Mengatasi Masalah Produk Pertama Pesaing yang Lebih Dulu Menguasai Pasar

Beberapa waktu lalu dunia kuliner diramaikan pendatang baru, kedai mie instan dengan berbagai toping. Kedai ini langsung ramai diserbu konsumen, apalagi pemilik kedai begitu gencar memasarkan kedainya melalui media sosial. Melihat keberhasilan kedai mie instan itu, beberapa kedai serupa pun bermunculan dan lama-kelamaan tumbuh bagai jamur di musim penghujan.

Pertanyaannya: jika kita hanya sekadar meniru tren yang sedang naik daun saat ini, berapa lama bisnis kita ini akan bertahan? Pepsi pernah melakukan hal serupa. Ketika Coca-cola berhasil merebut pasar Amerika Serikat, Pepsi tergiur untuk masuk ke pasar yang sama. Faktanya, sungguh sulit mengalahkan produk pertama yang sudah lebih dulu dikenal konsumen dan memikat para konsumen dengan begitu kuat. Jika sudah begini, tentu produk kedua akan tertinggal, bahkan yang lebih parah tidak laku sama sekali. Untuk mengatasi masalah adanya produk pertama yang sudah lebih dulu menguasai pasar, dan kita ingin mengikuti jejak sukses mereka, maka solusi yang bisa kita lakukan, di antaranya sebagai berikut.

1. Melakukan Differensiasi

Coca-cola merupakan penemu cola, yang merupakan perpaduan tanaman coca dan kacang cola. Sasaran produk ini adalah generasi muda yang dinamis dan aktif. Pepsi akhirnya menargetkan konsumen yang usianya lebih muda dengan rasa produk yang lebih manis karena tidak mampu merebut pasar utama penyuka produk Coca-cola.

2. Menurunkan Harga

Dengan kualitas produk yang tak jauh berbeda, kita dapat menurunkan harga dengan beberapa strategi: menemukan penyuplai yang lebih murah, membeli dalam partai besar, memangkas biaya operasional yang tidak perlu, menggunakan media sosial sebagai sarana promosi untuk menghemat biaya iklan, dan lain sebagainya.

3. Berfokus pada Nilai/Keunggulan Produk

Para pedagang percaya bahwa nilai-nilai yang di miliki suatu produk tidak diciptakan sama. Sementara bagi sebagi an konsumen, nilai suatu produk lebih penting dari nilai lainnya. Misalnya, selimut produksi rumahan yang kita jual mementingkan nilai fungsi (lembut, tebal, dan hangat), sedang kan produk selimut yang banyak beredar di pasaran lebih mementingkan nilai estetika, tampilan yang bagus, dan model menarik. Maka ketika mempromosikan produk, arahkan fokus kita pada kelebihan yang ada di produk yang sedang kita pasarkan. Lebih baik memiliki sedikit pe langgan dengan pasar terbatas yang masih bisa dikembangkan daripada berebut pasar, kalah, dan akhirnya tidak memiliki pasar sama sekali.

Sumber: 101 Problem Solving for Entrepreneur

Tinggalkan Balasan