Pandangan Islam Mengenai Pernikahan yang Benar

Bagikan Artikel ini:

Alangkah indah dan eloknya hidup seorang muslim! Tentunya bila ia berpegang teguh dengan Islam beserta ajaran-ajarannya, hukum-hukumnya, dan adab-adabnya. Alangkah pantasnya apabila pemuda kita menjadikan cahaya Al Quran sebagai lentera hidupnya, dan menjadikan perilaku Nabi-Nya sebagai kebiasaan dan konsep hidup. Karena dengan itu, mereka takkan tergelincir dan menyeleweng dari jalan petunjuk dan lurus serta tidak akan menzhalimi manusia dengan kejahiliyahan baru, dimana banyak manusia terjatuh dalam jeratnya sehingga kehidupan mereka berubah menjadi kebinasaan dan kesengsaraan.

Apakah Pernikahan Mengekang Kebebasan?

Sebagian orang memandang pernikahan sebagai belenggu dan penjara yang membatasi kebebasan manusia serta mengekah keinginan dan kehidupannya dengan rantai yang berat. Maka, Anda bisa menyaksikan ia menjauh dan lari dari pernikahan, serta lebih memilih untuk hidup membujang. Sebabnya, dia tidak ingin masuk ke dalam “sangkar besi” dan menjadi tawanan istri atau keluarga istri. Karena inilah, dia menganggap nikah sebagai laknat dan bukan sebagai nikmat; sebagai adzarakatab; dan bukan menjadi rahmat. Golongan manusia ini, alhamdulillah, jumlahnya sedkiti, meski tidak ada satu masyarakat pun yang terhindar darinya; baik masyarakat berperadaban atau masyarakat terbelakang.

Apakah Menikah Bertujuan untuk Kenikmatan dan Pemuas Syahwat?

Sebagian manusia yang lain memandang pernikahan sebagai kenikmatan, hiburan, dan pemuasan syahwat. Anda bisa melihat ia menikah dan tak lama kemudian melakukan talak. Ia tidak pernah hidup bersama dengan istrinya lebih dari satu tahun. Sebab, ia ingin memperbanyak pernikahan dan membuat variasi dengan dalih bahwa Allah Ta’ala membolehkannya.

“Orang yang miskin” tersebut tidak menyadari bahwa setan sedang mempermainkannya agar ia merusak kehidupannya sendiri; serta menghalanginya dari lezatnya kebahagiaan hakiki. Sesungguhnya meruntuhkan rumah tangga dengan talak (cerai) adalah perkara yang dicintai setan dan dibenci oleh Ar-Rahman.

Orang yang Menghendaki Kehinaan

Adapula jenis manusia yang tidak mau terikat dengan istri. Ia melihat jalan kehinaan terbuka lebar di depannya lantaran kemodernan baru yang menipu. Ia linglung dalam menjalani hidup bak seekor binatang. Ia ingin memuaskan instingnya dengan jalan keji dan hina serta menikmati hidup layaknya binatang tanpa aturan dan tanpa batasan. Ia hanya ingin memuaskan insting seksualnya.

Inilah yang telah dituliskan oleh peradaban Barat kepada kita berupa terbukanya kran kebebasan bagi para pemuda, yakni kebebasan seks, kebebasan bertelanjang, dan kebebasan keluar dari bingkai adab. Orang Barat menamakan kebebasan sebagai dusta, kepalsuan, dan kebohongan. Orang-orang seperti mereka hidup laksana binatang, hidup hanya untuk memuaskan insting dan syahwat mereka.

Pernikahan dalam Islam: Sebuah Ibadah dan Ketaatan

Dalam pandangan Islam, pernikahan merupakan ibadah dan ketaatan. Dengannya seorang mukmin meraih pahala dan balasan, tentu bila ia mengikhlaskan niat, meluruskan kehendak, serta memaksudkan pernikahannya demi menjaga dirinya dari hal-hal yang diharamkan; bukan sekedar dorongan kebinatangan yang menjadi tujuan mendasar dari pernikahan.

Dan kita tidak menemukan makna yang lebih tinggi dan lebih mulia daripada yang dipaparkan oleh Rasulullah tatkala memberikan bimbingan nabawi yang mulia dengan sabdanya:

Dan upaya salah seorang kalian dalam (mendatangi) kemaluan (istrinya) adalah sedekah.” Para sahabat bertanya, “Wahari Rasulullah, akankah salah seorang dari kami mendatangi syahwatnya dan baginya pahala?” Beliau balik bertanya, “Bagaimana menurut kalian bila ia meletakkannya pada yang haram, bukankah ia mendapat dosa?” Mereka menjawab, “Ya.”Rasul pun bersabda, “Demikianlah. Apabila ia meletakkannya pada yang halal, maka baginya pun ada pahala.” [HR Muslim]

Merengkuh Kemuliaan dan Kesucian dengan Kenikmatan Seksual

Coba Anda ceritakan pada saya dengan nama Rabb Anda, “Dien apakah yang lebih mulia dari agama ini, yang menjadikan manusia beroleh pahala lantaran beribadah kepada Allah saat dia menikmati syahwat biologisnya dengan berjimak?”

Adakah keluhuran yang lebih tinggi daripada menjadikan “aktivitas seks” yang pada dasarnya merupakan insting hewani menjadi ibadah di bawah arahan dan kendali aturan agama, sehingga dengannya seorang mukmin dapat mendekatkan diri kepada Rabbnya, sebagaimana ia mendekat kepada-Nya dengan menunaikan salat, puasa, dan zakat?

Sungguh inilah Islam yang agung, yang mengangkat kenikmatan biologis kepada derajat keluhuran dan kesucian; yang mengubah kebiasaan menjadi ibadah; dan yang mengubah syahwat menjadi jalan untuk meraih ridho Allah dengan satu syarat, yaitu niat yang benar untuk mengubah kebiasaan menjadi ibadah.

Hendaklah pernikahan dimaksudkan untuk menjaga diri dari hal-hal yang diharamkan dan mewujudkan tujuan yang karenanya Allah telah menciptakan manusia, yakni menelurkan keturunan yang shalih, yang tanpanya kehidupan takkan mungkin berlanjut dan alam semesta takkan makmur!!

Dengan Halus, Allah Mengingatkan Tujuan Pernikahan

Tujuan dan maksud melestarikan keturunan shalih untuk memakmurkan bumi itulah yang dikehendaki dan diingatkan oleh Allah yang Maha Pencipta pada kita saat Dia membolehkan kita menikmati senggama dengan istri pada malam-malam puasa di bulan Ramadhan yang penuh berkah. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman yang artinya:

Dihalalkan bagi kamu pada malam hari puasa bercampur dengan istri-istri kamu …..” [Al Baqarah: 187]

Artinya dibolehkan bagi kamu, wahai kaum mukmin yang berpuasa, melakukan jimak dan mempergauli istri di malam hari bulan Ramadhan yang penuh berkah. Kemudian Dia Ta’ala berfirman, yang artinya

“ ….. Mereka itu adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasannya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan oleh Allah untukmu ….” [Al Baqarah: 187]

Dia memaknai kata al mubasyaroh dengan jimak. Artinya bernikmat-nikmatlah dengan mereka melalui jalan berjimak di malam bulan Ramadhan, serta carilah keturunan dengan menikahi mereka dan janganlah tujuan kamu dari menikahinya hanya sekedar melampiaskan syahwat. Dan inilah makna firman Allah “ …… Dan carilah apa yang ditetapkan oleh Allah untukmu ….” [Al Baqarah: 187]

Sumber: Pernikahan Islami; oleh M Ali As Shobuni

Bagikan Artikel ini:

Tinggalkan Balasan