Apakah Kegemukan atau Obesitas termasuk Penyakit?

Mungkin tagline “Big is Beautiful” biasa kita dengar. Namun coba renungkan lebih dalam, apakah ini pujian tulus atau sindiran halus yang ditujukan kepada mereka yang kegemukan. Atau malah diciptakan oleh mereka yang kegemukan untuk menutupi dan melupakan masalah serius yang belum berhasil diatasi.

Seseorang dikatakan obesitas/kegemukan jika Indeks Masa Tubuh (IMT) mencapai 30 atau lebih. IMT adalah dengan membagi berat badan dalam kilogram dengan kuadrat dari tinggi badan dalam meter. Contoh: Agus dengan berat badan 50 kg dan tinggi badan 160 cm, maka IMT Agus = 50/1,6×1,6 = 19,53.

Di Indonesia kegemukan masih kurang mendapat perhatian, bahkan dianggap sebagai suatu keadaan yang biasa saja dan belum ada konsensus yang bersifat nasional yang menyatakan hal tersebut. Namun, The American Medical Association pada tanggal 18 juni 2013 telah mengklasifiasikan obesitas sebagai sebuah penyakit. Hal ini bukanlah sesuatu yang baru karena pada tahun 1998, The National Institute of Health sudah menggolongkan obesitas sebagai sebuah penyakit. The Obesity Society secara resmi menyatakan dukungan untuk penggolongan obesitas sebagai sebuah penyakit pada tahun 1998.

Seperti biasanya sebuah keputusan selalu diikuti oleh pro dan kontra. Kalangan medis yang setuju dengan ditetapkannya obesitas sebagai penyakit menyatakan bahwa obesitas sudah memenuhi kriteria sebagai penyakit karena ada gangguan  kemampuan fungsi tubuh, dan keputusan ini merupakan langkah maju yang akan membuka jalan bagi kedokteran komunitas untuk mengatasi masalah ini.

Mereka juga setuju karena dengan klasifikasi sebagai penyakit maka peserta asuransi akan lebih mudah mendapatkan penggantian untuk obat-obatan, tindakan medis seperti operasi dan konseling untuk menangulangi masalah obesitas.

Sedangkan kalangan medis yang tidak setuju menyatakan bahwa obesitas sebenarnya hanyalah sebuah keadaan atau kondisi atau faktor risiko yang mempermudah terjadinya penyakit seperti penyakit jantung, stroke, atau diabetes dan bukan merupakan penyakit itu sendiri. Mereka juga mempertanyakan adakah motif ekonomi dibalik keputusan ini, karena secara kebetulan, ada dua obat baru untuk mengatasi masalah kegemukan yang diluncurkan yaitu Qsymia (Vivus) dan Belviq (Arena Pharmaceuticals and Eisai).

Mereka juga mempertanyakan metode yang dipakai untuk menegakkan diagnosa obesitas. Apakah olahragawan yang massa ototnya relatif lebih besar daripada orang normal, sehingga secara matematis dia akan menimbulkan angka indeks masa tubuh yang besar-akan dikatakan berpenyakit?

Di luar berbagai pro dan kontra masalah kegemukan, ada baiknya kita mencermatinya. Berbagai cara untuk menentukan apakah seseorang dengan berat badan tertentu dapat digolongkan sebagai akal sehat atau tidak sehat dapat dilakukan. Antara lain pengukuran lingkar pinggang, angka rasio lingkar pinggang dan lingkar pinggul, rasio lingkar pinggang dan tinggi badan, tes cubit lemak, dan analisa komposisi tubuh. Lingkar pinggang ideal adalah kurang dari 90 cm pada pria dan kurang dari 80 cm pada wanita, sedangkan rasio lingkar pinggang dan pinggul adalah kurang dari 1,0 pada pria dan kurang dari 0,85 pada wanita. Pengukuran yang lebih baik untuk menilai risiko kesehatan adalah rasio lingkar pinggang dan tinggi badan yang harus dijaga jangan sampai melampaui 0,5.

Menurut WHO, prevalensi obesitas pada orang dewasa di Indonesia tahun 2008 adalah 9,4% yaitu 2,5% pada laki-laki dan 6,9% pada perempuan. Dan menurut riset kesehatan dasar Indonesia pada tahun 2010, sebanyak 11,7% atau 27,7 juta jiwa penduduk dewasa (di atas 18 tahun) menderita kegemukan. Sebagai perbandingan menurut Centers for Disease Control and Prevention, 1 dari 3 orang dewasa (35,7%) di Amerika menderita kegemukan.

Lalu bagaimana seharusnya sikap kita menanggapi hal ini? Terlepas dari apakah obesitas itu adalah sebuah penyakit atau hanyalah faktor risiko, tetaplah harus diatasi sedini mungkin. Semakin cepat obesitas ditangani, semakin mudah dan murah penanganan dilakukan, dan semakin baik hasilnya. Dalam jangka panjang obesitas akan menimbulkan berbagai masalah kesehatan, seperti naiknya risiko menderita diabetes, penyakit jantung, penyakit saluran dan kandung empedu, gangguan kulit, gangguan persendian, gangguan kesuburan, risiko terpapar beberapa jenis kanker, gangguan tidur, dan gangguan psikologis. Jika harus menunggu pemerintah melakukan sesuatu, terlalu lama. Mulailah dari kita sendiri, mulailah dengan menentukan apakah saya sudah termasuk dalam kategori kelompok obesitas. Jika ya, lalu renungkan mengapa bisa terjadi? Apakah kita sudah cukup bijaksana dalam memilih apa saja yang menjadi makanan dan minuman kita sehari-hari, apakah kita terlalu memanjakan diri sendiri dengan kemajuan teknologi yang menghalangi aktifitas fisik kita, dan apakah kita kerap melalaikan olah raga dengan segudang alasan.

Setiap kali kita dipermudah oleh teknologi, renungkanlah, apa saja yang bisa kita lakukan untuk lebih aktif dan berolahraga. Jadwalkanlah olah raga dalam agenda kegiatan sehari-hari. Tanpa penjadwalan kita akan lupa atau kehabisan waktu. Olahraga tidak akan banyak menyita waktu Anda, cukup 30 menit setiap hari dan lakukan 3-5 kali dalam seminggu.

Sehat bukanlah hal yang paling penting, tetapi tanpa kesehatan apapun yang penting menjadi tidak penting lagi. Hidup sehat dan bahagia menjadi impian setiap orang. Orang gemuk bukan berarti tidak sehat, tetapi kegemukan sudah dapat dikatakan termasuk kelompok tidak sehat.

Sumber: dr. Susanti (info kita)

Tinggalkan Balasan