Sandiaga Uno and The Power of Dhuha

“Ibadah itu kalau sudah rutin kita lakukan bukan lagi menjadi sebuah kewajiban tapi menjadi sebuah kebutuhan. Jadi, kalau aku nggak salat dhuha sekali aja, tiba-tiba ada sesuatu yang hilang, aneh rasanya.”

“Hahahaha… saya juga bingung dari mana orang bisa menilai kekayaan saya. Saya sendiri nggak yakin kekayaan saya sebanyak itu. Tidak  ada perasaan apa-apa. Target saya kan, bukan untuk mengumpulkan kekayaan, tapi agar menjadi manusia yang baik dan bisa memberi manfaat kepada orang banyak.”

Demikian tutur Sandiaga Uno, menanggapi lansiran majalah Forbes pada tahun 2012 yang menempatkannya dalam 40 jajaran orang terkaya se-Asia dan orang terkaya peringkat ke-29 di Indonesia dengan total aset Rp8 triliun. Tahun sebelumnya (2011) menempatkan Sandiaga Uno dalam urutan ke-37 dengan total kekayaan US$660 juta.

Ketika dikonfirmasi, dia mengatakan, “Wah, itu milik Allah subhanahu wata’ala, saya hanya ketitipan.” Mas Sandi, demikian pengusaha kelahiran Rumbai, Pekanbaru, 29 Juni 1969 itu akrab disapa. Dia mengaku “tidak sengaja” jadi pengusaha.

“Orang tua saya juga tidak mempersiapkan saya menjadi pengusaha. Mereka lebih suka anaknya mengikuti jejaknya, yakni bekerja di sebuah perusahaan mapan sampai pensiun.” Ungkap putra pasangan dari Mien Uno dan Razik Halif Uno tersebut. Dia mengatakan bahwa ketika mulai menginjak usia remaja, dirinya bertekad ingin menjadi banker.

“Berkarier di sebuah perusahaan/bank ternama hingga mencapai posisi puncak!” begitu tekadnya.

Lulus dari Whicita State University, Kansas, Amerika Serikat, pada 1990, Mas Sandi sempat menjadi karyawan yang baik di berbagai perusahaan besar, yaitu Bank Summa (Astra Group), Pacific Century Group Singapura, dan Millebium Pacific (Singapura sebagai investment manager).

Selangkah lagi, dia mencapai impiannya tatkala sudah menduduki jabatan sebagai Executive Vice President di NTI Recources, Ltd., Kanada. Akan tetapi, man proposes but God disposes. Dia keburu terkena PHK pada 1997 sebelum menjadi President di perusahaan tersebut.

Dia lantas pulang ke Indonesia lalu bersama teman-teman SMA-nya mencoba mendirikan sebuah perusahaan. Bersama P. Roeslani, dia mendirikan Recapital Advisor tahun 1997. Lalu, tahun 1998 bersama Edwin Soeryadjaya, dia mendirikan Saratoga Capital.

Saat memulai usaha sendiri, Mas Sandi mengaku sering mengalami penolakan dari calon klien yang diprospek. Bahkan, saking seringnya ditolak, Mas Sandi dengan bendera perusahaan jasa konsultasi keuangan Recapital sempat menyerah.

“Saking banyaknya penolakan, kepercayaan saya sedikit memudar,” tutur Mas Sandi di acara “d’Preneur” di Mega Lounge Menara Bank Mega Lantai 19, Jakarta.

Titik balik kesuksesan pertama Mas Sandi ketika bertemu Pemimpin Jawa Pos. Waktu itu, Mas Sandi nekad mencegat calon kliennya itu di depan kantornya. Lalu, Mas Sandi mengikutinya masuk lift. Saat itu, pemimpin Jawa Pos itu memberi Mas Sandi kesempatan untuk bicara. Mas Sandi pun hanya berbicara selama tiga menit. Akhirnya, Mas Sandi diberikan kesempatan menjadi penasihat keuangan Jawa Pos. Itulah klien pertamanya.

Apa yang membuat Pemimpin Jawa Pos itu tertarik pada penawaran Mas Sandi? “Pak, Saya Sandiaga Uno dari Recapital, menawarkan jasa restrukturisasi. Bapak nggak perlu bayar kalau nggak berhasil,” Mas Sandi mengungkapkan perkataannya waktu itu yang membuat calon kliennya itu klepek-klepek.

Dua belas tahun kemudian, Saratoga Capital menjelma menjadi salah satu perusahaan investasi terbesar di Indonesia. Korporat ini mempekerjakan lebih dari 20.000 orang. Perusahaan inilah sumber utama kekayaan Mas Sandi.

Mas Sandi juga menjabat sebagai direksi di berbagai perusahaan, diantaranya PT Mitra Global Telekomunikasi Indonesia, PT Adaro Indonesia, PT Indonesia Bulk Terminal, dan Interra Resourcess Limited. Dia juga turut membangkitkan kembali maskapai penerbangan Mandala Air.

Apresiasi pun membanjirinya. Dia meraih Asia 21 Young Leaders Initiative versi Asian Society tahun 2008 serta Entrepreneur of The Year Indonesia Region, Asia Pacific Entreprenurship Award oleh Enterprise Asia tahun 2008.

Mantan ketua HIPMI (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia) ini membeberkan jurus sukses bisnisnya. Pertama, timing is everything maknanya jangan sia-siakan kesempatan emas. Mas Sandi mendirikan perusahaan di bidang private equity persis pada saat Indonesia mulai mengalami krisis moneter pada 1997.

Private equity adalah perusahaan yang mengakuisisi saham perusahaan lain yang dianggap masih murah lalu memperbaiki kinerjanya dan menjualnya kembali dengan harga yang lebih tinggi. Di dunia sepak bola, jurus ini digunakan dengan baik oleh Arsene Wenger. Pelatih Klub Inggris Arsenal yang berkebangsaan Prancis ini dikenal jago memoles pemain tidak dikenal menjadi pesepakbola terkenal. Dalam musim bursa transfer pemain, hampir selalu manajemen Arsenal mendapat untung besar dari jual-beli pemain. Tidak heran jika Arsenal mempertahankan Wenger walau sudah bertahun terkahir tidak berhasil mendatangkan gelar juara apapun.

Nah, kembali ke Indonesia saat krisis tahun 1997-1998, beragam peluang investasi bermunculan lantaran banyak perusahaan yang dijual dengan harga relatif murah. Disinilah timing serta keputusan  bisnis Mas Sandi mendapatkan tempat yang pas. Bisnisnya melesat karena berhadapan dengan timing yang pas, yakni ketika krisis moneter.

Kedua, partner atau rekan kerja yang memiliki chemistry dengan kita dan bisa membangun sinergi. Mas Sandi pertama kali membangun usaha dengan rekannya ketika di SMA. Sahabat lama biasanya cenderung telah memiliki ikatan emosi dan chemistry yang kuat. Team work yang kukuh memang bisa kita bangun jika ada ikatan atau kohesi yang solid di antara para anggotanya.

Ketiga, untuk pengusaha muda, Mas Sandi memberikan tips “etos kerja 4 as”. Kunci sukses ini disampaikannya dalam seminar bertema “Pesta Wirausaha”, yang dimaksuda dengan 4 as adalah keras, cerdas, tuntas, dan ikhlas.

Namun, faktor terbesar yang melatari suksesnya Mas Sandi adalah aspek spiritualitas. Selain tawaduk, sederhana, ringan berbagi, Mas Sandi juga melakoni ritual puasa sunnah yang diajarkan Nabi Dawud (puasa setiap dua hari sekali, sepanjang tahun). Dia pun biasa salat sunnah dhuha setiap pagi.

“Jadi begini, ibadah itu kalau sudah rutin dilakukan bukan lagi menjadi sebuah kewajiban, tapi menjadi sebuah kebutuhan. Jadi, jika aku nggak salat dhuha sekali saja, tiba-tiba ada sesuatu yang hilang. Aneh rasanya,” tutur Mas Sandi tentang kebiasaannya itu.

Dampak salat dhuha begitu luar biasa. “Saya merasakan sekali hikmahnya. Sudah sekitar 7-8 tahun ini saya rutin melakukannya, rezeki itu seperti nggak dicari. Semua datang sendiri, seperti diantar rezeki itu,” ungkapnya sambil mengutip judul buku seorang sahabatnya, Mas Mono, bos ayam bakar.

Sumber: Kun Fayakuun for Business by PPPA Daarul Qur’an

Tinggalkan Balasan