Prinsip Hidup Elang Gumilang, Fokuslah pada Karya, Manfaat, dan Menjadi Solusi Bagi Permasalahan Bangsa

Ketika sedang asyik mencuci mobil di depan rumahnya, Elang Gumilang didatangi penajaja koran.

“Koran, Bang,” katanya.

“Enggak, sudah langganan,” sahut Elang sambil khusyuk mencuci mobil.

“Kompas, Media Indonesia, Pos Kota …. “ si tukang koran bersikukuh.

“Enggak, saya sudah langganan koran,” Elang menandaskan.

“Ya udah ni Abang baca dulu aja, besok saya ke sini lagi,” tanpa menunggu persetujuan tuan rumah, tukang koran itu meletakkan satu eksemplar dagangannya di teras rumah. Dia lalu menghilang.

Setelah selesai mencuci mobil, sambil melepas lelah Elang iseng menyambar koran yang ditinggalkan tadi. Membaca selintas sudah cukup baginya. Namun, sesaat sebelum menutup koran, mata Elang terpaut pada iklan yang mengumumkan Lomba Wirausaha Muda Mandiri. Iklannya meyakinkan dan penyelenggaraannya pun sebuah bank besar.

“Wah, boleh dicoba nih,” batin pria kelahiran Bogor, 6 April 1985 ini sambil mengkliping iklan tersebut. Singkat cerita, Elang mengikuti prosesi perlombaan, mulai dari membuat paper sampai presentasi. Pesan yang disampaikannya adalah wirausaha, bukan teori melainkan ilmu aplikatif.

Akhirnya, pada malam pengumuman di Hotel Nikko Jakarta, tim juri memutuskan bahwa yang menjadi juara adalah Elang Gumilang. Pemuda ini terkejut, lantaran saat itu omzet dan return usahanya masih kalah jauh dibandingkan para pengusaha lainnya.

Dari Juara 1 Wirausaha itu, Elang membawa hadiah sebesar Rp20juta, ditambah tawaran kuliah S2 di Universitas Indonesia. Inilah salah satu tonggak pencapaiannya menuju wirausaha yang sukses dan berkarakter.

Lalu siapa penjaja koran yang ngotot menawari dan memberinya koran itu? Entahlah, dia tidak akan pernah kembali lagi. Mungkin dia malaikat, sebagai perpanjangan tangan Tuhan untuk mendatangkan rezeki yang min haitsu layahtasib.

Pengalaman itu, kelak mengantarkan Elang menjadi pebisnis properti yang berpihak pada kaum duafa. Dia berhasil meyakinkan Bank Tabungan Negara (BTN) untuk bekerjasama menyediakan kredit pemilikan rumah sederhana bersubsidi (KPRS) bagi masyarakat berpenghasilan di bawah Rp2,5 juta. Deal, BTN setuju.

Pada tahun 2007, Elang Group menjual rumah murah. Harganya mulai Rp25 juta (tipe 21/60) dan maksimal Rp55juta (tipe 36/72). Uang muka hanya 1,5 juta dengan cicilan Rp25-90 ribu per bulan selama 15 tahun.

Proyek perdana Elang Group di Perumahan Griya Salak Endah berhasil. Sebanyak 450 unit rumah terjual. Pembelinya adalah buruh, pedagang, tukang tambal ban, dan guru.

“saya tergerak menyediakan rumah murah karena banyak orang kecil kesulitan membelinya,” ujar Elang.

Tahun 2008, Elang membangun lagi perumahan bukit Warna Sari Endah, Cilebut, Bogor. Ekspansi perumahan Griya Salak Endah II juga sukses. Tahun 2009, Elang mengambil proyek Griya PGRI di Ciampea yang tidak bisa diselesaikan oleh pengembang iklan.

Selanjutnya, sulung dari tiga bersaudara keturunan pasangan H. Enceh dan Hj. Prianti ini menggarap tiga proyek baru di Citayam Residence, Kampung Soenda Cigudeg, dan Mekarsari Elok Residence, Cileungsi. Dari modal Rp300 jutaan, kini proyek Elang Group menembus puluhan miliar.

Jiwa wirausaha alumnus IPB ini mulai terasah saat duduk di bangku kelas 3 SMA 1 Bogor. Dengan tekad ingin bisa membiayai kuliahnya sendiri, alumnus SDN Pegadilan 4 Bogor dan SMPN 1 Bogor ini mematok target harus memiliki uang Rp10juta setelah lulus SMA.

Tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya, Elang berjualan donat keliling. Setiap hari dia mengambil 10 boks donat masing-masing  berisi 12 donat dari pabrik untuk kemudian dijajakan ke Sekolah Dasar di Bogor. Ternyata lumayan juga, dari hasil jualannya, setiap hari Elang bisa meraup keuntungan Rp50ribu.

Ketika Elang harus berhenti berjualan donat karena akan ujian, hal itu tidak membuatnya berhenti mencari peluang untuk mendapatkan uang. Dia ikut lomba Java Economic Competition se-Jawa pada tahun 2003 yang diselenggarakan Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB. Elang berhasil menjuarainya.

Begitu pula saat Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (UI) menyelenggarakan kompetisi Ekonomi, Elang berhasil menjuarai juara ketiga. Hadiah uang yang diperolehnya dari setiap perlombaan, dia kumpulkan sebagai modal kuliah.

Sebagai juara Economic Competition 2013, Elang masuk Fakultas Ekonomi IPB secara gratis. Di IPB jiwa bisnisnya berkembang lagi. Dia pernah berjualan sepatu di asrama mahasiswa. Dia juga pernah menjadi pemasok lampu untuk kampusnya. Minyak goreng adalah dagangan selanjutnya.

Atas nasihat seniornya, Elang beralih dari bisnis yang mengandalkan otot ke bisnis yang mengandalkan otak. Memasuki tahun ketiga kuliah, dia dan 12 kawannya membuka kursus Bahasa Inggris, English Avenue, di kampusnya dengan modal Rp21 juta. Elang menjadi direkturnya. Sambil mengisi waktu luang, dia menyambi menjadi tenaga pemasaran salah satu perusahaan properti di Bogor. Tidak ada gaji, hanya mendapat komisi jika berhasil menjual rumah.

Gaya hidupnya mulai berubah saat memasuki kuliah semester lima. Pada siang hari, Elang bak singa padang pasir. Selain kuliah, dia jua menjalankan bisnis mencari peluang-peluang bisnis baru, negosiasi, melobi, dan sebagainya. Namun, ketika malam tiba, dia harus menjadi pelayan Tuhan, dengan menjadi penjaga masjid.

“Setiap malam dari semester lima saya tinggal di masjid yang berada dekat terminal bogor. Dari membersihkan, mencuci, dan membukakan pintu pagar masjid untuk orang-orang yang akan shalat subuh, semua saya lakukan.” Ujarnya.

Elang mengaku ketika menjadi penjaga masjid, dia mendapat kekuatan pemikiran yang luar biasa. Bagi Elang, sebagai sarana ibadah, masjid juga tempat yang sangat mustajab untuk merenung dan memasang strategi.

“Dalam halaman masjid itu juga ada pohon pisang dan di sampingnya gundukan tanah. Saya anggap itu adalah kuburan saya. Ketika saya punya masalah saya merenungkan kembali kata-kata Nabi, “orang yang paling cerdas adalah orang yang mengingat mati.” Ujarnya.

Berbeka pengalaman menjadi sales pengembang, Elang nekad berbisnis sendiri. Pada tahun 2005, penggemar traveling itu mencoba ikut tender rehabilitasi sekolah dasar di Jakarta. Nasib baik. Proyek senilai Rp160juta digenggamnya. Dia makin percaya diri menggeluti dunia properti.

Pada tahun 2006, di Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia, dia mengubah akta perusahaan yang hampir tutup menjadi Elang Group. Tanah yang tidak terpakai milik sebuah instansi di Cinangneng, Kabupaten Bogor, diliriknya. Sayang, modalnya cekak. Bank juga enggan mendanainya. Tidak menyerah, Elang mengajak lima kawannya dan terkumpullah uang Rp340juta. Dari sinilah kesuksesan Elang di bidang properti dimulai hingga sempat membuat skripsinya di IPB terkatung-katung hingga tahun keenam.

“Sudah lebih dari 25 kali ganti draf skripsi, “ ujarnya sambil bersyukur akhirnya lulus juga dari Departemen Fakultas Manajemen IPB.

Elang menegaskan bahwa kesuksesan yang dia raih saat ini bukanlah sesuatu yang instan. Butuh proses dan kesabaran untuk mendapatkan semua ini, tidak ada sesuatu yang bisa dicapai secara instan.

Dengan berbagai kesuksesan di usia muda itu, Elang tidak lupa diri dengan hidup bermewah-mewahan. Elang justru semakin mendekatkan diri kepada Allah. Salah satu wujud rasa syukur atas nikmatnya itu, dia selalu menyisihkan 10% dari setiap proyeknya untuk kegiatan amal. Uang yang 10% itu dimasukkan ke BMT (Baitul Mal Wa Tanwil/tabungan) pribadi dan dialokasikan untuk membantu orang-orang miskin serta orang yang kurang modal. Bagi Elang, dalam materi saat ini dia miliki ada hak orang miskin yang harus dibagi.

Selain menyisihkan 10% dari hasil proyeknya, Elang juga memberikan sedekang mingguan, bulanan, bahkan tahunan kepada fakir miskin. Bagi Elang, sedekah itu tidak perlu banyak, tapi yang paling penting adalah kontinuitas dari sedekah tersebut. Meski jumlahnya kecil, tapi jika dilakukan secara rutin, itu lebih baik daripada banyak, tetapi tidak rutin.

Tinggalkan Balasan