Ketika Bisnis Berhenti di Tengah Jalan, Apa Yang Perlu Anda Lakukan?

Ada banyak bisnis yang mengalami kegagalan di tahun kedua setelah peluncurannya. Masalah yang biasanya menjadi penyebab kegagalan bisa berupa produk yang kurang diminati pasar, kurangnya modal, munculnya pesaing, atau masalah-masalah yang sebenarnya sudah muncul sejak tahun pertama, namun tidak diselesaikan dengan baik. Celakanya, banyak pemilik bisnis yang gagal tadi malah memilih berhenti di tengah jalan dan memutuskan menyerah akibat kehilangan semangat. Tak hanya itu, kelebihan ide dan memiliki terlalu banyak referensi sama berbahayanya.

Entrepreneur yang memiliki banyak ide sering kali melompat dari satu ide ke ide lain dengan cepat. Hasilnya, tidak ada bisnisnya yang berumur panjang. Sementara, pebisnis yang mengumpulkan terlalu banyak referensi akan dipenuhi berbagai pertimbangan. Akibatnya, ia selalu diliputi keragu-raguan dan ketakutan sehingga bisnisnya jalan di tempat, tidak mengalami perkembangan, dan setelahnya, ia mengambil keputusan untuk menghentikan bisnisnya.

Scott Belsky dalam bukunya yang berjudul Making Ideas Happen mengatakan, sering kali kita tersesat di “plato proyek”, satu keadaan di mana kita merasa kewalahan dan tidak dapat melihat ujung dari ide kita. Ide menjadi kurang menarik saat kita menyadari betapa besar tanggung jawab dan banyaknya pekerjaan yang harus dilakukan demi mewujudkannya. Kita kehilangan fokus karena kebanyakan ide, dan cenderung bergerak lebih lambat akibat dipenuhi referensi yang harus direnungkan.

Padahal, keberhasilan suatu ide berawal dari disiplin diri dan cara-cara kita mengambil tindakan. Pergerakan yang konstan adalah kunci pelaksanaan ide. Masih di dalam buku yang sama, Belsky menganjurkan agar kita selalu memecah proyek bisnis menjadi: Langkah Aksi, Referensi, dan Urusan Belakangan, untuk mencegah kita berhenti di tengah jalan. Cara ini dikenal dengan nama Metode Aksi.

1. Langkah Aksi

Berupa tugas-tugas spesifik dan konkret yang membuat kita selalu melangkah ke depan. Langkah aksi menuntut kita bersikap aktif menindaklanjuti setiap tugas dalam tindakan nyata, misalnya menyusun daftar konsumen, membuat prototipe produk, meng-update isi blog, membayar tagihan listrik, dan lain-lain.

2. Referensi

Berupa setiap selebaran, laporan data, notulensi, situs web, atau hasil diskusi yang terkait dengan produk yang mungkin ingin kita analisis kembali. Referensi bukan sesuatu yang harus kita tindaklanjuti seperti Langkah Aksi, melainkan hanya sebagai sumber ilmu pengetahuan ketika kita sedang fokus pada suatu proyek ide. Misalnya, selebaran tentang produk pesaing, data konsumen di berbagai wilayah, notulen rapat penjualan bulanan, dan sebagainya.

3. Urusan Belakangan

Berupa semua hal yang tidak dapat ditindaklanjuti sekarang, namun bisa dilakukan nanti. Sesuatu yang mungkin ingin kita lakukan dalam suatu proyek lain suatu hari nanti, misalnya ide tentang produk baru, ceruk pasar yang berbeda, dan sebagainya. Intinya, Metode Aksi membantu kita untuk bekerja dengan berorientasi pada tindakan. Dalam prosesnya termasuk pengorganisasian setiap aspek pendukung sehingga memberikan ketenangan pikiran dan tidak menghalangi pengambilan tindakan.

Sumber: 101 Problem Solving for Entrepreneur

Tinggalkan Balasan