Cara Menghadapi Tren Pasar Yang Terus Berubah

Menurut Bonnie S. dalam buku Lasting Lean, salah satu kepastian dalam dunia usaha adalah bahwa dunia usaha tidak pernah memiliki kepastian. Atmosfer dunia usaha akan berubah dengan cepat dan sering kali tidak dapat diprediksi.

Pada tahun 1800-an, mustahil bagi orang untuk membawa kamera bepergian karena peralatan fotografi terbuat dari pelat basah besar dan berat. Lalu, Kodak hadir menjawab kebutuhan pasar dengan kamera kecil, pelat kering, dan kertas film berlapis gelatin yang mudah dibawa ke mana-mana. Sejak itu, fotografi menjadi industri raksasa.

Ujian terbesar Kodak adalah harus menghadapi kemunculan gambar digital. Kodak pun langsung menghadapi pesaing-pesaing besar, seperti Hewlett-Packard (HP), Sony, dan Canon, yang telah lebih dahulu mengikuti perubahan di dunia digital.

Tak hanya itu, Anda masih ingat tentang persepsi konsumenkan? Bagi konsumen, Kodak adalah “film”, bukan “kamera digital”. Nikon sudah duluan memegang persepsi “kamera digital” tersebut.

Jadi, apa yang harus dilakukan Kodak untuk mengatasi masalahnya?

1. Menyadari Jebakan Sunk Cost.

Meski pernah sukses dan memimpin pasar, Kodak harus melupakan masa lalu. Ia perlu mempertimbangkan untuk membuat produk baru yang sesuai dengan dunia digital.

2. Membuat Keputusan Berdasarkan Pengembalian Terbaik di Masa Depan.

Kodak harus membuat hitungan antara anggaran yang perlu dikeluarkan bila memilih bertahan dengan film atau mendapatkan keuntungan di masa depan dengan membuat produk baru sesuai tren digital.

3.  Produk Baru dengan Nama Baru.

Poin ini berkaitan dengan persepsi di kepala konsumen. Penambahan nama menjadi Kodak Digital bisa jadi bukan solusi yang bijak. Apabila Kodak memutuskan membuat produk baru, ia harus menggunakan nama yang berbeda.

Tips!

Siap Menghadapi Perubahan Tren.

  1. Membuat rencana bisnis yang lengkap dan efektif.
  2. Menggunakan teknik pivoting dalam perencanaan agar mampu bersikap fleksibel dalam pelaksanaan.
  3. Selalu berada di lini depan untuk mengetahui perubahan yang terjadi.
  4. Bersikap terbuka terhadap perubahan.

Seorang entrepreneur bisa saja berharap produk yang dijualnya terus diminati pasar hingga bisa mencapai target penjualan yang ditetapkan, bahkan kalau memungkinkan terus mengalami peningkatan penjualan dari waktu ke waktu. Faktanya, kita tidak bisa berharap produk (maupun jasa) yang kita jual bisa terus laku di pasaran tanpa melakukan sesuatu.

Dalam produk dan jasa yang beredar di pasaran, berlaku yang namanya siklus hidup produk sebagai berikut.

1. Siklus Perkenalan

Produk baru muncul di pasar dalam jumlah besar, sementara penjualan masih sangat rendah. Akibatnya, biaya promosi dan pemasaran terhitung tinggi.

2. Siklus Pertumbuhan

Pada tahap ini, penjualan dan laba meningkat karena pasar telah mengenal produk. Permintaan atas produk tersebut meng alami kenaikan. Sebaliknya, biaya promosi mengalami penurunan.

3. Siklus Puncak

Pada tahap ini, produk paling banyak diserap pasar dan berada dalam posisi yang mapan. Tetapi, di tahap ini pula pesaing mulai bermunculan dengan produk-produk mereka yang mungkin lebih baik dari produk kita.

4. Siklus Kemunduran

Terjadi penurunan permintaan produk akibat banyaknya pesaing yang muncul. Pada tahap ini, perusahaan harus me mutuskan strategi terbaik untuk kelangsungan hidup produk.

Tips!

Solusi Ketika Penjualan Produk Turun.

  • Mempelajari produk paling baru yang ada di pasaran.
  • Meninjau ulang produk; memperbarui atau mengurangi bagian-bagian yang kurang baik.
  • Melakukan revisi terhadap program pemasaran agar lebih efisien.
  • Apabila penjualan terus turun, menghentikan produksi dan membuat produk baru.

Sumber: 101 Problem Solving for Entrepreneur

Bagikan Artikel

Tinggalkan Balasan