Inilah Alasan Mengapa Kamu Perlu Melek Digital (Digital Literacy) Agar Lebih Aman Secara Ekonomi

Di era digital ini, kamu perlu memiliki tidak saja digital skills, tetapi juga digital literacy (melek digital; kemahiran digital; beberapa ahli menyebutnya digital wisdom, kebijaksanaan digital). Digital literacy adalah gabungan antara digital dan literacy (melek huruf; kemampuan membaca). Literacy di sini lebih dari sekadar bisa membaca kata dan kalimat. Informasi digital menunjukkan data, sedangkan literacy menunjuk pada kemampuan memahami, menganalisis, merangkum, dan berbagi pesan atau makna yang dibaca dan dituliskan.

Digital literacy dimulai dengan digital skills, yakni kemampuan menggunakan alat-alat digital secara teknis dan praktis. Digital literacy adalah pengetahuan tentang bagaimana mengeksplorasi berbagai topik yang sangat luas, termasuk bagaimana orang mencari, menggunakan, menyimpulkan, mengevaluasi, menciptakan, dan mengomunikasikan informasi dengan menggunakan teknologi-teknologi digital (komputer, smartphone, peralatan mobile, website, atau aplikasi Internet).

Sebagai contoh, kamu memiliki digital skills untuk mengunduh gambar-gambar dari internet, kemudian memasukkannya ke slide PowerPoint atau ke halaman web. Di saat yang sama, kamu juga memerlukan pengetahuan tentang bagaimana memilih gambar yang cocok dengan pesan konten yang ingin disampaikan, paham tentang kesan-kesan yang dapat disampaikan melalui gambar-gambar itu, juga perlu sadar akan adanya hak cipta, tahu bagaimana mengutip nama pemilik hak cipta, tahu cara meminta izin pakai, dan sebagainya. Pengetahuan ini yang disebut digital literacy.

Pentingnya media sosial via pexels.com

Dalam penggunaan media sosial, digital skills merupakan kemampuan dalam menggunakan Twitter (mem-posting tweet, retweet, menggunakan TweetDeck, hashtag, dan sebagainya), sedangkan digital literacy adalah tentang kapan Kamu menggunakan Twitter, Facebook, atau forum yang lebih tertutup. Dalam penggunaannya, Kamu juga perlu mengetahui risiko yang mungkin Kamu hadapi ketika kamu mem-posting masalah pribadi ke media sosial.

“Orang yang melek digital tidak semata-mata memiliki kemampuan teknis, tetapi juga memiliki pengetahuan tentang isu-isu, norma, dan kebiasaan-kebiasaan dalam memahami hal-hal seputar teknologi yang digunakan untuk tujuan tertentu.”

– Doug Belshaw, peneliti pendidikan –

Orang yang melek peralatan digital akan memiliki bentangan digital skills, pengetahuan berkaitan dengan prinsip dasar peralatan komputer, terampil menggunakan jaringan komputer, dan memiliki kemampuan yang baik ketika bergaul di dalam komunitas online dan jaringan sosial. Pada saat yang sama, ia juga bisa mengikuti berbagai petunjuk perilaku, mampu menemukan, menangkap, mengevaluasi informasi, memahami isu-isu sosial yang diangkat dalam teknologi digital (seperti big data), dan memiliki keterampilan berpikir kritis.

Mengapa Digital Literacy Penting Dikembangkan?

Pentingnya Digital Literacy via pexels.com

Mereka yang memiliki digital literacy tampaknya akan lebih aman secara ekonomi. Di era digital ini hampir semua pekerjaan mensyaratkan kemampuan bekerja dengan komputer dan Internet sebagai syarat mendasar dalam pekerjaan. Selain itu, kemampuan bekerja dengan peralatan mobile juga menjadi syarat berikutnya yang harus dipenuhi para pekerja, mengingat perkembangan teknologi nirkabel yang terus berkembang.

Sebagai upaya memperkecil kesalahan dalam merekrut karyawan baru, banyak perusahaan memilih memeriksa profil para kandidatnya dan melakukan screening terhadap perilaku mereka di dunia digital. Kalau Kamu tidak memiliki digital literacy, kemungkinan besar Kamu tidak mengetahui bahwa jejak-jejak Kamu di dunia online akan menciptakan image yang dapat dibaca sebagai profil atau kepribadian Kamu. Contohnya foto profil Kamu di media sosial. Kesan apa yang mau Kamu tekankan melalui foto profil? Jejak apa yang hendak Kamu tinggalkan di internet seandainya recruiter dari perusahaan melakukan searching nama kamu?

Inilah alasan mengapa kamu perlu melek digital. Karena kamu harus menggunakan berbagai peralatan digital dalam pekerjaan dan kehidupan sehari-hari, akan lebih menguntungkan apabila kamu belajar lebih banyak dari sekadar bisa mengoperasikan. Kamu perlu mengerti bagaimana mencari informasi, mengumpulkan, menganalisis, dan berbagi.

Menurut Doug Belshaw, ada delapan unsur yang perlu dipertimbangkan untuk mengembangkan kebijaksanaan digital, yakni:

  1. Cultural (budaya): Kamu perlu mempertimbangkan konteks dan nilai-nilai budaya.
  2. Cognitive (kognitif): Kamu perlu mempertimbangkan prosedur perangkat yang Kamu gunakan, serta cara berpikir ketika Kamu menggunakan peralatan dan jaringan digital.
  3. Constructive (konstruktif): Kamu perlu menggunakan alat-alat digital secara bijak dan tepat agar lebih konstruktif dan aktif secara sosial. Kamu tidak sekadar menjadi penerima atau pemakai saja.
  4. Communicative (komunikatif): Kamu perlu mengingat bahwa peralatan digital dan struktur kekuasaan telah mengubah cara Kamu berkomunikasi. Secara pribadi, Kamu perlu mengontrol cara menggunakan peralatan digital sehingga dapat berkomunikasi secara efektif dan memberikan kontribusi yang bermanfaat.
  5. Confident (kepercayaan diri): agar mahir dalam menggunakan teknologi, Kamu perlu memiliki keberanian dan kepercayaan diri untuk menyelam ke area yang tidak dikenal, mengambil risiko, tidak takut salah, dan menampilkan kepercayaan diri ketika bermain-main dengan peralatan baru.
  6. Creative (kreatif): lebih berani dalam berekspresi dengan peralatan dan jejaring digital.
  7. Critical (kritis): Kamu perlu memahami kondisi dan teks, bahwa tidak semua dibaca dan diucapkan, serta dapat mengevaluasi teknologi-teknologi yang Kamu gunakan.
  8. Civic (kepentingan masyarakat): Kamu perlu mempertimbangkan kepentingan masyarakat luas ketika menggunakan teknologi digital.

Tinggalkan Balasan