Menjaga dan Merawat Telinga agar Tetap Sehat

Bagikan Artikel ini:

Kajian membuktikan bawah informasi yang kita dapat akan lebih banyak diserap melalui  proses mendengar  ketimbang membaca. Telinga berperan besar terhadap kehidupan sehari-hari. Gangguan pendengaran membawa banyak masalah dalam proses berinteraksi dalam hubungan social, serta menurunkan produktivitas, meningkatkan biaya kesehatan, dan mengganggu pekerjaan dewasa.

Indonesia menduduki peringkat ke-4 di Asia Tenggara untuk angka ketulian tertinggi menurut WHO. Berdasarkan hasil Survey Nasional Kesehatan Indera Penglihatan dan Pendengaran, penyebab ketulian berupa infeksi telinga tengah, presbikusis atau tuli usia lanjut karena proses penuaan, tuli akibat obat ototoksik, tuli sejak lahir karena cacat bawaan/kongenital, dan tuli akibat pemaparan suara bising. Penyebab lainnya adalah sumbatan kotoran telinga (serumen prop).

Gangguan pendengaran dapat dideteksi melalui beberapa tanda seperti:

  • Sulit mengerti kata-kata terutama jika keadaan sekeliling sedang bising atau berada dalam kerumunan orang.
  • Sulit mendengar konsonan seperti “f” dan “s”
  • Sering minta orang untuk berbicara lebih jelas, lebih lambat, dan lebih keras.
  • Sering meminta orang untuk mengulangi perkataannya.
  • Merasa telinga tersumbat.
  • Memperbesar volume suara televise atau radio.
  • Lebih sering memerhatikan gerak bibir daripada kontak mata ketika berbicara dengan orang lain.
  • Menghindari percakapan dan acara-acara social yang melibatkan banyak orang.

Gangguan pendengaran dan ketulian dapat disebabkan oleh beberapa hal seperti:

  1. Infeksi telinga, hidung, dan tenggorokan, yang tidak diobati dengan baik dan berkembang menjadi serius serta pada akhirnya dapat menimbulkan gangguan pendengaran sampai ketulian dan gangguan keseimbangan. Infeksi dapat disebabkan oleh virus, jamur, atau bakteri.
  2. Cholesteatoma yaitu perumbuhan kulit di telingan tengah yang tidak normal tetapi bukan merupakan keganasan, biasanya akibat infeksi telinga yang berulang-ulang, pada sebagian kasus kecil terjadi karena adanya cacat bawaan. Gejala awalnya sangat ringan berupa keluarnya cairan berbau busuk dan rasa tidak nyaman serta nyeri di telinga, dan jika bertambah parah, terjadi gangguan pendengaran dan keseimbangan sampai ketulian. Jika tidak dibuang melalui prosedur operasi, cholesteatoma dapat bertambah besar sehingga menekan dan merusak struktur dalam telinga sehingga menyebabkan gangguan pendengaran, gangguan keseimbangan, gangguan pada saraf otot-otot wajah, sampai ketulian.
  3. Pecahnya gendang telinga atau banyak orang menyebutnya sebagai congek, terjadi karena:
  • Infeksi telinga, hidung, dan tenggorokan yang tidak diobati dengan baik.
  • Adanya perubahan tekanan udara misalnya ketika menyelam, naik pesawat, dan sebagainya.
  • Cedera telinga misalnya terkena pukulan atau benturan ditelinga akibat kecelakaan atau saat olahraga.
  • Suara yang terlalu keras, misalnya tembakan senjata api.
  • Luka akibat tergores, tertusuk misalnya ketika membersihkan telingga dengan cotton buds, peniti, atau benda tajam lainnya.
  1. Tinnitus atau suara berdenging, berdesis, atau berdesir terjadi karena adanya infeksi telinga, kerusakan telinga dalam, pertumbuhan tidak normal tulang pendengaran, proses penuaan, efek samping beberapa obat seperti jenis antibiotika atau antidepresi, hipertensi, gangguan pada pembuluh darah, atau adanya sumbatan pada telinga akibat kotoran telinga yang menumpuk. Pengobatannya disesuaikan dengan factor yang mendasari terjadinya tinnitus.

Sebagian besar penyebab gangguan ini sebenarnya dapat dicegah dengan cara kampanye terkait pencegahan dan pengendalian gangguan pendengaran, imunisasi, pindaian, dan deteksi dini gangguan pendengaran pada bayi baru lahir dan manula, serta pengobatan penyakit infeksi pada telinga, hidung, dan tenggorokan.

Jagalah kesehatan telinga dengan cara:

  • Segera hubungi tenaga kesehatan jika terasa gangguan pada telinga, baik berupa gangguan pendengaran, nyeri, gata, suara berdenging, infeksi pada telinga, hidung, dan tenggorokan.
  • Jaga agar telinga tetap kering
  • Gunakan pelindung telinga sewaktu terpapar suara nyaring.
  • Hindari paparan suara yang nyaring misalnya dengan membatasi volume suara televisi, radio, dan terutama earphone.
  • Bersihkan anting-anting atau giwang secara teratur.
  • Hindari mengorek dan memasukkan benda apapun ke telinga termasuk cotton buds, peniti, jepit rambut dan sebagainya. Telinga mempunyai mekanisme membersihkan dirinya sendiri.
  • Hindari menggaruk dan mengorek telinga dan hidung dengan jari tangan.
  • Hindari pemakaian lilin telinga karena dapat menyebabkan luka bakar, infeksi, dan robekan pada gendang telinga.
  • Bila berada dalm kondisi yang menyebabkan perbedaan tekanan udara, seperti naik pesawat, naik kendaraan ke tempat tinggi, mendaki, dan lainnya banyak-banyaklah menguap atau mengunyah permen karet, mengulum permen, minum, atau menelan air ludah.
  • Gunakan helm yang menutupi telingan ketika naik kendaraan roda dua.
  • Kendalikan penyakit hipertensi, gula darah, dan gangguan pembuluh darah, termasuk kolesterol yang berlebih dan pengentalan darah.
  • Sering mencuci tangan dengan sabun.
  • Makan buah dan sayur-sayuran karena selain mengandung serat, vitamin, dan mineral di dalamnya, gerakan mengunyah buah dan sayur dapat membantu telinga membersihkan kotoran telinga.
  • Hubungi dokter THT untuk mengeluarkan kotoran telinga yang menyumbat.
  • Lakukan imunisasi secara lengkap karena beberapa cacat bawaan yang menyebabkan gangguan pendengaran dapat dicegah melalui imunisasi.

Kemampuan mendengar yang baik sering kali dianggap sebagai sesuatu yang biasa saja. Ketika kita mulai mengalami gangguan sampai hilangnya fungsi, barulah kita sadari betapa penting pendengaran bagi hidup kita.

Source: infokita (dr.Susanti)

Bagikan Artikel ini:

Tinggalkan Balasan