Mengembangkan Produk dengan Lean Startup Model

Bagikan Artikel ini:

Anda tidak perlu membuat produk yang sempurna dari awal. Lebih baik melengkapi  produk Anda di setiap tahapannya. Banyak entreprenuer percaya bahwa produk yang tidak sempurna menandakan kegagalan. Bagaimanapun, kewirausahaan memberi ruang bagi sebuah produk untuk terus diperbaiki dan disempurnakan di sepanjang prosesnya.

Semakin rendah TTM (Time to Market/Waktu Pemasaran) di Amerika Serikar, semakin baik startup tersebut untuk sukses. Maka, melakukan pengembangan produk secepat mungkin sangat bermanfaat. Mari berkenalan dengan “lean startup model” yang merupakan metode pengembangan produk baru yang menyebar ke seluruh dunia.

Lean startup model pertama kali diajukan oleh Eric Ries. Lahir di jantung Silicon Valley, model ini mengajukan cara mengembangkan produk baru. Komponen utama model ini adalah memerika berkali-kali apakah produk ini sesuai dengan kebutuhan konsumen apa tidak.

Saat mengembangkan sebuah produk, tujuan utamanya harus memenuhi kebutuhan konsumen. Lalu apa yang terjadi jika produk benar-benar tidak bisa memenuhi kebutuhan konsumen setelah pengembangan beberapa bulan?

Pengembangan ulang adalah bagian alamiah dari penyempurnaan produk. Sering kali, hal semacam ini, tidak bisa dihindari. Walaupun begitu, memulai lagi dari awal tidaklah efisien. Inilah mengapa kita menggunakan lean startup model.

Sebuah produk harus diluncurkan secepatnya setelah fungsi minimalnya ditanamkan. Memungkinkan orang yang menggunakan atau menguji produk tersebut merupakan cara paling efektif untuk mengevaluasi kebutuhan apa yang perlu ditambahkan. Sekali produk diluncurkan, respon dari konsumen menjadi sangat penting. Saat potensi perbaikan ditunjukkan dengan tepat, pengembang harus membuat penyesuaian yang tepat.

Teknik lain yang sering digunakan pada pengembangan produk dikenal sebagai “Bulid-Measure-Learn Feedback Loop”. Pertama bangun ide, code, dan kembangkan produk dengan fungsi dasar secepat mungkin (build). Lalu minta konsumen untuk menggunakan dan membuat ulasan produk, semua dilakukan sambil mengumpulkan informasi tentang produk (data/measure). Kemudian, tentukan apakah produk tersebut memenuhi kebutuhan konsumen. Jika tidak, penting untuk mengatur ulang fokus Anda (Lean), inilah saatnya ketika model bisnis bisa dimodifikasi.

 Bulid-Measure-Learn Feedback Loop

  • Luncurkan produk secepat mungkin
  • Lalu, dapatkan respon dari konsumen dan perbaiki produk secara efisien dan efektif.

Lean startup model tidak hanya terbatas pada perusahaan teknologi. Model bisnis ini bisa diterapkan pada beragam bidang seperti bioteknologi. Selain itu, bisa juga digunakan pada ekspansi bisnis pada sebuah perusahaan yang sudah lama berdiri.

Selama masa pengembangan produk, Anda akan membangun beragam versi dari apa yang nantinya menjadi produk final Anda.

1. Prototype (Pre Alpha)

Sebuah prototype adalah produk demonstrasi. Pada tahap ini tidak semua fitur sudah dilekatkan. Pengembang sering memproduksi prototype semacam ini untuk mempresentasikan contoh produk kepada para investor. Dengan demikian, investor bisa melihat produk asli dan membuktikan bahwa produk tersebut menarik dan berguna.

Prototype juga berguna karena membantu pengembang melihat fungsi lain apa yang masih dibutuhkan. Ini merupakan cara efektif untuk memakselerasi pengembangan. Produksi prototype merupakan langkah pertama yang penting.

Deskripsi fitur dasar produk Anda dibutuhkan disemua situasi. Hal ini terutama penting selama demontrasi untuk penggalangan dana, untuk sembari menciptakan strategi pemasaran media sosial. Entreprenuer akan menggunakan situs web komunitas berkali-kali untuk meningkatkan kesadaran konsumen terhadap produknya. Pada situs-situs ini, prototype sering digunakan sebagai tampilan contohnya. Ingat bahwa untuk menghadapi situasi apapun, menyiapkan beberapa bentuk demonstrasi selalu menjadi pilihan bijak.

2. Versi Alfa

Versi alfa adalah versi penguji pada tahap awal pengembangan produk. Pada tahap Alfa, pengembang dan penguji menciptakan produk dengan fusngsi dasar. Penampilan dan kegunaan produk diuji untuk menemukan kesalahan dan melakukan perbaikan nantinya.

Perusahaan BlueStacks sekali waktu meluncurkan versi Alfa produk mereka. Perusahaan ini memungkinkan penggunaannya untuk menggunakan aplikasi Android melalui PC atau tablet mereka. Versi Alfa memprioritaskan penggunaan produk yang lancar. Ini juga merupakan kesempatan bagi perusahaan untuk meninjau apakah mereka telah memenuhi kebutuhaan pengguna. Oleh karena itu, sistem operasional terbatas belum begitu penting pada titik ini.

Tweetbot yang terkenal karena aplikasi klien Twitter-nya untuk mobile device, diluncurkan sebagai versi Alfa. Pengguna hanya bisa menggunakan fungsi-fungsi dasarnya. Berkat versi Alfa, Tweetbot bisa mendapatkan respons dari beragam pengguna dan mempercepat pengembangannya.

3