Pengalaman Itu Lebih dari Ijazah

Bagikan Artikel ini:

Pengalaman adalah guru terbaik. Itu juga berlaku dalam dunia kerja, khususnya bagi Anda yang berencana beralih profesi. Pengalaman yang sudah dimiliki dapat Anda manfaatkan dalam pekerjaan selanjutnya.

Akan tetapi, banyak orang ragu mengambil langkah untuk beralih profesi karena takut tidak bisa mendapatkan pekerjaan yang diinginkan, terlebih jika tidak memiliki pengalaman kerja di bidang tersebut. Padahal, pengalaman kerja sebelumnya selalu diperhitungkan untuk profesi yang diinginkan saat ini.

Sebenarnya, kalau Anda sudah bekerja selama lima atau sepuluh tahun dalam bidang apa pun, Anda sudah memiliki modal pengalaman kerja yang bisa Anda aplikasikan ke banyak bidang pekerjaan lain. Pengalaman kerja tersebut akan sangat berguna bagi profesi/pekerjaan selanjutnya kalau Anda tahu bagaimana menggali dan memanfaatkannya. Pengalaman setiap orang berbeda dan unik. Jika dikombinasikan dengan pengetahuan, skill, koneksi dan networking, serta diperkuat dengan ijazah akademik yang dimiliki, tentu akan sangat berguna bagi profesi Anda yang baru.

Apabila Anda pernah bekerja selama lima tahun, misalnya, sebagai pelayan di restoran yang setiap hari dipenuhi pengunjung, berarti pengalaman kerja yang Anda miliki, misalnya: mampu menghadapi beberapa pelanggan sekaligus, mampu bekerja sama dalam satu tim, memiliki kemampuan dalam menghadapi keluhan dan tuntutan pelanggan, mampu menjual, melayani, dan memuaskan pelanggan. Pengalaman kerja yang demikian sebenarnya juga diperlukan dalam bidang profesi lain.

Pengalaman memiliki kekuatan yang lebih daripada ijazah. Seorang insinyur yang berprofesi sebagai kontraktor di luar negeri dan berencana beralih profesi ke bidang public relation di suatu perusahaan tour & travel, memiliki kemungkinan diterima lebih besar bukan karena ijazah insinyurnya, melainkan karena pengalamannya dalam berhubungan dan berbaur dengan orang-orang asing, orang yang berbeda budaya dan bahasa. Jelas pengalamannya itu lebih dipertimbangkan daripada kandidat lain yang tidak memiliki pengalaman hidup di luar negeri dan hanya bermodalkan selembar ijazah dari sekolah pariwisata.

Kreatif dan Inovatif

Orang yang memiliki pikiran kreatif dan inovatif tidak perlu khawatir akan pekerjaan. Ketika pintu di hadapan mereka tertutup, mereka akan tahu ke mana harus mencari pintu lain, bahkan mereka mampu menciptakan pintu sendiri, yang akan menjadi jalan bagi mereka juga bagi banyak orang menuju sesuatu yang baru.

Kreativitas dan inovasi merupakan potensi yang ada di dalam diri Anda karena Anda sebagai manusia dilengkapi dengan otak yang memiliki kemampuan luar biasa. Namun, terkadang Anda tidak memaksakan diri untuk berpikir lebih dari batas-batas yang ada. Sementara orang-orang sukses di luar sana mampu meregangkan pikiran mereka hingga di luar batas, bahkan hingga tidak terbatas. Mereka mampu berpikir out of the box.

Orang yang kreatif berani memikirkan lebih, di luar batas, yang tidak terpikirkan orang lain. Mereka berpikir dengan cara yang berbeda, unik, lucu, dan sering disebut pikiran yang mustahil. Tetapi karena pikiran-pikiran seperti itulah, mereka menjadi kreatif dan mampu menghasilkan penemuan-penemuan baru. Kreativitas bermula dari pikiran dan pikiran itu bisa diasah serta dilatih. Dengan kata lain, kreativitas bisa dilatih dan diasah.

Bagaimana Mengasah Kreativitas?

  • Bertanya seperti anak berumur tiga tahun.

Jadilah seperti anak kecil yang selalu bertanya, “Ini apa?” Ketika dijawab, anak itu kembali bertanya, “Mengapa bisa begitu?”; “Terus?”; “Mengapa?” Menghadapi anak kecil yang terlalu banyak bertanya mungkin membuat Anda kesal, namun keingintahuan seorang anak kecil seharusnya juga dimiliki oleh orang dewasa yang ingin menjadi kreatif dan terus berinovasi.

  • Memecahkan masalah dengan cara yang tidak biasa.

Mencari cara untuk membuat sesuatu yang rumit menjadi lebih simpel. Bill Gates selalu berkata, “Saya lebih memilih orang malas untuk mengerjakan pekerjaan sulit karena ia akan mencari cara paling gampang untuk menyelesaikannya.” Ini berarti Anda harus menjadi orang “malas” dalam arti yang positif. Seorang pemalas senang dengan cara yang singkat dan tidak membuang-buang waktu. Hal yang sama juga dimiliki oleh orang-orang kreatif. Bagi mereka, cara panjang dan rumit sungguh tidak menyenangkan.

Source: SEGERA RESIGN & MULAI BISNIS!

Bagikan Artikel ini:

Tinggalkan Balasan