Cara Melakukan Validasi Ide Startup sebelum Meluncurkan ke Pasar

Cara Melakukan Validasi Ide Startup sebelum Meluncurkan ke Pasar

Langkah pertama dalam memulai usaha adalah menentukan ide bisnis atau masalah yang ingin dipecahkan dengan ide bisnis kita. Setelah kita menemukan ide bisnis tersebut, kita perlu menguji apakah ide bisnis tersebut memiliki potensi atau tidak. Mungkin ada yang beranggapan bahwa market research dalam rangka memvalidasi ide ini memerlukan biaya yang besar. Padahal, kenyataannya tidak harus demikian.

Yang pertama kita perlu lakukan terkait market research adalah mengidentifikasi masalah atau peluang. Hal ini dapat dilakukan dengan desk research atau bertanya kepada pihak yang termasuk di dalam calon target market produk kita. Kedua hal di atas tidak atau sedikit sekali memerlukan biaya.

Langkah selanjutnya adalah membuat hipotesis akan potensi solusi terhadap masalah atau peluang tersebut. Hipotesis ini kemudian diuji kembali kepada calon pengguna produk kita baik secara kualitatif melalui FGD ataupun kuantitatif. Berapa banyak responden yang perlu kita dapatkan terkait dengan pengujian hipotesis tersebut? Menurut saya, beberapa lusin cukup asalkan responden tersebut benar-benar sesuai dengan target kita.

Adapun beberapa contoh pertanyaan yang dapat kita tanyakan kepada responden sebagai berikut.

  • Apakah Anda pernah mengalami masalah terkait dengan <deskripsi masalah>?
  • Berapa kali Anda mengalami masalah tersebut?
  • Apakah jika ada produk yang memiliki fungsi-fungsi seperti <potensi solusi> Anda akan tertarik menggunakannya?
  • Berapa biaya yang bersedia Anda keluarkan untuk menggunakan produk tersebut?

Pada tahap ini, kita tidak harus membayar kepada tiap responden. Kita dapat memberikan hadiah hanya kepada sebagian kecil responden yang beruntung sehingga total biaya yang perlu kita keluarkan menjadi sedikit. Hasil riset tersebut dapat menjadi gambaran awal terkait dengan solusi yang ingin kita wujudkan. Apabila setidaknya ada kecenderungan pihak yang tertartik untuk menggunakan ide kita, menurut saya ini cukup untuk menjadi dasar untuk melanjutkan ke tahap berikutnya yakni pengembangan produk.

Terkait bagaimana mengembangkan produk itu sendiri, saya sudah pernah menulis sebelumnya. Metode Lean Startup yakni mengembangkan Minimum Viable Product (MVP) melalui siklus Build-Measure-Lean dapat dijadikan alternatif karena tidak banyak biaya dan waktu yang diperlukan terkait hal ini. Jangan lupa, di dalam kuesioner yang kita lakukan sebelumnya, sedapat mungkin kumpulkan juga database responden tersebut — tentunya dengan seizin mereka — agar kita dapat langsung menguji MVP ini kepada mereka. Dengan demikian, kita dapat segera mengetahui hal-hal apa yang perlu diperbaiki atau ditingkatkan.

Keseimbangan antara mengembangkan produk dan memasarkannya

Apabila kita memiliki dana atau budget, apakah sebaiknya kita menghabiskannya untuk mengembangkan produk atau melakukan kegiatan pemasaran? Jawabannya bergantung dari status produk itu sendiri. Apabila produk itu sendiri memang belum bagus, maka sebaiknya fokus di pengembangan produk. Jika sebaliknya ternyata sudah bagus atau cukup bagus, maka kita dapat mulai menghabiskan dana untuk marketing.

Pada tahap ini, bukan berarti kita tidak meluncurkan produk tersebut. Kita dapat meluncurkan produk tersebut kepada publik sesuai konsep MVP, namun alangkah sayang apabila kita menghabiskan dana untuk marketing apabila ternyata produk kita ternyata belum terlalu baik sehingga pelanggan yang datang karena aktivitas pemasaran yang kita lakukan tidak datang kembali di masa yang akan datang.

Secara teori, hal ini besar kemungkinan akan mengakibatkan Customer Acquisition Cost (CAC) menjadi lebih tinggi dari Life Time Value (LTV) dari pelanggan tersebut. Hal ini berarti, kegiatan pemasaran yang kita lakukan menghasilkan ROI yang kurang baik.

Yang terbaik, pertama kita luncurkan MVP kepada publik termasuk kepada responden yang pernah kita riset. Setelah itu, ukur kinerja produk tersebut baik secara kualitatif yakni dengan bertanya kepada responden maupun kuantitatif yakni dengan memeriksa KPI terkait dengan pelanggan yang datang.

Contoh prototipe produk (hal ini dapat menjadi hal yang ditunjukkan kepada responden)

KPI yang dapat diukur bermacam-macam, namun pada intinya terbagi menjadi dua di bawah.

  1. Apa yang terjadi ketika pengunjung datang

Hal ini mencakup KPI seperti conversion rate, time on site, bounce rate, times on page, dan KPI lain yang mengarah kepada tujuan produk tersebut (entah itu transaksi, donasi, download, dan lain sebagainya).

  1. Retention rate

Hal ini mencakup KPI terkait bagaimana aktivitas pengguna berikutnya setelah sebelumnya mengujungi platform tersebut. Termasuk di sini cohort analysis, weekly/monthly frequency, number of users with last login >30 days, dan sebagainya.

KPI mana yang terbaik? Ukurlah yang paling kita pahami dan ketahui apa yang harus dilakukan terkait dengan KPI tersebut. Adalah baik jika kita juga memiliki benchmark KPI tersebut. Selain itu, jangan sampai pengukuran KPI ini memberatkan kita dalam hal teknis mengukur dan menyimpan data. Demikian juga, jangan sampai hal ini memberatkan pelanggan kita — misalnya, jangan sampai membuat platform menjadi lambat ketika diakses.

Mengenai persisnya angka-angka terkait dengan KPI di atas, maka jawabannya tergantung dari jenis produk yang dikembangkan. Sebagai contoh, retention rate platform e-commerce dengan media sosial akan berbeda, di mana pada umumnya orang mengunjungi platform media sosial lebih sering dibandingkan dengan e-commerce. Sekali lagi, alangkah baiknya kita juga melakukan riset terkait dengan KPI tersebut di produk serupa atau mirip (termasuk di negara lain jika ada).

Di atas dibahas skenario terbaik yang terjadi. Bagaimana jika ternyata jawaban dari responden terkait ide kita kurang menggembirakan? Bagaimana jika ternyata produk yang kita kembangkan tidak mereka sukai?

Well, kita harus dewasa bahwa memang itu berarti ide atau produk yang kita kembangkan tidak atau belum sesuai dengan kebutuhan pasar. Kita dapat berusaha untuk memperbaiki ide atau produk itu, namun kita juga mesti terbuka bahwa mungkin saja memang masalah yang kita telaah ternyata memerlukan solusi dalam bentuk lain.

Semakin cepat kita menyadari hal tersebut, semakin kecil opportunity cost yang perlu kita keluarkan untuk kita pivot atau bahkan benar-benar meninggalkan ide tersebut dan berpindah ke ide lainnya yang lebih potensial. Siapa tahu ternyata ide berikutnya ini yang ternyata sangat digandrungi oleh target kita.

Sumber: id.techinasia.com

Tinggalkan Balasan