Arti Penting Membangun Networking Dalam Berbisnis

Tidak diragukan lagi kepercayaan dan saling percaya akan mengundang keberkahan. Itulah manfaat vertikalnya. Yang apik dan menarik, kepercayaan juga mengundang manfaat horizontal, yakni silaturahim. Kenapa? Mudah dimengerti. Bukankah kepercayaan akan menumbuhkan rasa aman dan nyaman bagi kedua belah pihak untuk mengulurkan tali-tali silaturahmi?

Istilahnya, kepercayaan dulu, baru silaturahim. Kalau keuntungan materi? Itu sih sudah pasti. Dalam konteks bisnis, konsumen tak segan-segan membeli ulang (continuous purchase) dan membeli silang (cross-purchase) dari perusahaan yang terpercaya. Satu hal yang perlu ditegaskan, Yang Maha Kuasa tidak pernah melarang hamba-Nya untuk mendapatkan keuntungan dalam bentuk materi. Boleh-boleh saja. Dan kalimat berikut ini perlu dipahami sungguh-sungguh. Keuntungan materi itu adalah output akhir, setelah Anda melintasi proses yang menitikberatkan keberkahan, kepercayaan, dan silaturahim.

Tidak ubahnya seperti bunga dan rumput. Dengan menanam rumput, maka Anda hanya akan menikmati rumput semata. Akan tetapi, dengan menanam bunga, niscaya Anda akan memetik kedua-duanya. Ya bunga, ya rumput. Pasalnya, rumput akan tumbuh dengan sendirinya. Boleh dibilang keberkahan, kepercayaan, dan silaturahim itu adalah bunga. Sedangkan keuntungan dalam bentuk materi itu adalah rumput.

Renungkan ini:

  • Mengapa manusia dijadikan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa? Supaya saling mengenal. Itulah pesan kitab suci.
  • Mau lebih berbahagia? Mau panjang umur? Mau murah rezeki? Silaturahim kuncinya. Itulah pesan Nabi Muhammad.
  • Silaturahim, ini tidak main-main. Umat Nabi Nuh sampai dipersingkat umurnya, gara-gara memutus tali silaturahim dengan Nabi Nuh.

Disadari atau tidak para profesional melakukan ruh silaturahim dalam praktik Customer Realtionship Management, Community Marketing, Socmed Marketing, Multilevel Marketing, Co-Branding, Public Relation, Testimonial Advertisement, Referential Selling, dan sebagainya. Setidaknya, kata silaturahim diterjemahkan menjadi kata relasi, akses, ataupun  network.

Istilahnya, kepercayaan dulu, baru silaturahim via pexels.com

Maka catatlah;

  • Petuah Bapak Pemasaran, Philip Kotler, “Bisnis di Asia akan lebih mudah dijalankan, apabila didukung dengan network.”
  • Petuah bapak kekayaan, Robert Kiyokasi, “Orang-orang terkaya di dunia mencari dan membangun network, sedangkan orang lain mencari pekerjaan.”
  • Berdasarkan penelitian University of Eastern Finland terhadap lebih dari 1.400 orang, mereka yan sinis (tidak mudah percaya) akan terganggu fungsi otaknya, bahkan lebih cepat meninggalnya. Padahal kepercayaan adalah bahan dasar untuk networking.
  • Berdasarkan penelitian University of Queensland terhadap lebih dari 11.000 orang, setiap satu jam yang Anda habiskan di depan TV mengurangi harapan hidup Anda 22 menit. Mungkin karena terpancarnya radiasi dan berkurangnya peluang untuk networking.
  • Berdasarkan penelitian Wayne State University terhadap lebih dari 10.000 orang, mereka dengan nama berinisial D memiliki umur lebih pendek, sementara A memiliki umur lebih panjang. Mungkin karena A itu identik dengan nilai A dan kata access (network) 😉
Customer Realtionship Management via pexels.com

Begitulah, zaman sekarang yang diburu adalah akses, bukan semata-mata aset. Karena, masyarakat dunia semakin terkoneksi satu sama lain (interconnected). Dan sesuai dengan Hukum Metcalf, bertambahnya orang dalam sebuah network, membuat nilai network itu menanjak secara eksponensial, tidak lagi linier.

Dimana-mana telah terbukti, melalui network Anda lebih mudah menghadirkan apapun. Entah itu pengembangan bisnis, pengembangan diri, maupun proyek sosial.

  • Network is nice word. Network is net worth. Without network, it won’t work.
  • Percayalah, ketika Anda didukung everyone, Anda akan mencapai everything.
  • Dengan berjamaah, insyaAllah semua akan terjamah.
  • Bukan shalat saja berjamaah, hendaknya bisnis dan karier juga berjamaah.

Misalnya Anda ingin membuka restoran Sunda atau restoran Padang. Anda tidak harus memahami segalanya. Boleh sih, tapi gak harus. Malah, kalau Anda berusaha memahami segalanya, mulai dari belanja, memasak, menghidangkan, mengelola, buka cabang, dan lain-lain. Anda bisa pusing sendiri bahkan bisa gagal total. Dibawa simple saja, Anda tidak harus berpikir apa (What) dan bagaimana (How). Siapa yang ahli memasak? Siapa yang ahli mengelola? Nah, ambillah mereka sebagai karyawan atau mitra. Work with network, Cuma itu langkah awal yang Anda perlukan.

Tinggalkan Balasan