materi semata. Rezeki tidak harus berupa materi. Jika kita sudah berusaha dan berdoa, namun ternyata belum ada hasilnya, atau kurang optimal, itu bukan berarti sia-sia. Sudah ada pahala di sisi-Nya dan ada pula tabungan akhirat nanti manakala apa ayang kita ikhtiarkan dan kita mohonkan kepada Allah subkhanahu wa ta’ala itu belum terwujud di dunia yang sementara ini.

Dari sisi lainnya, kita sebenarnya tidak tahu persis akan rahasia ghaib yang disimpan Allah subkhanahu wa ta’ala berkenaan dengan diri kita. Betapa banyak orang yang diberi keluasan materi oleh Allah subkhanahu wa ta’ala  justru menjadikannya banyak berbuat maksiat. Betapa banyak orang yang memiliki harta yang berlimpah, justru dihinggapi berbagai penyakit sehingga tidak bisa menikmati apa yang dimilikinya.

Sebaliknya, betapa banyak pula orang yang tampak hanya memperoleh materi ala kadarnya, namun ternyata ia bisa menikmatinya, merasa puas (qanaah) dengan apa yang ia terima, serta diberi kesehatan lahir dan batin-baik dirinya sendiri maupun keluarganya-serta berbagai kelebihan dan keuntungan lainnya. Ini yang sering kita lupakan. Padahal, ini semua adalah rezeki yang besar dan nikmat dunia yang tak terhingga.

Shalat adalah salah satu di antara kunci-kunci rezeki dengan pengertian di atas. Bahkan dapat dikatakan sebagai kunci utama. Sebab, berbagai kunci rezeki  lain seperti istighfar dan taubat, tawakkal dan beribadah kepada Allah, menegakkan syariat-Nya, serta berdoa kepada Allah dan berdzikir, semuanya terangkum dalam ibadah shalat.

Isyarat yang lebih mengena, berkenaan dengan shalat Dhuha adalah  karena shalat ini dikerjakan ketika seseorang