Memahami Penyakit Tuberkulosis (TBC), Pencegahan, dan Pengobatannya

Memahami Penyakit Tuberkulosis (TBC), pencegahan, dan Pengobatannya

Tuberkulosis atau TB, dulu dikenal dengan TBC, adalah penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis. Walaupun kebanyakan menyerang paru-paru, sebenarnya kuman ini juga dapat menyerang ke organ lainnya seperti otak, usus, tulang, kulit, kelenjar getah bening, atau sebagainya. Berdasarkan Global TB Report tahun 2016 jumlah penderita TB di Indonesia menempati peringkat dua di seluruh dunia setelah India. Menurut data WHO pada tahun 2014 kasus TB di Indonesia mencapai 1.000.000 kasus dan jumlah kematian akibat TB setiap tahun diperkirakan mencapai 110.000 kasus. Kementerian Kesehatan RI membentuk gerakan TOSS TBC (Temukan, Obati Sampai Sembuh TBC), yaitu upaya pencegahan dan pengendalian TB agar sebanyak-banyaknya menemukan penderita TB dan mengobatinya sampai tuntas sehingga angka penyembuhan tinggi dan rantai penularan TB dapat diputus.

Info penting tentang TB yang perlu diketahui:

  • TB bukan penyakit menurun, kutukan, guna-guna dukun, atau penyakit orang miskin. TB adalah penyakit menular yang dapat disembuhkan.
  • Kuman TB terbawa oleh udara berupa partikel yang dapat menyebar ketika penderita TB yang belum diobati (atau baru menjalani pengobatan TB dan belum mencapai 2 minggu pengobatan) meludah, batuk, bersin, berbicara, atau bernyanyi. Setiap penderita TB bisa menularkan ke 10–15 orang.
  • Penderita TB yang sudah minum obat TB selama 2 minggu, walaupun belum sembuh, biasanya sudah tidak berpotensi menulari. Konsultasi dengan spesialis paru akan memberikan informasi lebih akurat untuk menentukan berapa lama penderita TB harus menggunakan masker guna mencegah penularan pada orang di sekitarnya.
  • Kuman TB yang masuk ke tubuh dapat menyebar ke seluruh tubuh dan menyebabkan TB ekstra paru yaitu TB yang terjadi di luar paru-paru seperti di kulit, kelenjar getah bening, tulang, usus, otak, dan sebagainya.
  • Ketika kuman TB terhirup oleh orang lain di sekitarnya maka orang dapat terinfeksi. Sistem kekebalan tubuh seseorang akan memberikan reaksi atas masuknya kuman TB dengan memasukkan kuman TB ke ‘penjara’ sehingga orang yang terinfeksi tersebut tidak menjadi sakit TB. Orang yang terinfeksi TB disebut juga dengan TB laten. Mereka tidak menderita gejala apa pun dan tidak berpotensi menular.
  • Sekitar 5–10% orang yang terinfeksi TB akan menjadi sakit TB jika sistem kekebalan tubuh menurun. Kekebalan tubuh dapat menurun pada penderita HIV/AIDS, orang-orang yang menerima obat penekan sistem kekebalan tubuh, pencandu obat-obatan terlarang, perokok, gizi buruk, orang lanjut usia, pasien dengan penyakit-penyakit kronis seperti gangguan ginjal, diabetes, kanker, atau penerima transplantasi organ. Bayi dan anak-anak juga rentan karena sistem kekebalan tubuh yang belum terbentuk sempurna.
  • Pada ruangan yang sempit, tertutup, minim sinar matahari, dan sistem sirkulasi udara yang buruk, kuman TB akan lebih berpotensi menular.
  • TB dapat disembuhkan asalkan minum obat secara teratur minimal 6 bulan sesuai anjuran dokter. Pemerintah menyediakan obat TB berkualitas secara gratis.
  • Jika penderita TB paru tidak minum obat secara teratur, kuman dapat menjadi kebal terhadap obat TB sehingga perlu waktu pengobatan lebih lama dengan obat yang lebih ampuh dan lebih banyak jenisnya, yang tentunya akan memakan biaya lebih besar. Ketika tidak minum obat TB, kuman TB dalam tubuh akan berkembang lebih banyak sehingga rantai penularan TB terus berjalan.

Gejala-gejala yang dialami penderita TB paru adalah:

  • batuk berdahak selama 2 minggu atau lebih
  • dahak bercampur darah atau batuk darah
  • sesak napas
  • nyeri dada
  • nafsu makan menurun
  • berat badan menurun
  • merasa lemas, lemah, letih, lesu
  • keringat malam hari tanpa sebab yang jelas
  • demam meriang lebih dari satu bulan

TB dapat dicegah dengan cara:

  • Memberikan imunisasi BCG pada bayi.
  • Menjaga sistem kekebalan tubuh dengan makanan bergizi, rutin olahraga, cukup tidur, menghindari rokok dan obat-obatan terlarang, serta mengelola stres.
  • Mengusahakan lingkungan yang sehat dengan cukup paparan sinar matahari dan sirkulasi udara yang baik.
  • Mengenakan masker ketika berada dalam lingkungan yang berpotensi tertular kuman TB.
  • Memastikan penderita TB mengenakan masker dan menjalankan etika batuk/ bersin selama jangka waktu yang diminta oleh dokter. Etika batuk/bersin adalah menutup mulut dengan tisu, bagian dalam lengan baju, atau saputangan ketika batuk/bersin. Jika terpaksa harus menggunakan tangan, segeralah mencuci tangan dengan air mengalir dan sabun atau dengan cairan antiseptik. Jangan membuang ludah atau tisu bekas yang tercemar secara sembarangan. Buanglah dalam tong sampah yang tertutup. Jika ingin membuang ludah, siram dengan air yang mengalir.
  • Segeralah ke dokter jika menderita gejala-gejala TB.
  • Periksa ke dokter jika orang terdekat kita sakit TB untuk memastikan apakah kita tertular atau tidak.

Bantulah penderita TB agar sembuh dengan cara:

  • Tidak mengucilkan penderita.
  • Memotivasi agar teratur minum obat TB sampai tuntas.
  • Sabar menghadapi penderita.

Kerja sama yang baik antar seluruh elemen masyarakat, tenaga kesehatan, dan pemerintah akan dapat mempercepat tercapainya target WHO bagi negara-negara di dunia yaitu:

  • Menurunkan jumlah kematian TB sebanyak 95% pada tahun 2035 dibandingkan kematian pada tahun 2015.
  • Menurunkan insiden TB sebanyak 90% pada tahun 2035 dibandingkan tahun 2015.
  • Tidak ada keluarga pasien TB yang terbebani pembiayaan terkait pengobatan TB pada tahun 2035.

Sumber: dr. Susanti (Info Kita)

Tinggalkan Balasan