Faedah Menikah yang Merupakan Sunnah Nabi dan Rasul

Bagikan Artikel ini:

Pernikahan yang diserukan oleh syariat yang mulia ini merupakan salah satu tanda fitrahnya manusia dan termasuk sunnah para Nabi dan Rasul yang merupakan manusia pilihan dan makhluk paling sempurna. Mereka adalah teladan dan qudwah bagi segenap manusia. Mereka telah manikah serta memiliki anak keturunan. Dan, meneladani para nabi dan rasul merupakan sebuah  tuntutan.

Allah subhanahu wa ta’ala telah mengisahkan bahwa kehidupan para nabi tidak terpisahkan dari bunga dan pohon kehidupan. Mereka pun tidak larut dalam tabattul (membujang) dan kerahiban. Justru sebaliknya mereka menikah dan memiliki keturunan.

Saat kaum musyirikin menentang Rasul yang paling agung, Muhammad shalallahu alaihi wa sallam; serta mencela kenabian dan kerasulannya lantaran dia menikahi wanita, maka Al Quran turun untuk memberikan penjelasan bahwa menikah adalah sunnah nabi-nabi terdahulu. Muhammad bukanlah pemulai sunnah, dan bukan pula pembuat bid’ah dimana tak seorang pun nabi mulia pun pernah mendahuluinya. Dia berfirman:

وَلَقَدۡ أَرۡسَلۡنَا رُسُلٗا مِّن قَبۡلِكَ وَجَعَلۡنَا لَهُمۡ أَزۡوَٰجٗا وَذُرِّيَّةٗۚ وَمَا كَانَ لِرَسُولٍ أَن يَأۡتِيَ بِ‍َٔايَةٍ إِلَّا بِإِذۡنِ ٱللَّهِۗ لِكُلِّ أَجَلٖ كِتَابٞ ٣٨

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa Rasul sebelum kamu dan Kami memberikan kepada mereka isteri-isteri dan keturunan. Dan tidak ada hak bagi seorang Rasul mendatangkan sesuatu ayat (mukjizat) melainkan dengan izin Allah. Bagi tiap-tiap masa ada Kitab (yang tertentu).” [Ar Ra’d: 38]

Dan Rasulullah bersabda:

Empat kebiasaan para Rasul: (1) malu, (2) memakai wangi-wangian, (3) menyikat gigi, dan (4) menikah.” [HR Ahmad dan Tirmidzi]

Faedah Menikah

Menikah memiliki beberapa faedah yang secara global adalah sebagai berikut.

Faedah pertama; Melestarikan Keturunan

Inilah tujuan mulia pernikahan, yakni bumi terus dimakmurkan dengan spesies manusia. Sungguh, syahwat yang diciptakan hanya sebagai pendorong dan penyemangat untuk saling memperbanyak keturunan dan saling menghasilkan keturunan berupa anak cucu yang menjadi qurrotu ‘ain (penyejuk mata) bagi manusia.

وَٱلَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبۡ لَنَا مِنۡ أَزۡوَٰجِنَا وَذُرِّيَّٰتِنَا قُرَّةَ أَعۡيُنٖ وَٱجۡعَلۡنَا لِلۡمُتَّقِينَ إِمَامًا ٧٤

Dan orang orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” [Al Furqan: 74]

Nabi shalallahu alaihi wa sallam bersabda:

Menikahlah kalian, agar kalian menjadi banyak. Sungguh, aku berbangga dengan jumlah kalian atas sekalian umat pada hari kiamat kelak.” [HR Abu Nu’aim]

Secara fitrah dan hikmah, tujuan utama yang dimaksud adalah lahirnya anak itu sendiri, sedangkan syahwat hanyalah pendorongnya.

Faedah kedua: Membentengi diri dari setan dan menolak jebakan-jebakan syahwat liar

Sungguh apabila syahwat menggejolak, niscaya ia takkan terlawan oleh akal dan pula oleh dien. Maka dari itu, Nabi shalallahu alaihi wa sallam bersabda:

Tidaklah aku melihat (sesuatu) yang kurang dalam hal akal dan agama, namun lebih menguasai hati (hasrat) laki-laki yang cerdas daripada kalian (para wanita) ….” [HR Muslim]

Pandangan mata dan syahwat merupakan dua senjata yang ada di tangan iblis. Ia akan memburu para pemuda dan pemudi dengan keduanya, lalu menggelincirkan mereka satu sama lain. Bila iblis tidak mampu menguasai pemuda militan, niscaya ia akan menguasakan teman-teman buruk atasnya. Dan media yang ia gunakan adalah wanita. Maka dari itu, Nabi shalallhualaihi wa sallam, bersabda:

Aku tidak meninggalkan sesudahku fitnah yang lebih berbahaya atas laki-laki daripada wanita.” [HR Bukhari]

Kerahiban Bertentangan dengan Fitrah

Kerahiban yang diserukan oleh kaum Masehi (Kristen) yang mereka jadikan syiar agama mereka dan keutamaan yang mereka banggakan, serta memiliki makna: meninggalkan nikah demi ibadah-itu bertentangan dengan fitrah dan menyelisihi aturan Allah di alam semesta. Bahkan, sedikitpun ia bukan termasuk ajaran dien, namun perkara baru yang dibuat-buat oleh para pendeta, rahib, dan pemuka agama mereka. Mereka membuatnya sendiri, dan bukan syari’at dari Sang Pencipta yang Maha Bijaksana.

Dan mereka ternyata tidak menjaga dan memelihara hak-hak kerahiban. Meski tampak dari luar mereka menjadi rahib dan tidak menikah, namun sejatinya mereka merendahkan harga diri wanita, sedang mereka mengklaim menjadi manusia zuhud, suci, dan sakral.

Manusia memberi mereka sifat suci, dan menamakan para rahib dengan orang-orang suci. Allah telah mencela, menghina, dan memburukkan mereka atas perbuatan ini dalam firman-Nya:

ثُمَّ قَفَّيۡنَا عَلَىٰٓ ءَاثَٰرِهِم بِرُسُلِنَا وَقَفَّيۡنَا بِعِيسَى ٱبۡنِ مَرۡيَمَ وَءَاتَيۡنَٰهُ ٱلۡإِنجِيلَۖ وَجَعَلۡنَا فِي قُلُوبِ ٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُوهُ رَأۡفَةٗ وَرَحۡمَةٗۚ وَرَهۡبَانِيَّةً ٱبۡتَدَعُوهَا مَا كَتَبۡنَٰهَا عَلَيۡهِمۡ إِلَّا ٱبۡتِغَآءَ رِضۡوَٰنِ ٱللَّهِ فَمَا رَعَوۡهَا حَقَّ رِعَايَتِهَاۖ فَ‍َٔاتَيۡنَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنۡهُمۡ أَجۡرَهُمۡۖ وَكَثِيرٞ مِّنۡهُمۡ فَٰسِقُونَ ٢٧

Kemudian Kami iringi di belakang mereka dengan rasul-rasul Kami dan Kami iringi (pula) dengan Isa putra Maryam; dan Kami berikan kepadanya Injil dan Kami jadikan dalam hati orang-orang yang mengikutinya rasa santun dan kasih sayang. Dan mereka mengada-adakan rahbaniyyah padahal kami tidak mewajibkannya kepada mereka tetapi (mereka sendirilah yang mengada-adakannya) untuk mencari keridhaan Allah, lalu mereka tidak memeliharanya dengan pemeliharaan yang semestinya. Maka Kami berikan kepada orang-orang yang beriman di antara mereka pahalanya dan banyak di antara mereka orang-orang fasik.” [Al-Hadid: 27]

Maksudnya mereka membikin dan mengada-adakan kerahiban sendiri, dan Kami tidak pernah mewajibkan atau memfardhukannya pada mereka. Padahal Kami hanya mewajibkan mereka untuk menaati Allah dan mencari ridha-Nya, namun mereka tidak memeliharanya dengan sebaik-baik pemeliharaan. Ayat ini adalah celaan bagi mereka, dan bukan pujian.

Jikalau paradigma kerahiban benar-benar telah dipraktikan oleh kaum Nasrani sebagai upaya melaksanakan perintah pemimpin mereka dari kalangan pendeta dan rahib, niscaya tidak tersisa lagi popularitas dan pengaruh mereka di muka bumi, sebab larangan mereka dari menikah akan memutus keturunan mereka dan menghapus popularitas mereka.

Sistem kerahiban tidak lain hanyalah akan bertabrakan dengan fitrah, serta menjauhi kehendak Allah dalam hal memakmurkan muka bumi dengan manusia. Lalu, bagaimana ia menjadi ajaran agama dan dinisbatkan kepada syariat Rabb semesta alam?!

Faedah ketiga: Menenangkan dan menjinakkan jiwa dengan duduk bersama, bercanda, dan saling memandang; serta menenangkan dan menguatkan hati dalam ketaatan dan ibadah.

Sungguh jiwa itu mudah bosan sehingga berlari dari ibadah dan dzikir. Sebab, amalan tersebut menyelisihi karakternya. Apabila ia dibebani dengan paksaan, maka ia akan menjadi liar dan berlari kencang. Namun, apabila ditenangkan dengan kenikmatan di sebagian waktu, maka ia akan menjadi kuat dan giat.

۞هُوَ ٱلَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفۡسٖ وَٰحِدَةٖ وَجَعَلَ مِنۡهَا زَوۡجَهَا لِيَسۡكُنَ إِلَيۡهَاۖ فَلَمَّا تَغَشَّىٰهَا حَمَلَتۡ حَمۡلًا خَفِيفٗا فَمَرَّتۡ بِهِۦۖ فَلَمَّآ أَثۡقَلَت دَّعَوَا ٱللَّهَ رَبَّهُمَا لَئِنۡ ءَاتَيۡتَنَا صَٰلِحٗا لَّنَكُونَنَّ مِنَ ٱلشَّٰكِرِينَ ١٨٩

“Dialah Yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan dari padanya Dia menciptakan isterinya, agar dia merasa senang kepadanya. Maka setelah dicampurinya, isterinya itu mengandung kandungan yang ringan, dan teruslah dia merasa ringan (beberapa waktu). Kemudian tatkala dia merasa berat, keduanya (suami-isteri) bermohon kepada Allah, Tuhannya seraya berkata: “Sesungguhnya jika Engkau memberi kami anak yang saleh, tentulah kami termasuk orang-orang yang bersyukur” [Al A’raf: 189]

Ali radhiyallahuanhu pernah berkata, “santaikanlah hatimu sebentar. Sungguh, bila engkau memaksa (hatimu) maka ia akan membuta.”

Faedah keempat: Membebaskan hati dari urusan mengurus rumah, seperti memasak, menyapu, mencuci piring, mengepel, membersihkan berbagai peralatan, dan menyiapkan media-media untuk bersantai.

Sesungguhnya apabila manusia tidak memiliki syahwat berjimak, niscaya ia akan berat menjalani hidup di rumah sendirian. Apabila ia tidak memiliki istri yang menyayangi dan memeliharanya; dan ia menanggung semua pekerjaan rumah, sehingga sebagian besar umurnya akan hilang dan tidak bisa dikonsentrasikan untuk berilmu dan beramal.

Istri yang shalihah adalah istri yang memperbaiki dan menata rumah, serta menolong dan meringankan beban suami dalam hal ini. Bila hal ini tidak berwujud, maka hati akan selalu terganggu dan tersibukkan hingga tidak punya waktu untuk beribadah, bahkan hidup akan mengeruh.

Rasulullah bersabda:

Diantara kebahagiaan anak Adam ada tiga hal: (1) istri shalihah, (2) rumah yang baik, dan  (3) kendaraan yang bagus. Dan di antara kesengsaraan anak Adam: (1) istri yang tidak shalihah, (2) rumah yang buruk,  dan (3) kendaraan yang jelek.” [HR Ahmad]

Faedah kelima: Mewujudkan mujahadah nafs dan riyadhoh jiwa dengan adanya ri’ayah (pengasuhan) dan wilayah (pengurusan), penunaian terhadap hak-hak wanita, sikap sabar atas akhlak mereka, ketulusan menanggung aib mereka, berusaha memperbaiki dan membimbing mereka ke jalan agama, serta berusaha mencari rezeki yang halal untuk mereka dan melakukan pendidikan anak.

Semua amalan ini memiliki keutamaan yang besar dan kedudukan yang agung. Sebab, ia adalah mengasuh dan mengurus. Dan pahala mengasuh itu pun sangat besar. Umar berkata, “Tidak ada yang menghalangi pernikahan selain lemah atau fujur. “Maksudnya, lemah syahwat atau fasik.

Sumber: Pernikahan Islami; oleh M Ali As Shobuni

Bagikan Artikel ini:

Tinggalkan Balasan