Faidah-Faidah Sepuluh Hari Pertama Bulan Dzulhijjah

Bagikan Artikel ini:
  1. Allah telah memberi keutamaan di antara makhluk-Nya. Dia meninggikan beberapa derajat sebagian makhluk tersebut. Karenanya kita dapat menjumpai sebagian hari dan bulan memiliki keutamaan yang tidak dimiliki oleh yang lain. Allah menjadikan sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah sebagai hari-hari terbaik dunia dan menjadikan an-Nahr (hari qurban) sebagai hari terbaik. Dia juga menjadikan hari Jum’at sebagai terbaik dalam sepekan dan menjadikan sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan sebagai malam-malam terbaik, di mana malam al-Qadr merupakan malam yang terbaik.

  1. Dalam setahun Allah memiliki hari-hari yang merupakan hadiah dan hibah. Hamba-Nya yang bertauhid dapat mengambil keuntungan di waktu tersebut. Di antara waktu itu adalah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah yang merupakan salah satu momen ketaatan yang agung. Hamba Allah yang beriman dan bertauhid begitu menanti dan rindu kepadanya, karena di momen tersebut merupakan kesempatan untuk mengangkat derajat, menutup ketergelinciran, mengoreksimkekurangan, mengganti kelalaian. Karenanya, mari kita bersungguh-sungguh untuk mencari rahmat Allah dengan memanfaatkan waktu di momen tersebut.

  1. Sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah adalah hari-hari terbaik dunia secara mutlak. Dalam hadits disebutkan,

Tidak ada hari di mana amal salih lebih dicintai Allah melebihi amal salih yang dilakukan di sepuluh hari ini (sepuluh hari pertama Dzulhijjah)”. Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, termasuk lebih utama dari jihad fi sabilillah? Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Termasuk lebih utama dibanding jihad fi sabilillah. Kecuali orang yang keluar dengan jiwa dan hartanya (ke medan jihad), dan tidak ada satupun yang kembali (mati dan harta nyadiambil musuh).” [HR. al-Bukhari: 969 dan at-Tirmidzi: 757].

  1. Amalan wajib di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah lebih utama daripada amal wajib di waktu yang lain, di mana pelipatgandaan pahalanya begitu banyak. Dan amalan sunnah di waktu itu lebih utama daripada amalan sunnah di waktu yang lain. Akan tetapi amalan sunnah pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah tetap tidak lebih utama daripada amalan wajib di waktu lain [Fath al-Bari 9/15 karya Ibnu Rajab].

  1. Dengan begitu ibadah shalat di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah lebih utama daripada ibadah shalat di waktu lain. Demikian pula ibadah yang lain seperti puasa, membaca al-Quran, berdzikir, berdo’a, merendahkan diri kepada Allah, berbakti pada orang tua, menyambung hubungan kekerabatan, menunaikan kebutuhan orang lain, menjenguk orang yang sakit, mengiringi jenazah, berbuat baik pada tetangga, memberi makan, dan mencakup berbagai amal lain yang bermanfaat bagi orang lain.

  1. Keutamaan sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah dan beramal shalih di waktu tersebut mencakup waktu siang dan malam. Namun, sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan lebih utama daripada sepuluh malam pertama bulan Dzulhijjah, karena keberadaan malam al-Qadr. Sebaliknya, waktu siang di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah lebih utama karena terdapat hari an-Nahr, hari Arafah, dan hari Tarwiyah [Majmu’ al-Fatawa 25/287; Badai’ al-Fawaid 3/162; Zad al-Ma’ad 1/57; Tafsir Ibn katsir 5/416].

  1. Sejumlah ibadah agung terkumpul di waktu ini dan tidak terjadi di waktu yang lain. Ibadah tersebut adalah haji, qurban (udhiyah) yang beriringan setelah pelaksanaan shalat Idul Adhha, puasa , dan sedekah [Fath al-Bari 2/460 karya Ibnu Rajab].

  1. Salah satu keutamaan di momen ini adalah Allah telah bersumpah dengan malam-malamnya yang penuh keutamaan. Allah ta’ala berfirman, yang artinya

Demi fajar. Dan malam yang sepuluh”. [al-Fajr: 1-2].

Malam yang sepuluh adalah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah berdasarkan pendapat mayoritas ahli tafsir dari kalangan salaf dan selainnya [Tafsir Ibn Katsir 8/390; Lathaif al-Ma’arif hlm. 268].

  1. Salah satu keutamaan sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah adalah waktu tersebut merupakan hari yang telah ditentukan dan diberkahi, di mana Allah mensyari’atkan menyebut nama Allah di waktu itu atas rezeki binatang ternak. Allah ta’ala berfirman, yang artinya

Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh, supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak”. [al-Hajj: 27-28].

Hari yang telah ditentukan pada ayat di atas adalah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah menurut mayoritas ulama dan ahli tafsir [Tafsir al-Baghawi 5/379; Tafsir Ibn Katsir 5/415; Lathaif al-Ma’arif hlm. 263].

  1. Sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah ini adalah penutup musim haji yang telah ditentukan (khatimah al-asyhur al-ma’lumat min asyhur al-hajj) seperti yang difirmankan Allah ta’ala, yang artinya

Musim haji itu pada beberapa bulan yang telah diketahui”. [QS. Al Baqarah: 197].

Musim haji itu adalah bulan Syawal, Dzulqa’dah, dan sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah sebagaimana yang diriwayatkan beberapa sahabat seperti Umar, Ibnu Abdillah, Ali, Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, Ibnu az-Zubair, dan selain mereka. Dan pendapat ini merupakan pendapat sebagian besar tabi’in [Lathaif al-Ma’arif hlm. 269].

  1. Salah satu keutamaan sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah adalah keberadaan hari Arafah, di mana Allah ta’ala telah menyempurnakan agama dan nikmat-Nya kepada kaum muslimin. Allah ta’ala berfirman, yang artinya

Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian, agama kalian. Dan telah Aku sempurnakan atas kalian nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama kalian”. [al-Maidah: 3].

  1. Salah satu keutamaan sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah adalah keberadaan hari an-Nahr (hari qurban), waktu penyelenggaraan haji akbar, yang merupakan hari teragung di sisi Allah seperti yang disebutkan dalam hadits, yang artinya

Sesungguhnya hari yang teragung di sisi Allah tabaraka wa ta’ala adalah hari an-Nahr, kemudian hari al-Qarr1”. [Shahih. HR. Abu Dawud: 1765].

  1. Amal shalih di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah lebih utama daripada waktu yang lain karena kemuliaan waktunya bagi penduduk suatu negeri. Jika berkaitan dengan orang yang berhaji di rumah Allah, al-Haram, maka dikarenakan kemuliaan waktu dan tempatnya.

  1. Orang shalih terdahulu (salaf ash-shalih) rahimahumuhllah begitu semangat untuk beribadah di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah dengan melakukan berbagai macam ketaatan. Mereka pun begitu mengagungkannya.

Sa’id bin Jubair rahimahullah beribadah dengan begitu semangat ketika sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah tiba, hingga seolah-olah dia tidak mampu untuk melakukan ibadah karena memaksakan tenaga. Beliau memotivasi orang lain untuk beribadah di malamnya. Beliau mengatakan,

“Jangan padamkan pelita kalian di malam-malam sepuluh awal bulan Dzulhijjah”.

Abu Utsman an-Nahdiy rahimahullah mengatakan, “Ada tiga asyarat (sepuluh hari) yang diagungkan salaf, yaitu sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, dan sepuluh hari pertama bulan Muharram”.

  1. Menjadi kewajiban bagi setiap muslim untuk memanfaatkan waktu di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah dengan optimal, baik di waktu siang maupun malam, untuk beribadah, melakukan amal shalih, mengisi waktu tersebut dengan berbagai ketaatan dan peribadahan. Begitu mengherankan kita begitu semangat dan sungguh-sungguh melakukan amal shalih dan ketaatan di bulan Ramadhan, namun kemudian kita bermalas-malasan di hari-hari ini padahal ia lebih agung daripada hari-hari bulan Ramadhan dan beramal di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah lebih dicintai dan lebih utama di sisi Allah ta’ala.

  1. Jangan menyia-nyiakan waktu di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah dengan banyak tidur, mengikuti desas-desus (gosip), menonton video dan televisi, sibuk bermedsos, karena hari-hari ini adalah ghanimah dan kesempatan yang takkan tergantikan.

  1. Ibadah yang paling utama di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah adalah haji mabrur, di mana Rasulullah bersabda.

Dan haji mabrur tidak ada pahala baginya kecuali surga”. [HR. al-Bukhari: 1773 dan Muslim: 1349].

Khususnya, jika haji yang dilaksanakan adalah haji wajib. Di mana haji mabrur seperti yang disampaikan oleh Ibnu Rajab al-Hambali rahimahullah, “Dia melaksanakannya dengan sempurna seperti menunaikan berbagai kewajiban dan menjauhi keharaman, diikuti dengan berbuat baik kepada orang lain, menebarkan salam, memberi makan, serta diiringi dengan banyak berdzikir kepada Allah ‘azza wa jalla, dan meninggikan suara dengan talbiyah dan menggiring binatang ternak untuk dikurbankan”. [Lathaif al-Ma’arif hlm. 264; Fath al-Bari 9/14].

  1. Disunnahkan memperbanyak dzikir di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, di setiap waktu dan kondisi, ketika berdiri, duduk, berbaring, berkendara maupun berjalan.
  2. Disunnahkan memperbanyak ucapan tahlil, takbir, dan tahmid. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Maka perbanyaklah pada saat itu (sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah) tahlil, takbir dan tahmid”. [Shahih. HR. Ahmad: 5446].

Allah ta’ala berfirman perihal orang-orang yang berhaji di rumah-Nya, al-Haram, yang artinya

“… supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak”. [al-Hajj: 28].

  1. Takbir, disertai tasbih, tahmid dan tahlil adalah al-baqiyat ash-shalihat, tanaman surga, kalimat yang dicintai Allah, pun dicintai oleh Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam ketimbang terbitnya matahari. Dianjurkan meninggikan suara ketika berdzikir di hari-hari ini, baik ketika berdiri, duduk, berkendara, berjalan, berada di rumah, di jalan, atau di masjid, di pasar ataupun di kantor.

  1. Dianjurkan bagi para tokoh dan kaum muslimin secara umum untuk menampakkan takbir di berbagai sarana publik, tempat berkumpul, dan di rumah. Tidak mengapa mengumumkan anjuran tersebut untuk memotivasi melalui berbagai sarana di berbagai tempat.

  1. Dahulu Ibnu Umar dan Abu Hurairah radhiallahu ‘anhuma keluar menuju pasar di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah seraya bertakbir dan orang yang berada di sana pun ikut bertakbir. Maimun bin Mihran rahimahullah berkata,

“Aku melihat manusia bertakbir di sepuluh hari bulan Dzulhijjah sehingga aku bisa menyamakan mereka dengan gelombang lautan, karena takbir mereka begitu bergemuruh”.

  1. Di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah ini kita bisa me-review bahwa dekatnya pertolongan Allah datang bersama takbir. Dengan diiringi pekik takbir Khaibar, negeri lain dan para musuh Islam ditaklukkan dan dikalahkan.

  1. Takbir itu ada dua bentuk, takbir mutlak dan takbir muqayyad.

Takbir mutlak yang dilakukan di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah dan berakhir di hari terakhir hari-hari at-Tasyriq. Dapat dilakukan kapan pun, di berbagai kondisi dan tempat yang diperbolehkan berdzikir kepada Allah ta’ala, dilakukan dengan jahr dan meninggikan suara. Allah ta’ala berfirman, yang artinya

“… dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak”. [al-Hajj: 28].

  1. Takbir muqayyad dilakukan setelah selesai menunaikan shalat wajib, dimulai sejak waktu fajar hari Arafah bagi orang yang tidak berhaji dan sejak waktu Zhuhur hari an-Nahr bagi orang yang berhaji. Berakhir setelah waktu Ashar pada hari ketiga dari hari-hari at-Tasyriq.

  1. Dalil penentuan waktu takbir mutlak dan muqayyad adalah berbagai atsar dari para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kalangan salaf.

  1. Setiap orang dianjurkan berpuasa pada sembilan hari bulan Dzulhijjah atau bilangan hari yang mudah baginya. Terdapat beberapa hadits yang menerangkan pelaksanaan puasa di hari-hari tersebut dan sebagian salaf terbiasa melakukannya.

Puasa merupakan kaffarah bagi segala dosa, perisai dari api neraka dan kesalahan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Tidaklah seorang hamba berpuasa selama sehari di jalan Allah, melainkan Allah menjauhkan wajahnya dari api neraka sejauh perjalanan 70 tahun karena puasa tersebut”. [HR. al-Bukhari: 2840 dan Muslim: 1153].

  1. Puasa Arafah bagi orang yang tidak melaksanakan ibadah haji adalah sunnah yang dituntunkan Nabi shallalllahu ‘alaihi wa sallam dan ghanimah yang teramat besar. Puasa tersebut mampu menghapus dosa-dosa yang dilakukan dalam dua tahun. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Aku berharap kepada Allah agar dengan puasa hari Arafah (tanggal 9 Dzulhijjah), Dia akan menghapuskan dosa satu tahun sebelumnya dan satu tahun setelahnya”. [HR. Muslim: 1162].

  1. Lebih utama dan lebih sempurna ketika ingin berpuasa sunnah mu’ayyan (niatnya tertentu) –salah satunya adalah puasa Arafah- hendaknya berniat puasa di waktu malam agar pahala dapat diperoleh sempurna, tak berkurang.

  1. Dianjurkan mendidik istri, anak, dan setiap orang yang berada dalam perwalian untuk melakukan puasa Arafah. Sa’id bin Jubair rahimahullah berkata,

“Bangunkan para pembantu kalian agar mereka bisa bersahur untuk melakukan puasa Arafah”.

  1. Berusahalah agar meninggalkan berbagai kekhilafan seiring terbenamnya matahari di hari Arafah.

  1. Salah satu perniagaan yang mengunguntngkan di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah ini adalah mengkhatamkan al-Quran yang disertai tadabbur. Karena Allah akan memberikan pahala hingga sepuluh kali lipat untuk setiap huruf yang dibaca. Dan pelipatgandaan pahala di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah lebih ditekankan ketimbang waktu yang lain.

  1. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam”. [HR. Muslim: 1163].

Setiap muslim tentu tidak akan membatasi kesungguhannya beribadah dalam menghidupkan malam-malam di bulan Ramadhan, namun juga semangat untuk menghidupkan malam-malam di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.

  1. Luangkan waktumu untuk mengamalkan apa yang difirmankan Allah ta’ala dalam firman-Nya, yang artinya

Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam. Dan mereka selalu memohon ampunan di waktu pagi sebelum fajar”. [adz-Dzariyat: 17-18].

Di waktu tersebut Allah turun ke langit dunia untuk menerima permohonan ampun, mengabulkan do’a, dan memberikan setiap permintaan orang yang meminta. Ya Allah, jangan Engkau haramkan kami dari karunia-Mu.

  1. Sedekah merupakan salah satu ibadah yang mulia. Sedekah adalah bukti kebaikan dan merupakan indikator kejujuran iman. Dan kelak di hari kiamat, mereka yang gemar bersedekah akan berada dalam naungan sedekah yang telah dikeluarkan. Sedekah menjaga dari sarang keburukan, menghapus dosa, dan merupakan sebab keberkahan harta dan bertambahnya rezeki. Allah ta’ala akan memberikan balasan bagi mereka yang gemar bersedekah dan bersedekah di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah lebih utama ketimbang di waktu lain.

  1. Salah satu amal yang dicintai Allah adalah menggembirakan sesama muslim baik dengan menyambung hubungan kekerabatan, sedekah atau menunaikan kebutuhan mereka. Bagaimana menurut anda jika hal itu dilakukan di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah?

  1. Salah satu bentuk kebaikan yang dapat dilakukan di momen ini adalah mengawasi kondisi para jama’ah haji, berbuat baik kepada mereka dan menjaga anak-anak mereka. Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

Setiap orang yang mempersiapkan orang lain untuk berhaji, atau menggantikannya mengurus keluarga, … maka dia memperoleh pahala yang semisal dengan pahala mereka tanpa ada pengurangan”. [Shahih. HR. Ibnu Khuzaimah: 1930].

  1. Salah satu ibadah yang agung di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah adalah shalat Idul Adha yang dilanjutkan dengan mendekatkan diri kepada Allah dengan berkurban. Keduanya merupakan sunnah-sunnah petunjuk. Allah ta’ala berfirman,

Maka dirikanlah shalat karena Rabb-mu; dan berkorbanlah”. [al-Kautsar: 2].

  1. Menahan diri untuk tidak memangkas rambut dan menggunting kuku di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah merupakan suatu ibadah yang dimulai dari terbenamnya matahari di hari terakhir bulan Dzulqa’dah sebagaimana disebutkan dalam hadits,

Jika kalian melihat hilal bulan Dzulhijjah dan salah seorang kalian ingin berkurban, maka tahanlah diri untuk mencukur rambut dan memotong kuku”. [HR. Muslim: 1977].

dalam riwayat lain tercantum lafadz,

tahanlah diri hingga selesai berkurban”.

  1. Setiap orang yang mengenal hakikat suatu tujuan, niscaya usaha yang dikerahkan akan terasa ringan. Ketahuilah barang dagangan Allah itu mahal, karena yang diperdagangkan adalah surga! Mari kita segera beramal shalih; bertaubat kepada-Nya dengan taubat yang nashuha; meninggalkan dosa dan maksiat dengan perasaan menyesal serta mengembalikan obyek kezaliman jika dosa itu terkait dengan hak orang lain.

Mari jadikan sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah ini sebagai awal baru untuk mengikat janji bersama Allah. Allah ta’ala berfirman, yang artinya

Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nashuha (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai“. [at-Tahrim: 8].

  1. Salah satu ciri kefaqihan seorang muslim adalah melakukan berbagai ibadah di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, baik ibadah yang sifatnya khusus untuk dirinya seperti shalat dan amal shalih yang bermanfaat bagi orang lain sehingga manfaat dan pahala yang diperoleh bertambah besar.
  2. Melakukan amal shalih dan meninggalkan kemaksiatan di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah akan mendidik setiap muslim untuk mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, memperhatikan berbagai batasan yang ditetapkan-Nya karena momen ini merupakan sepuluh hari di salah satu bulan-bulan haram. Allah ta’ala telah berfirman, yang artinya

Maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu”. [at-Taubah: 36].

Allah juga berfirman, yang artinya

Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati”. [al-Hajj: 32].

Dan juga firman-Nya, yang artinya

Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Rabb-nya”. [al-Hajj: 30].

  1. Melakukan amal shalih di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, berbekal dengan melakukan berbagai ketaatan dan kebaikan di waktu itu, dan berinvestasi akhirat di momen yang tidak akan berulang dalam setahun, merupakan tarbiyah bagi jiwa untuk senantiasa ta’at kepada Allah ta’al dan menambah keimanan agar hal itu menjadi pendorong beramal shalih di sepanjang tahun.
  2. Istri dan anak adalah amanah yang dibebankan kepada kita. Dalam hadits disebutkan,

Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya”. [HR. al-Bukhari: 2409 dan Muslim: 1829].

Marilah kita bersungguh-sungguh mendidik anak-anak kita untuk mengagungkan sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah ini; memotivasi dan melatih mereka untuk melakukan ketaatan di waktu tersebut; menjelaskan keutamaannya sebelum momen itu tiba agar mereka mampu mempersiapkan diri dan kita mampu menjadi teladan bagi mereka dalam mengagungkan momen tersebut.

Bersegeralah untuk memperoleh keuntungan dan beramal sebelum datangnya ajal. Kami memohon kepada Allah agar membimbing kami dan kaum muslimin agar mampu memanfaatkan musim-musim kebaikan dengan optimal, serta kami memohon kepada Allah untuk menolong kami agar mampu berdzikir, bersyukur, dan beribadah dengan baik kepada-Nya. Segala puji bagi Allah, Rabb alam semesta.

Sumber:Faidah-Faidah Sepuluh Hari Pertama Bulan Dzulhijjah; Oleh: Syaikh Muhammad bin Shalih Al Munajjid

Bagikan Artikel ini:

Tinggalkan Balasan