Bahaya Headset atau Earphone Secara Berlebihan Bisa Mengakibatkan Kehilangan Pendengaran Permanen

Suatu penelitian menyebutkan 5–10% pemakai headset atau earphone selama 1 jam sehari dengan volume tinggi selama lima tahun mengalami kehilangan pendengaran permanen.
Suatu penelitian menyebutkan 5–10% pemakai headset atau earphone selama 1 jam sehari dengan volume tinggi selama lima tahun mengalami kehilangan pendengaran permanen.

Dewasa ini, potensi bahaya bising tidak hanya didapatkan dari pabrik. Penggunaan ponsel pintar dan earphone yang semakin marak di semua kalangan membuat telinga semakin sering terpapar kebisingan. Anak-anak dan bayi yang ditempatkan dalam wahana mainan anak-anak juga terpapar bising yang berlebihan. Survei oleh Komnas Penanggulangan Gangguan Pendengaran dan Ketulian menemukan bahwa kebisingan dari mesin permainan bahkan melebihi 100dB (batas aman 80dB).

Bunyi klakson dan knalpot kendaraan bermotor serta penggunaan alat-alat berat yang menimbulkan bising sering kita temui dalam keseharian kita. Di dalam mal pun sering diadakan acara yang menggunakan pengeras suara tanpa pengaturan akustik sehingga bising tersebut dipantulkan berkali-kali oleh lantai, tembok, dan lain-lain. Bising sendiri diartikan sebagai suara tidak menyenangkan, tidak diinginkan, membingungkan, atau mengganggu, serta memberi efek berbahaya bagi kesehatan. Efek bahaya ini dipengaruhi oleh berapa lama durasi paparan bising dan seberapa besar intensitas bising tersebut.

Di dalam telinga kita ada organ yang disebut koklea atau rumah siput. Koklea memiliki sejenis peta yang masing-masing memiliki lokasi tersendiri untuk menangkap suara pada frekuensi yang berbeda-beda. Kebisingan tinggi (>85dB) merusak koklea area frekuensi tinggi terlebih dahulu. Akibatnya beberapa konsonan berfrekuensi tinggi seperti s, k, t, ch, th, p akan sulit ditangkap oleh sel-sel rambut di koklea sehingga tidak bisa diteruskan ke saraf pendengaran di otak untuk diproses. Bayangkan bila kita berbicara dengan menghilangkan konsonan-konsonan tersebut dalam kata-kata. Contohnya, seseorang mengatakan, “Tolong angkat jemuran, langit sudah gelap, sebentar lagi hujan”, maka oleh orang yang mengalami gangguan pendengaran akan ditangkap sebagai berikut, “_olong ang_a_ jemuran, langi_ _udah gela_, _eben_ar lagi hujan”.

Tentunya makna kalimat yang diucapkan lawan bicara akan sulit dipahami karena ucapan yang terdengar hanya seperti berkumur-kumur. Dapat dibayangkan jika hal ini terjadi pada anak-anak yang setiap minggu terpapar kebisingan di wahana permainan dalam mal berjam-jam, tentunya akan memengaruhi kecerdasan dan kemampuan anak untuk menangkap pelajaran di sekolah. Jika terjadi pada orang dewasa, akan menyebabkan frustrasi dan perasaan depresi karena merasa tidak berguna lagi.

Kerusakan semacam ini bersifat permanen atau tidak dapat disembuhkan. Karena itu, paparan bising berlebihan dalam kehidupan sehari-hari sangat perlu dicegah. Gejala awal yang banyak dirasakan sebelum terjadi kerusakan adalah tinitus atau telinga berdenging. Segera periksakan diri ke dokter THT bila mengalami telinga berdenging. Sebisa mungkin hindari pajanan bising.

Hati-hati dengan penggunaan headset atau earphone. Suatu penelitian menyebutkan 5–10% pemakai headset atau earphone selama 1 jam sehari dengan volume tinggi selama lima tahun mengalami kehilangan pendengaran permanen. Pemakaian headset atau earphone secara cerdas yaitu:

  1. Dengan konsep 60/60, maksudnya adalah menggunakan headset atau earphone maksimal selama 60 menit dengan volume suara tidak melebihi 60%.
  2. Pemilihan jenis musik yang didengar juga turut berpengaruh. Musik keras seperti rock, metal, atau berfrekuensi tinggi akan lebih cepat menyebabkan kelelahan organ pendengaran.
  3. Jangan menggunakan headset atau earphone menjelang tidur. Apalagi jika kemudian tertidur dengan musik masih menyala sepanjang malam dan baru dimatikan besok paginya.
  4. Jangan menggunakan headset atau earphone bila sedang mengerjakan pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi seperti mengendarai mobil atau motor, melakukan pekerjaan dengan mesin, belajar, dan lain-lain.

Q : Benarkah terapi lilin (ear candle) dapat memberikan manfaat kesehatan?

A : Banyak sekali iklan dan klinik kecantikan yang mengklaim terapi lilin bermanfaat untuk mengangkat kotoran telinga, mengobati vertigo, tinitus, dan lain-lain. Namun belum ada bukti ilmiah tentang hal tersebut.

FDA (Food and Drug Administration) Amerika telah melakukan penelitian bahwa terapi ini tidak memiliki efek vakum yang dikatakan dapat menarik kotoran telinga. Bahkan bisa jadi yang diperlihatkan sebagai kotoran telinga adalah hasil bakaran lilin tersebut. Terapi ini sudah dilarang di beberapa negara.

Source: dr. Fiona Tjiputra (Info kita)

Tinggalkan Balasan