Memiliki Ciri Khas Bisnis Agar Bisa Memenangkan Persaingan

Bersikap Baik pada Diri Sendiri Sepanjang Hidup

Salah satu kesulitan yang sering dialami oleh pebisnis adalah tingkat pergantian karyawan yang tinggi. Karyawan yang keluar masuk tentu saja menyulitkan tercapainya target. Para miliarder yang bisnisnya menggurita pun tidak lepas dari masalah ini. Namun, mereka memiliki mantra untuk mengatasi terpaan kesulitan yang ditimbulkan. Mari kita simak pengalaman Wu Yajun, direktur perusahaan Longfor Properties. Wanita terkaya di dunia ini memulai bisnisnya tanpa modal dari keluarga.

Majalah Richest menjulukinya self-made women billionaire, artinya kekayaan yang dimilikinya bukanlah hasil warisan keluarga melainkan hasil kerja kerasnya. Salah satu kesulitan yang dihadapi pebisnis adalah tingginya tingkat keluar masuk karyawan. Namun di Longfor, hal ini tidak terjadi. Apa yang dilakukan Yajun agar karyawannya betah? “Be kind to yourself throughout your life.” (Bersikap baik kepada diri sendiri sepanjang hidup Anda.) Filosofi ini benar-benar diterapkan di Longfor. Yajun amat menjunjung tinggi hasil karya orang lain. Pegawai dengan keahlian akan dibayar tinggi. Pemimpin proyek akan digaji tidak kurang dari 1,5-2 juta Yuan setiap tahunnya. Sementara, penanggung jawab finansial digaji tidak kurang dari 4 juta Yuan setiap tahun. Pegawai dibuat senyaman mungkin agar tidak ingin pindah ke perusahaan lain. Wu Yajun memastikan setiap orang di Longfor diperlakukan dengan baik dan tanpa arogansi.

Mantra Wu Yajun ini bisa kita tiru. Seorang ibu yang bekerja di kantor ataupun menjadi ibu rumah tangga paham betul betapa sulitnya mencari asisten rumah tangga. Jarang asisten rumah tangga yang loyal bekerja bertahun-tahun. Yang sering terjadi, mereka hanya tahan bekerja selama beberapa bulan saja, paling lama setahun. Setelah libur lebaran, mereka tidak datang lagi. Padahal mereka digaji dengan layak. Di Longfor, Yajun bukan hanya memerhatikan soal gaji. Setahun sekali, Yajun mengadakan acara jalan-jalan bersama karyawannya. Ia juga memastikan bahwa tempat yang dituju aman dan karyawannya merasa nyaman.

Jadi selain gaji, kita juga perlu memastikan bahwa asisten yang bekerja di rumah kita merasa nyaman. Apakah kamar tidurnya layak? Apakah ia bisa menonton televisi? Apakah ia mendapat izin untuk bertemu teman dan kerabat? Jangan lupa pula, sesekali ajaklah ia mengobrol dan mendengarkan ceritanya. Ketika kita bersikap baik kepada orang lain, sebenarnya kita sedang bersikap baik kepada diri kita sendiri. Ketika ia merasa dirinya adalah bagian dari keluarga kita, ia akan betah bekerja.

Jangan Mati dengan Menyesali yang Tidak Dilakukan

Jangan Mati dengan Menyesali yang Tidak Dilakukan by pexels.com

Kalau bisa, tentunya kita ingin kehidupan yang kita jalani ini bebas dari kesulitan. Siapa yang tak mau lahir di tengah keluarga yang kaya raya, menjalani pendidikan di sekolah yang bagus hingga jenjang tertinggi, kemudian bekerja di perusahaan keluarga yang sudah mapan dan menjadi miliarder.

Padahal sebagian besar miliarder berasal dari keluarga yang kekurangan. Mereka harus bekerja keras mengatasi kesulitan keuangan. Bahkan setelah memiliki usaha sendiri pun, mereka masih harus menghadapi kesulitan demi kesulitan. Kebanyakan dari kita akan berkeluh kesah, namun mereka tidak menyerah.

Zhou Qunfei termasuk salah satu miliarder wanita yang harus berjuang keras mengatasi kesulitan demi kesulitan dalam hidupnya. Zhou lahir dari keluarga miskin sehingga tidak bisa melanjutkan sekolah. Ia harus bekerja untuk bisa bertahan hidup. Sambil bekerja di berbagai perusahaan kaca, ia mempelajari trik pembuatan kaca untuk arloji, telepon genggam, dan alat lain sebelum akhirnya mendirikan perusahaan sendiri, Lens Technology.

“I don’t want to die regretting what I didn’t do.” (Aku tidak ingin mati dalam keadaan menyesali apa yang tidak kulakukan.) Pada 2013 saja Lens Technology telah menghasilkan US$3,3 miliar (sekitar Rp42,9 triliun). Xinhua bahkan menyebutkan bahwa 70 persen dari pemasukan Lens Technology berasal dari pesanan Apple dan Samsung. Zhou yang memiliki 89 persen saham di Lens Technology, dinobatkan sebagai wanita terkaya di Tiongkok oleh majalah Forbes pada tahun 2015 lalu.

Mari kita ingat-ingat lagi, keinginan apa yang belum kita wujudkan? Mungkin kita pernah berniat mewujudkannya. Tetapi ketika mendapat penolakan, kita malah memilih mundur kemudian ragu-ragu tiap kali ingin memulai lagi.

Untuk yang bercita-cita menjadi penulis, bayangkan alangkah senangnya bila melihat buku hasil karya kita terpajang di rak toko buku. Namun, tentu saja sebelum hal itu terjadi, kita harus menulisnya dan menyelesaikannya lebih dulu. Ingat-ingat lagi mantra Zhou Qunfei, setiap kali kita menunda-nunda menulis. Segera sisihkan waktu dan mulailah menulis dengan teratur. Sering kali kesulitan yang dihadapi penulis bukanlah masalah teknis penulisan, melainkan rasa malas dan pengaturan waktu yang kurang tepat.

Di Tengah Kabut Kesulitan Terdapat Kesempatan

Di Tengah Kabut Kesulitan Terdapat Kesempatan by pexels.com

Ketika berhadapan dengan kesulitan, sering kali yang kita lakukan adalah mengeluh. Kita bertanya-tanya kenapa harus kita yang mengalaminya. Kita merasa menjadi orang yang paling berat beban hidupnya.

Oprah Winfrey adalah salah satu miliarder yang menemui banyak kesulitan selama perjalanan hidup maupun dalam bisnisnya. Bedanya, Oprah Winfrey tidak menghabiskan waktu dengan mengeluh, tetapi menjalaninya.

Pada usia 17 tahun, Oprah memperoleh pekerjaan pertamanya sebagai penyiar berita di stasiun radio lokal. Setelah mendapat beasiswa di Universitas Negara Bagian Tennessee dan mulai masuk perguruan tinggi, Oprah tetap mempertahankan pekerjaannya. Artinya, Oprah harus pandai membagi waktu antara pekerjaan sebagai penyiar dan mengerjakan tugas sebagai mahasiswa. Bagaimana Oprah bisa bertahan dengan kesulitan tersebut?

“In the mist of difficulty lies opportunity.” (Dalam kabut kesulitan terdapat kesempatan.) Bukan semata-mata karena nominal yang ia diterima, tetapi Oprah percaya bahwa passion-nya ada di dunia penyiaran dan pertunjukan. Apa pun kesulitan yang ia temui akan ia hadapi karena ia yakin jalan yang ditempuhnya itu akan membawanya kepada kesempatan yang lebih besar. Terbukti pada usianya yang ke-19, Oprah bekerja sebagai wartawan dan penyiar berita di sebuah stasiun televisi di Nashville.

Ketika kita merasa menemui kesulitan saat ingin terus mempertahankan passion yang kita miliki, ingatlah mantra dari Oprah Winfrey. Seorang ibu rumah tangga yang memiliki passion menggambar pasti pernah mengalami kesulitan menggambar di tengah-tengah pekerjaan domestik yang tidak pernah habis. Jadwal yang disusun bisa tiba-tiba berantakan karena mengurus anak yang sering kali tidak bisa diprediksi waktunya.

Jalani saja semuanya dengan hati sekuat baja. Saat anak beranjak dewasa, kita akan memiliki waktu untuk menekuni dan mengembangkannya. Bukan tidak mungkin, menggambar akan menjadi salah satu jalan datangnya rezeki. Kita tidak bisa memprediksi apa yang akan terjadi di masa depan. Apa pun kesulitan yang kita temui, bukan alasan untuk berhenti melangkah.

Kemiskinan adalah Pendidikan Terbaik

Kemiskinan adalah Pendidikan Terbaik by pexels.com

Salah satu keinginan hidup yang ingin diraih oleh banyak orang adalah financial freedom atau kebebasan finansial. Pada tahap itu, kita bukan lagi bekerja untuk mencari uang namun uanglah yang akan bekerja untuk kita seperti yang dialami oleh para miliarder. Kemudian kita pun bergumam, alangkah enaknya para miliarder itu. Kekayaan yang mereka miliki membuat mereka jauh dari kemiskinan.

Padahal sebagian besar dari para miliarder itu berangkat dari kemiskinan yang membelit hidup mereka. Chan Laiwa salah satunya. Kehidupan keluarganya amat miskin. Chan Laiwa terpaksa putus sekolah dan bekerja agar dapat bertahan hidup. Bagaimana Chan Laiwa bisa melalui kesulitan hidup seperti itu? Ia menjadikan kemiskinannya sebagai pendidik. Kemiskinan adalah pendidikan terbaik.

Kemiskinan yang dialaminya telah mendidik Chan Laiwa menjadi seseorang yang tangguh, hemat, dan jeli melihat peluang. Chan Laiwa mengawali bisnisnya dengan memperbaiki furnitur kemudian menjualnya. Hasilnya dikumpulkan dan digunakan untuk membeli lebih banyak furnitur. Setelah bisnisnya berkembang, ia pindah ke Hong Kong untuk berinvestasi di real estate. Dimulai dengan 12 properti, Chan Laiwa kini menjadi direktur Fu Wah International, sebuah perusahaan yang bergerak di sektor real estate, pariwisata, elektronik, dan industri lainnya.

Ketika kita mengalami kesulitan keuangan dan hidup terasa sulit, bukan berarti kita tidak bisa lepas darinya. Cara Chan Laiwa yang jeli melihat peluang bisnis bisa kita tiru. Sekarang ini sedang tren gerakan peduli sampah. Bagi orang-orang tertentu, hal yang satu ini dapat menjadi peluang bisnis. salah satunya menjadi pengumpul sampah plastik. Kumpulkan dan pilah-pilah sampah plastik menurut jenisnya. Setelah sampah yang dikumpulkan sampai pada jumlah tertentu, barulah dijual ke pengepul. Sampah plastik ini bisa kita peroleh dari tetangga atau dengan menjadi bank sampah. Sisihkan sebagian penghasilannya untuk membeli mesin pencacah plastik. Plastik yang sudah dicacah bisa dijual ke pabrik dengan harga yang lebih tinggi. Jangan memandang rendah pekerjaan ini karena hasilnya lumayan besar. Selain mendapatkan uang, kita juga bergerak aktif dalam melindungi bumi dan berpartisipasi dalam gerakan hijau.

Sumber: 77 Mantra Mengatasi Terpaan Kesulitan Ala Miliarder

Tinggalkan Balasan