Bagaimana Memiliki Mental Entrepreneurship Startup

Bagaimana Memiliki Mental Entrepreneurship Startup

Meskipun kita masih membutuhkan banyak startup teknologi, tetapi tidak berarti semua orang harus membangun bisnis di bidang tersebut. Salah satu alasan utama adalah terkait dengan problem. Startup yang baik adalah yang dapat memecahkan masalah. Sehingga, untuk mendirikan startup, periksalah masalah yang ingin dipecahkan. Apakah (1) masalah tersebut benar-benar nyata dan bukan hanya merupakan asumsi kita, dan (2) startup atau solusi yang kita buat dapat menyelesaikan masalah tersebut.

Apabila memang yakin terhadap keduanya, maka by all means kembangkan startup tersebut. Namun, jika kita tidak yakin akan masalah yang ingin dipecahkan, maka percayalah, kita tidak ingin terjebak dalam hype, yakni ikut membangun startup hanya karena orang lain melakukan. Jika ini kita lakukan, tinggal menunggu waktu saja hingga startup tersebut gagal. Yang lebih penting adalah bagaimana mengembangkan mindset yang benar dalam membangun startup.

Nah, apabila kita sudah memiliki bisnis sendiri maka kita perlu memikirkan fakta bahwa opportunity cost untuk ekspansi ke dunia startup teknologi tidaklah kecil. Apakah memang worth untuk terjun ke sana dibandingkan dengan pengembangan bisnis secara organik?

Jika kita sudah memiliki bisnis yang berjalan dengan baik, lebih baik kita berfokus di dalam mengembangkan bisnis tersebut dengan me-leverage teknologi (dibandingkan dengan pindah haluan ke dunia teknologi). Apabila kita memiliki bisnis di bidang pendidikan berupa sekolah-sekolah misalnya, kita tidak harus membuat startup di bidang education. Kita dapat memulai dengan memanfaatkan teknologi agar kegiatan belajar mengajar di sekolah dapat berlangsung secara optimal.

Meskipun kita tidak memasuki dunia startup teknologi secara langsung, adalah baik untuk kita memiliki mental startup. Seperti apa itu? Metode Build-Measure-Learn dari Lean Startup dapat digunakan. Pertama, validasi masalah dan ide. Apa saja masalah-masalah yang melanda di bisnis kita, dan apakah kita memiliki ide atau solusi khususnya dengan teknologi untuk mengatasi masalah tersebut?

Jangan lupa untuk terus berinteraksi dengan pelanggan kita, sama seperti startup kecil yang selalu memperlakukan feedback dari pengguna. Jangan sampai karena kita sudah memiliki bisnis yang besar, kita mengacuhkan keluhan dari pelanggan.

Selanjutnya, membangun solusi melalui eksperimen-eksperimen kecil. Daripada menghabiskan waktu dan budget besar, apakah kita dapat membuat solusi dalam bentuk prototipe yang memerlukan waktu dan budget seadanya? Hal ini agar kita dapat memperbaiki solusi ini dengan cepat juga.

Banyak perusahaan besar yang ingin menghasilkan solusi yang dianggap perfect, namun kenyataannya belum tentu hal itu dibutuhkan oleh pelanggan. Sayang sekali apabila waktu dan dana yang besar terbuang percuma hanya karena kita merasa paling tahu akan kebutuhan pelanggan kita.

Dalam membuat solusi dan eksperimen tersebut, jangan lupa untuk mengukur KPI yang menjadi parameter kesuksesan solusi tersebut. Kita dapat melakukan A/B testing dan eksperimen-eksperimen lain sehingga dapat memperoleh data yang lebih akurat. Selanjutnya, data ini kita pelajari dan evaluasi untuk dijadikan sebagai dasar dalam pengambilan keputusan.

Jika memungkinkan, data tersebut dapat dimonitor secara real time. Dengan demikian, keputusan yang perlu diambil berdasarkan data tersebut juga dapat dilakukan secara cepat.

Hal di atas dapat dilihat dalam bentuk siklus seperti di bawah ini.

Bagaimana apabila kita belum memiliki ide dan belum memiliki bisnis konvensional juga? Tidak ada salahnya untuk bekerja. Tidak ada yang lebih superior di antara pengusaha dan pekerja. Keduanya merupakan pihak yang saling mendukung dan membutuhkan. Jika semua orang menjadi pengusaha, lantas siapa yang menjadi pekerja?

Bekerja di dalam startup memiliki kemungkinan kita dapat mengasah mental startup dengan baik. Namun, bukan berarti kita tidak dapat mengaplikasikannya di dalam perusahaan tradisional. Galilah hal ini ketika kita sedang menjalani proses wawancara.

Apabila memungkinkan, ketahuilah siapa yang akan menjadi atasan kita di perusahaan tersebut. Hal ini penting sekali, seperti yang pernah disampaikan oleh Jack Ma, “When you are 20 to 30 years old, you should follow a good boss [and] join a good company to learn how to do things properly.”

Oleh karena itu, tidak ada hal yang salah apabila kita menjadi pekerja. Kita dapat mempelajari banyak hal di dalam perusahaan tersebut yang dapat digunakan sebagai referensi atau bekal ketika nanti kita membangun startup.

Terakhir, apabila nanti kita menemukan ide startup yang menarik atau masalah yang kita pikir dapat kita kembangkan solusinya, maka apabila memungkinkan, jangan langsung resign dari perusahaan tempat kita bekerja.

Cobalah kembangkan ide tersebut di akhir pekan atau waktu luang kita. Apabila ternyata ide tersebut kemudian menunjukkan traction yang bagus, barulah kita mengembangkan hal tersebut secara full time. Dengan demikian, kita dapat memitigasi risiko apabila ide tersebut ternyata tidak tumbuh dengan baik.

Sumber: Medium (Penulis Fajrin Rasyid)

Tinggalkan Balasan