Pentingnya Menetapkan Target Menghafal Al Quran Agar Tidak Mogok di Tengah Jalan

Hal pertama yang harus diperhatikan sebelum mulai menghafal Quran adalah niat. Sekali lagi, N-I-A-T! Amalan apa pun yang dikerjakan harus memperhatikan niat. Niatnya bagaimana? Cara niatnya, tanamkan di dalam hati sedalam-dalamnya bahwa hal yang kita lakukan semata-mata hanya mengharap keridaan Allah Subhanahu wa ta’ala., bukan mengharap yang lainnya.

Niat inilah yang merupakan roh segala macam ibadah. Ibarat jasad, tanpa roh, ia enggak akan bisa apa-apa, bahkan mati. Begitu pun dalam hal ibadah. Ketiadaan niat atau kesalahan dalam berniat akan sangat berpengaruh terhadap pahalanya. Bahkan, amalan tanpa didasari niat yang lurus tidak akan dinilai oleh Allah Subhanahu wa ta’ala, enggak ada pahalanya.

“Sesungguhnya segala amalan itu tergantung niatnya, dan seseorang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang diniatkannya.” (H.R. Al-Bukhari)

Rasulullah shalallahu alaihi wa salam. pernah memperingatkan kita melalui sebuah haditsnya tentang seorang penghafal Quran yang niatnya hanya pengin dipuji orang. Di akhirat nanti, ia akan dipanggil ke hadapan Allah Subhanahu wa ta’ala. untuk menjelaskan alasan sebenarnya ia mempelajari Quran. Sabdanya,

Dan seseorang yang mempelajari ilmu (agama) dan mengajarkannya, serta ia juga membaca Al-Quran, maka dibawalah ia (ke hadapan Allah), lalu Allah mengingatkan nikmat-nikmatnya (yang telah diberikannya ketika di dunia), maka ia pun mengakuinya. Allah berfirman: ‘Lalu, apa yang kamu perbuat padanya?’ Ia menjawab, ‘Aku mempelajari ilmu (agama) dan mengajarkannya, dan aku juga membaca Al-Quran karena-Mu.’ Allah membantah, ‘Kamu bohong! Akan tetapi sebenarnya kamu menuntut ilmu agar kamu dikatakan sebagai seorang alim, dan kamu membaca Al-Quran agar dikatakan: ‘ia adalah seorang qari’!’ dan kamu telah disebut demikian (ketika di dunia).’ Maka diperintahkan agar ia diseret di atas wajahnya sampai ia dilemparkan ke dalam neraka. (H.R. Muslim)

Kalau niat kita sudah benar, walaupun belum mulai dihafal, malaikat sudah mencatatkan pahala kebaikan untuk kita. Demikian pula dalam hal amalan-amalan lainnya. Enggak ada yang akan sia-sia di hadapan Allah, sekecil apa pun amalannya pasti dibalas dengan pahala kebaikan.

Kalau kita belum lancar membaca Al-Quran yang ada malah nanti kita kesulitan. Oleh karena itu, kalau memang bacaan kita masih belum lancar, jangan dulu maksain buat langsung menghafal, lebih baik fokus aja buat ngelancarin bacaannya. Perhatikan tajwidnya, perhatikan juga cara pengucapan tiap huruf-hurufnya.

Kalau kita pernah masuk pesantren tahfiz, pasti kita akan mengenal yang namanya tahsinul qira’ah. Apa itu? Tahsinul qira’ah dalam hal ini adalah tahapan yang harus dilewati oleh seorang santri penghafal Quran, yaitu memperbaiki dan memperbagus bacaan Quran sebelum mulai menghafalnya. Kalau memang bacaannya sudah benar-benar layak, baru boleh masuk pada tahapan menghafal.

Lamanya tahsinul qira’ah itu berbeda-beda tiap penghafal, bergantung pada kualitas bacaan yang sudah dikuasai. Jika bacaannya sudah cukup bagus, berarti hanya perlu diperbaiki beberapa hal saja sehingga proses tahsinul qira’ah ini pun akan cepat selesai. Ada pun kalau bacaannya masih perlu banyak perbaikan, tahapan ini bisa saja memakan waktu hingga berbulan-bulan.

Sepenting apa sih tahsinul qira’ah itu?

Target Menghafal Al Quran 2 by flickr.com

Pertama, tahsinul qira’ah bisa dikatakan sebagai salah satu syarat utama sebelum menghafal Quran.

Kedua, biar enggak perlu memperbaiki bacaan ayat-ayat yang sudah dihafal karena kalau kita menghafal Quran sedangkan bacaannya masih salah, pengucapan huruf-hurufnya belum tepat, biasanya lumayan susah untuk mengubahnya nanti. Apalagi kalau hafalan itu udah mendarah daging, butuh waktu lama untuk memperbaikinya. Lain halnya kalau sudah diperbaiki sebelumnya.

Ketiga, agar hafalan yang dikuasai benar-benar menjadi hafalan yang berkualitas. Kalau diperhatikan, kita enggak jarang menemukan hafalan surat-surat pendek yang bacaannya seperti asal bunyi. Tajwidnya tidak diperhatikan, apalagi pengucapan huruf-hurufnya sehingga kita hampir enggak bisa membedakan mana huruf jim dan mana huruf zay, mana huruf syin dan mana huruf shad.

Keempat, agar proses menghafal Al-Quran terasa lebih mudah. Mereka yang menghafal Al-Quran sementara bacaannya belum benar harus berjuang lebih ekstra. Selain harus berjuang merekam setiap ayat-ayat ke dalam memori, mereka juga harus berjuang dengan bacaan yang masih terbata-bata.

Lalu, bagaimana solusinya kalau memang kenyataannya bacaan kita belum lancar dan belum fasih?

Mau enggak mau, kita harus belajar kepada mereka yang memang sudah ahli membacanya. Enggak cukup sampai di situ saja, kita juga harus sering-sering menyempatkan diri untuk membaca Al-Quran sebanyak-banyaknya agar lidah kita semakin lentur dan lisan kita semakin terbiasa mengucapkan huruf-huruf Quran.

Kalau kamu pengin menghafal Quran sampai selesai dan enggak mogok di tengah jalan, sangat penting sekali menetapkan target. Berikut ini setidaknya ada dua alasan paling pokok mengenai pentingnya target.

Pertama, kita bisa fokus pada tujuan utama karena bukan tidak mungkin di tengah perjalanan kita akan tertarik kepada hal-hal lain. Misalnya, pengin punya keahlian ini atau keahlian itu yang akhirnya semua hanya bisa dicapai setengah-setengah. Hafalan Qurannya setengah-setengah, keahliannya juga setengah-setengah.

Kedua, agar selalu semangat. Ketika kita mengingat-ingat target biasanya akan muncul dorongan untuk cepat-cepat menyelesaikan target hafalan yang diinginkan.

Bagaimana sih caranya menargetkan hafalan Quran? Paling tidak, target hafalan Quran ini harus kita bagi ke dalam beberapa bagian berikut.

Pertama, buatlah target hafalan yang harus dicapai.

Misalnya, berapa juz atau berapa surat yang akan ditargetkan. Mendingan kita menargetkan 30 juz aja sekalian karena kalau pun kita enggak bisa menghafal sampai 30 juz, minimal dapatnya 20 juz. Kan, lumayan.

Kedua, targetkan waktu yang harus dihabiskan.

Artinya untuk dapat mencapai target hafalan itu, kita harus menetapkan juga target waktu yang akan kita gunakan untuk menghafal. Kalau bisa target waktunya jangan lama-lama.

Ketiga, targetkan berapa banyak hafalan dalam sehari.

Cara nentuin-nya gampang aja, 30 juz terdiri atas berapa halaman mushaf, lalu dibagi dengan target lama hari yang akan digunakan untuk menyelesaikan target itu. Nanti, kita akan mengetahui berapa halaman yang harus dihafalkan dalam sehari.

Keempat, targetkan hari apa saja yang akan digunakan untuk menghafal.

Kita sebagai manusia pasti butuh refreshing atau liburan. Misalnya, libur menghafal itu hari Jumat atau hari Minggu. Sesuaikan aja sama kesibukan dan keinginan kita masing-masing.

Sumber: LIKE A STAR Jadi Jomblo Hafiz Quran by Cece Abdulway

Tinggalkan Balasan