Kupas Tuntas Pelaksanaan Ibadah Qurban

Bagikan Artikel ini:

Qurban adalah menyembelih kambing (domba) sebagai pengorbanan pada hari Idul Adha, dalam rangka mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

A. Hukum Qurban

Hukum Udhhiyah adalah sunnah yang diwajibkan bagi setiap keluarga muslim yang mampu untuk melakukannya, sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَٱنۡحَرۡ ٢

Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah.” (Al-Kautsar: 2)

Sabda Nabi Shallallahu`alaihi Wa Sallam:

Barang siapa yang menyembelih sebelum shalat (Id) maka hendaklah ia mengulangi.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, dan An-Nasa’i)

Juga sebagaimana perkataan Ayyub Al-Anshari:

Adalah seorang laki-laki di zaman Rasulullah Shallallahu`alaihi Wa Sallam berqurban dengan seekor kambing atas nama dirinya dan keluarganya.” (HR. Ar-Tirmidzi dan dia menshahihkannya)

B. Keutamaan Berqurban

Dalam As-Sunnah dijelaskan bahwa berqurban memiliki keutamaan yang agung. Rasulullah Shallallahu`alaihi Wa Sallam bersabda:

Tidaklah anak Adam mengamalkan satu amalan pada hari nahar yang lebih Allah Azza wa Jalla cintai dari mengalirkan darah (berqurban) dan sesungguhnya ia (hewan qurban) itu akan datang pada hari kiamat dengan tanduk, kuku, dan rambut-rambutnya, dan sesungguhnya darahnya itu pasti menempat di sisi Allah ‘Azza wa Jalla di satu tempat sebelum jatuh ke bumi, maka relakanlah itu.” (HR. Ibnu Majah: 3126, dan At-Tirmidzi dan dia menghasankan walaupun dianggap gharib)

Dan sabda Rasulullah Shallallahu`alaihi Wa Sallam ketika beliau ditanya oleh para shahabat, “Apa yang dimaksud hewan qurban?” Pada saat itu beliau menjawab, “Itu merupakan satu sunnah ayah kalian semua yaitu Ibrahim.”

Lalu mereka bertanya kembali, “Apa yang kami dapatkan darinya?” Beliau menjawab, “setiap rambutnya merupakan satu kebaikan.” Mereka bertanya kembali , “Bagaimana dengan kulitnya?, “Beliau menjawab, “Setiap rambut dari kulitnya merupakan satu kebaikan.” (HR. Imam Ahmad: 4/368, dan Ibnu Majah: 3127)

C. Hikmah Pelaksanaan Qurban

  1. Mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan berqurban.

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَٱنۡحَرۡ ٢

Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah.” (Al-Kautsar: 2)

قُلۡ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحۡيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ١٦٢

Katakanlah: sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. (Al-Anam: 162)

Adapun yang dimaksud An-Nusuk disini adalah menyembelih hewan sebagai taqarrub kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

  1. Mengikuti Sunnah Nabi Ibrahim Alaihis Salam.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah mewahyukan kepada Nabi Ibrahim untuk menyembelih anaknya yaitu Nabi Ismail Alaihis Salam. Tetapi Allah Subhanahu Wa Ta’ala kemudian mengganti Nabi Ismail Alaihis Salam dengan domba, maka beliau menyembelih domba tersebut sebagai ganti dari Nabi Ismail Alaihis Salam.

Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” (Ash-Shaffat: 107)

  1. Memberikan kelapangan kepada keluarga pada Hari Id, dan memberikan kasih sayang kepada fakir miskin.
  2. Sebagai rasa syukur kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

وَٱلۡبُدۡنَ جَعَلۡنَٰهَا لَكُم مِّن شَعَٰٓئِرِ ٱللَّهِ لَكُمۡ فِيهَا خَيۡرٞۖ فَٱذۡكُرُواْ ٱسۡمَ ٱللَّهِ عَلَيۡهَا صَوَآفَّۖ فَإِذَا وَجَبَتۡ جُنُوبُهَا فَكُلُواْ مِنۡهَا وَأَطۡعِمُواْ ٱلۡقَانِعَ وَٱلۡمُعۡتَرَّۚ كَذَٰلِكَ سَخَّرۡنَٰهَا لَكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَشۡكُرُونَ ٣٦ لَن يَنَالَ ٱللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَآؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ ٱلتَّقۡوَىٰ مِنكُمۡۚ كَذَٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمۡ لِتُكَبِّرُواْ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمۡۗ وَبَشِّرِ ٱلۡمُحۡسِنِينَ ٣٧

Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebahagian dari syi´ar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya, maka sebutlah olehmu nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan telah terikat). Kemudian apabila telah roboh (mati), maka makanlah sebahagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah Kami telah menundukkan untua-unta itu kepada kamu, mudah-mudahan kamu bersyukur. Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik. (Al-Hajj: 36-37)

D. Ketentuan-ketentuan Seputar Qurban

  1. Usia

Usia kambing untuk qurban tidak boleh kurang dari Al-Jidz’u (tidak genap satu tahun, atau mendekati satu tahun). Selain kambing, seperti biri-biri, unta, atau sapi tidak kurang dari dua tahun.

Khusus untuk biri-biri, hendaknya berusia satu tahun dan masuk pada tahun kedua. Adapun unta dipilih yang berumur empat tahun dan memasuki tahun ke lima, dan sapi berumur dua tahun dan memasuki tahun ketiga, sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadis:

Janganlah kalian menyembelih kecuali musinnah, kecuali jika kalian kesulita, maka sembelihlah oleh kalian dari kambing jidza’ah (yang berusia enam bulan hingga satu tahun).” (HR. Muslim: 2)

Musinnah adalah hewan yang berumur dua tahun.

  1. Terbebas dari kurus dan cacat

Tidak diperbolehkan berqurban kecuali dengan binatang yang terbebas dari kecacatan dalam penciptaannya. Tidak boleh yang buta sebelah matanya, yang pincang, tidak al-‘udhba’ (yang pecah tanduknya atau yang dipotong telinganya dari aslinya) tidak yang sakit, tidak yang al-ajafa (yang kurus atau tidak bersumsum, sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadis:

Ada empat macam yang tidak boleh ada pada hewan qurban; buta sebelah yang jelas butanya, yang sakit dan jelas sakitnya, yang pincang jelas pincangnya, dan hewan yang tidak mempunyai sumsum.” (HR. Abu Daud: 280, dan Imam Ahmad: 4/300).

Adapun yang dimaksud tidak memilki sumsum adalah hewan yang tidak ada sumsum pada tulangnya, hewan yag sangat kurus.

  1. Hewan yang paling utama

Hewan qurban yang paling diutamakan adalah kambing yang bertanduk, yang berwarna putih campur hitam (belang) di antara kedua mata dan kakinya. Sifat hewan seperti inilah yang disukai Rasulullah Shallallahu`alaihi Wa Sallam.

Sebagaimana disebutkan dalam sebua hadis bahwa Aisyah pernah menuturkan, “Sesungguhnya Nabi Shallallahu`alaihi Wa Sallam berqurban dengan domba bertanduk dan bulu kaki-kakinya warnanya merata hitam dan sekitar matanya berwarna putih.” (HR. At-Tirmidzi dan dia menshahihkannya)

  1. Waktu penyembelihan

Waktu menyembelih hewan qurban adalah pagi hari di hari Idul Adha, yakni setelah selesai melaksanakan shalat Id. Tidak diperbolehkan menyembelih sebelum melakasanakan shalat Id, sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadis:

Barang siapa yang menyembelih sebelum shalat Id maka sesungguhnya ia menyembelih untuk dirinya, dan barang siapa yang menyembelih setelah shalat Id maka sempurnalah amalannya dan mengikuti sunnah umat muslimin.” (HR. Al-Bukhari: 7/128, 131)

Adapun setelah hari Id, maka itu diperbolehkan untuk mengakhirkannya pada hari kedua dan ketiga setelah Id, sebagaimana dijelaskan dalam sebuah riwayat, “Semua haru Tasyrik adalah waktu untuk menyembelih.”

  1. Hal-hal yang dianjurkan ketika menyembelih

Ketika menyembelih dianjurkan untuk menghadapkan hewan ke arah kiblat sambil mengucapkan:

إِنِّي وَجَّهۡتُ وَجۡهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ حَنِيفٗاۖ وَمَآ أَنَا۠ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ

قُلۡ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحۡيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ

لَا شَرِيكَ لَهُۥۖ وَبِذَٰلِكَ أُمِرۡتُ وَأَنَا۠ أَوَّلُ ٱلۡمُسۡلِمِينَ

Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”

Diharuskan membaca doa ketika hendak menyembelih: “bismillahi wallahu akbar

  1. Mewakilkan dalam menyembelih

Seorang muslim dianjurkan menyembelih oleh dirinya sendiri, dan boleh diwakilkan dalam penyembelihan karena tidak ada perbedaan pendapat di antara ulama.

  1. Pembagian daging qurban

Daging hewan qurban dianjurkan dibagi menjadi tiga bagian: sepertiga untuk diberikan (dimakan) keluarganya, sepertiga untuk sedekah, dan sepertiga untuk diberikan kepada shahabat.

Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu`alaihi Wa Sallam:

Makanlah oleh kalian, simpanlah, dan sedekahkanlah.” (HR. Abu Daud: 10, An-Nasa’i: 37)

Diperbolehkan mensedekahkannya seluruhnya dan juga diperbolehkan untuk tidak menghadiahkannya sedikitpun.

  1. Upah bagi penyembelih.

Kita tidak diperbolehkan memberikan upah kepada yang menyembelih hewan qurban dari bagian hewan qurban itu. Sebagaimana perkataan Ali radhiyallahu anhu, “Rasulullah Shallallahu`alaihi Wa Sallam memerintahkan kepadaku untuk mengurusi untanya, dan untuk tidak memberikan kepada penyembelihnya (menanganinya) upah sedikitpun. Lalu ia mengatakan, kami memberinya upah dari apa yang kami miliki.” (HR. Muslim: 954, Abu Daud: 1769, Imam Ahmad: 1/123, dan Ibnu Majah: 3099)

  1. Sahkan satu keluarga berqurban dengan satu ekor kambing?

Sah qurban satu keluarga berupa seekor kambing meskipun ada beberapa orang dalam keluarga tersebut. Sebagaimana penuturan Abu Ayyub Al-Anshari.

Adalah seorang laki-laki di zaman Rasulullah Shallallahu`alaihi Wa Sallam berqurban dengan seekor kambing atas nama dirinya dan keluarganya.” (HR. At-Tirmidzi telah ditakhrij sebelumnya).

  1. Hal-hal yang harus dihindari ketika berazam untuk berqurban

Orang yang hendak berqurban sangat dimakruhkan untuk memotong rambut atau kukunya walau sedikit. Demikian ini, apabila telah nampak hilal bulan Dzulhijjah sampai datang waktu penyembelihan hewan qurban, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu`alaihi Wa Sallam:

Apabila kalian telah melihat hilal bulan Dzulhijjah dan salah seorang diantara kalian hendak berqurban maka hendaklah ia menahan (tidak memotong) rambutnya dan kukunya hingga ia berqurban.” (HR. Muslim: 41)

  1. Qurban Rasulullah Shallallahu`alaihiWa Sallam untuk seluruh umatnya.

Barangsiapa tidak mampu berqurban, maka ia akan meraih pahala dari orang-orang yang berqurban. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu`alaihi Wa Sallam:

Ya Allah, ini (hewan qurban) dariku dan dari yang tidak (mampu) berqurban dari umatku.” (HR. Al-Hakim: 4/228)

Source: Minhajul Muslim (Abu Bakar Jabir Al-Jaza’iri)

Bagikan Artikel ini:

Tinggalkan Balasan