Cara Mengatasi Bisnis yang Stagnan

“Bijaklah menggunakan Internet.” Nasihat yang satu ini semakin sering digaungkan, baik untuk masyarakat umum maupun di kalangan pebisnis. Pada zaman serba cepat dan instan seperti saat ini, ditambah arus informasi yang demikian deras, Internet sangat membantu jika kita ingin membangun bisnis. Namun di sisi lain, Internet juga bisa menghancurkan bisnis kita.

Banyak bisnis kreatif baru bermunculan dan memanfaatkan jasa Internet, lebih tepatnya memanfaatkan berbagai media sosial, seperti Instagram, Facebook, dan lain sebagainya. Contoh nyata bisnis yang langsung bisa melaju cepat adalah bisnis dengan brand Ma Icih. Bisnis ini mampu menarik banyak konsumen hanya dari rajin ‘berkicau’ di Twitter.

Meski ada banyak bisnis yang berhasil meraih kesuksesan dengan memanfaatkan media sosial dan Internet, banyak pula bisnis sejenis yang hanya bisa bertahan dalam waktu enam bulan pertama. Banyaknya pesaing dengan produk serupa dan pangsa pasar yang sama, membuat bisnis yang dijalankan mengalami stagnan (sulit berkembang). Akibat terburuk bisnis yang stagnan —kalau pemiliknya tidak memiliki modal yang cukup untuk membiayai operasional—adalah bisnis itu bisa terjun bebas, mengalami kerugian, dan akhirnya tutup.

Kalau bisnis berjalan stagnan, apakah kita harus menghentikan bisnis tersebut? Adakah cara lain untuk tetap bertahan? Inilah dua pertanyaan dasar yang harus dicarikan solusinya. Jika masih ada jalan lain yang bisa ditempuh, mengapa kita tidak mencobanya?

Seperti banyak bidang dalam kehidupan kita, ada banyak cara yang bisa dilakukan demi bertahan dalam masalah atau tantangan yang sedang dihadapi. Tentu bertahan di sini bukan hanya diam dan tidak melakukan apa-apa, melainkan bertahan sambil mencari solusi terbaik untuk mengatasi masalah tersebut.

“Orang sungguh ingin tahu cara pembuatan sosis,” kata Dan Provost dan Tom Gerhardt dalam buku mereka yang berjudul It Will Be Exhilarating. Sebagai makhluk sosial, banyak di antara kita yang tertarik dengan apa yang dilakukan orang lain. Inilah yang seharusnya dimanfaatkan untuk memper tahankan, sekaligus mengembangkan bisnis. Satu kunci dalam berbisnis yang perlu di ketahui semua entrepreneur, yaitu menjalin hubungan dan komunikasi yang baik dengan konsumen untuk menciptakan keterikatan serta rasa ingin tahu mereka akan produk yang kita pasarkan.

Dengan kata lain, konsumen tidak hanya ingin memiliki produk bagus, tetapi juga ingin tahu proses di balik keberadaan produk tersebut. Dengan membagikan proses pembuatan produk kepada konsumen, apalagi kalau dapat melibatkan mereka dalam penciptaan, inovasi, juga berkreasi dalam pengembangan produk, konsumen akan merasa terhubung dengan produk-produk kita. Pada akhirnya, mereka akan terus menunggu, produk apa lagi yang akan kita luncurkan selanjutnya.

Berbagi proses berarti meluangkan waktu. Sementara kita juga tahu mengelola bisnis—toko online—ataupun situs khusus yang kita gunakan untuk memasarkan produk sudah jelas menyita waktu. Kita memerlukan waktu untuk membuat foto produk yang bagus, memikirkan caption yang mengundang, membuat flyer promo yang menarik, me-repost testimoni pelanggan, dan masih banyak lagi. Kabar baiknya, kita dapat melakukannya secara bertahap. Ini seperti memecah tujuan akhir ke dalam tujuantujuan kecil yang dapat kita selesaikan satu demi satu. Yang harus kita lakukan adalah fokus dan berkomitmen pada proses harian.

Sebelum Produk

  1. Bagilah apa yang menginspirasi kehadiran produk.
  2. Dari mana kita mendapatkan resepnya?
  3. Di mana kita berbelanja?
  4. Cerita menarik apa yang bisa diangkat dalam prosesnya?

Produk Launching

  1. Foto produk dibuat semenarik mungkin.
  2. Bagikan bahan-bahan yang digunakan dan manfaatnya.
  3. Bagikan kesan-pesan atau hal yang kita pelajari saat penciptaan produk.

Setelah Produk

  1. Laporkan perkembangan produk, apakah kita melakukan inovasi atau berhasil merangkul pasar yang berbeda?
  2. Bagikan tanggapan atau testimoni konsumen.
  3. Bagikan rencana produk berikutnya.

Sumber: 101 Problem Solving for Entrepreneur

Tinggalkan Balasan