5 Jurus Menambah Income Rp 10 Juta Per Bulan (1)

Menjalankan bisnis sama seperti membesarkan bayi, di mana untuk menjalaninya butuh ekstra sabar dan kerja keras. Nah, saat Anda memutuskan terjun ke dunia bisnis, itu artinya Anda sudah berkomitmen untuk benar-benar mengerjakannya dan menghabiskan sebagian besar waktu Anda untuk membesarkannya. Maka dari itu, menjalaninya mesti dengan Enjoy, Fun, alias Asyik.

Coba perhatikan anak-anak saat mereka bermain. Lihat betapa bahagianya mereka, lihat betapa riangnya mereka. Setiap bermain, mereka keasyikan sampai-sampai lupa waktu. Hukumnya sama seperti dunia bisnis. Jika menyukainya, maka seumur hidup Anda akan seperti anak-anak yang tengah bermain. Tapi bedanya disini, mainnya sambil menghasilkan duit. Asyik ya?

Selanjutnya, jika Anda akan terjun atau telah terjun di dunia bisnis, maka Anda telah berada di jalur yang tepat. Karena di sini saya akan membongkar jurus-jurus untuk menambah income, kurang-lebih Rp 10 juta per bulan. Tapi Anda harus berjanji untuk benar-benar menerapkannya. Ya, menerapkannya. Janji?

Inilah 5 Jurusnya

  1. Punya Intention
  2. Punya Leverage
  3. Jeli Melihat Peluang
  4. Punya Cahaya
  5. Punya Kendaraan

1. INTENTION

Seperti pepatah China ini, “Youzhi piao yangguo hai, wu zhi cun bunan xing” yang artinya “Kalau ada niat, laut pun akan diseberangi. Kalau tak ada niat, selangkah pun sulit bergerak.” Intention itu niat. Nah, pepatah di atas benar-benar dalam maknanya. Jika niatnya sudah serius ingin jadi pengusaha, rintangan seberat apapun yang menghadang dan menghalang, saya yakin Anda akan menghadapinya. Malah Anda menganggap rintangan tersebut adalah tantangan yang menghibur. Enjoy, Fun, alias Asyik.

Niat adalah sesuatu yang harus diletakkan paling awal, sekaligus akan menentukan hasil akhir. Niat baik, perkataan baik, dan perbuatan pasti baik, maka hasilnya mudah-mudahan akan lebih baik. Sebaliknya, kalau niat buruk, maka ujung-ujungnya pasti buruk. Jadi, niat kita mesti baik dan selaras, maka yakinlah Yang Maha Kuasa akan menjawab keseriusan kita dengan memberikan bisnis yang baik-baik bahkan ideal pada kita. Yakin! Bisnis memang nggak wajib menurut sebagian besar orang. Tapi ‘wajib’ menurut saya, karena hanya melalui jalur bisnislah kita bisa bebas uang dan bebas waktu. Di mana kita punya uang untuk membahagiakan keluarga dan membantu sesama. Bersedekah. Demikian pula soal waktu untuk keluarga dan untuk ibadah. Ya, istilahnya Pensiun di Usia Muda. Nah, bagi Anda yang belum punya bisnis, niatkan segera. Dan baiknya diawali dari belajar menjual dulu. Sekali lagi, menjual. Tapi Pak, saya sering melihat mereka yang sudah jadi pengusaha tapi tetap saja miskin, gimana tuh? Simple saja menurut saya, kalau nggak bisnis, mungkin dia bakal lebih miskin, tul nggak? Hehehe.

Lagian, ngapain Anda ambil contoh pengusaha yang miskin? Carilah contoh yang bagus. Bagi pengusaha, gagal adalah sarapan paginya dan sukses adalah hidangan malamnya. Jika sudah memilih jalur pengusaha, artinya Anda harus siap menanggung segala risikonya yaitu jadi orang kaya-raya yang banyak duitnya, hehehe. Jangan sinis, niatkan dulu. Tapi Pak, gelar pengusaha kok dipamer-pamerin? Apa cuma orang Indonesia yang begini? Nggak juga, hampir di seluruh dunia juga sama. Mungkin niatnya untuk kebaikan, demi mengajak kita bersama-sama menjadi pengusaha, tetap positive thinking saja. Soalnya, yang masuk surga kelak adalah orang-orang yang selalu berpikir baik, setuju?

Tapi anehnya, orang Indonesia lebih suka melamar kerja berulang-ulang daripada bangkit dari bisnis saat gagal. Mindset seperti ini terkadang membuat saya bingung dan geleng-geleng kepala. Saran saya, “Lakukan saja apa-apa yang Anda tahu. Jika belum mampu sepenuhnya, lakukan saja semampunya. Sembari itu, belajarlah. Pantaskan diri dan kumpulkan uangnya.” Misal, produksi belum bisa. Jualan, masih bisa tho? Jadi developer, belum bisa. Jadi broker, masih bisa tho? Lakukan saja semampunya. Saya yakin, Anda akan dimampukan.

Dalam berbisnis, niatkan untuk menafkahi diri kita dan keluarga kita. Juga membantu sesama. Ya, niat yang benar. Ini menunjukkan keseriusan dan ketulusan kita. Di sini kuncinya hanya NIAT. Jadi, bukan uang yang dilihat oleh Sang Pencipta. Melainkan niat kita, keseriusan kita, dan ketulusan kita. Keseriusan ini mesti di-manifestasi-kan pada action. Maksudnya, sungguh-sungguh, tahan banting, dan pantang mengeluh. Ditolak, tetap berusaha dan bersyukur. Gagal, tetap mencoba dan bersyukur. Bangkrut, tetap bangkit dan bersyukur. Tidak ada waktu untuk mengeluh. Itu baru namanya niat beneran.

2. LEVERAGE

Leverage berasal dari kata ‘lever’ yang artinya pengungkit. Di sekolah, kita sudah diajarkan tentang prinsip ini. Masih ingat? Adanya pengungkit memungkinkan kita untuk mengangkat benda yang berat dengan tenaga yang sedikit, benda yang besar dengan alat yang kecil. Lihat gambar di bawah ini. Perhatikan baik-baik. Sudah?

Dengan ukuran batu sebesar itu, saya jadi ragu apa dia bisa mengangkatnya apalagi menghancurkannya

dengan tangan kosong, hehehe. Beruntung, manusia dikaruniai akal dan pikiran, sehingga manusia bisa menemukan alat sederhana yang dikenal dengan pengungkit. Pada akhirnya, segala pekerjaan yang kayaknya berat jadi ringan. Dimudahkan. Ternyata prinsip leverage juga dipakai dalam bisnis. Boleh dibilang, prinsip inilah yang digunakan oleh orang-orang kaya untuk melipatgandakan kekayaannya, termasuk meroketkan penjualannya. Rupanya leverage adalah rahasia dari para pengusaha sukses. Begitu mengetahui rahasia ini, saya langsung mengaplikasikan pada bisnis saya. Hm, hasilnya? Penjualan jadi laris-manis dan omset pun meningkat drastis. Sedap? Sedap! Nah, sampai di sini, Anda pasti bertanya-tanya bagaimana cara saya me-leverage bisnis saya? Baiklah, khusus untuk Anda, saya akan bongkar rahasianya:

a. Jual One-To-Many.

Dalam memasarkan produk, saya selalu memakai media-media penjualan seperti free seminar, broadcast message, email blast, Facebook Ads, Instagram Ads, atau sejenisnya. Kenapa? Karena sifatnya one-to-many, satu untuk semua, satu untuk banyak. Beda dengan presentasi one-on-one dan door-to-door. Kelamaan!

b. Bikin Sekali, Jual Berkali-Kali.

Ciptakan produk yang unik dan berkualitas. Nah saat dijual, kemungkinan produknya akan laku keras dan bertahan lama. Dengan cara ini, kita bisa mendapatkan hasil atau royalti secara terus-menerus. Saya menerapkan prinsip ini dengan menulis dan merilis buku. Karena buku saya bagus, yah jadi laku. Ge-er, hehehe. Dari situ, saya menerima royalti secara terus-menerus (passive income). Begitulah. Bikin sekali, jual berkali-kali.

c. Bangun Tim Penjualan.

Dalam bisnis tidak ada yang namanya Superman, yang ada hanya SuperTeam. Untuk sukses, kita nggak bisa mengerjakan semuanya sendiri. Ya, kita butuh tim. Misalnya mau sukses di bidang penjualan. Maka, bangunlah tim penjualan lalu mentoring mereka secara berkala. Sampai kapan? Sampai mereka terampil dalam menjual. Jangan tanya ‘berapa lama’. Itu layak dikerjakan. Karena merekalah yang akan bekerja mati-matian menjualkan produk kita ke banyak orang, berkalikali. Inilah yang disebut leverage TEAM (Together Everyone Achieves Miracle).

d. Carilah Tokoh Terkenal.

Orang-orang hebat, termasuk orang-orang terkenal, bisa memudahkan bisnis kita. Nggak percaya? Melalui seminar, saya bekerjasama dengan Tung Desem Waringin, James Gwee, Ippho Santosa, Jamil Azzaini, dan Merry Riana. Ketika seminarnya ramai, maka diri saya dan bisnis saya pun semakin dikenal orang. Sedap! Sekarang cobalah me-leverage bisnis Anda. Mulai dari satu bisnis dulu. Lihat hasilnya.

Terus, ukur dan sesuaikan. Kalau berhasil, tinggal Anda terapkan leverage secara berulang-ulang pada bisnis Anda yang lainnya. Leverage memang sebuah prinsip yang sederhana namun berperan besar pada keberhasilan Anda dan masa depan Anda. Siap praktek?

3. JELI MELIHAT PELUANG

Jeli Melihat Peluang by pexels.com

Alkisah ada dua pengusaha, sebut saja A dan B. Keduanya memutuskan pergi ke Afrika untuk mengembangkan bisnis sepatunya. Sesampainya di sana, mereka melihat penduduknya tidak ada yang memakai sepatu. Inilah respons mereka. “Di sini tidak mungkin jualan sepatu! Penduduknya nggak ada yang pakai sepatu. Saya akan pulang dengan penerbangan besok pagi,” ujar si A yang pesimis. Sedangkan si B, detik itu juga langsung menghubungi timnya dan berseru, “Ini peluang besar! Penduduk di sini belum ada yang pakai sepatu. Kita harus edukasi mereka soal pentingnya sepatu. Pelan-pelan kita tawarkan sepatu. Kalau perlu, di sini kita buka pabrik sepatu. Nggak ada pesaing, pasti laku.” Singkat cerita, si B akhirnya menjadi pengusaha sepatu yang sukses di sana.

Cerita di atas memang fiktif, tapi mengajarkan kita untuk jeli melihat peluang. Benar-benar jeli. Orang sukses bisa melihat hal-hal yang tidak bisa dilihat oleh orang biasa, salah satunya peluang. Nah, sebenarnya banyak peluang yang lewat di depan kita setiap harinya. Ironisnya, sebagian besar dari kita tidak bisa melihatnya. Yah, sayang sekali. Di bawah ini saya tunjukkan contoh-contoh agar kita bisa jeli melihat peluang:

  • Suatu hari, relasi saya ingin membangun rumah dan meminta saya untuk dikenalkan dengan kontraktor kenalan saya. Intinya, orang yang bisa dipercaya alias kredibel. Ceritanya, dia habis ditipu. Uangnya dibawa lari oleh mantan kontraktornya. Saya pun berpikir sejenak. Jika saya bisa menyelesaikan masalahnya, ini adalah peluang bagi saya. Alih-alih memperkenalkan dia kepada orang lain, saya malah melihat ini sebagai peluang dan mengambil proyek tersebut. Selanjutnya, apakah saya tahu caranya? Apakah saya punya tim? Apakah saya punya pengalaman dalam membangun rumah? Jujur, ketiga-tiganya tidak saya miliki. Saya awam di dunia kontraktor. Nah, kebetulan teman dekat saya adalah ahlinya. Dia sudah puluhan tahun di bidang ini, dan tentunya bisa dipercaya. Singkat cerita, kami pun bekerjasama dengan pembagian keuntungan 50% – 50%. Sedap? Sedap! Dengan cara ini, saya bisa menghasilkan puluhan sampai ratusan juta dalam sekali deal. Beginilah awal mulanya saya bisa terjun di dunia kontraktor. Ya, mengubah peluang jadi uang.
  • Saat ngobrol santai, teman saya cerita ingin menjual mobilnya. Ketika ia menawarkan ke showroom-showroom resmi, mobilnya ditawar rendah di bawah harga pasar. Ia menjelaskan ini dengan kesal. Ting! Ini peluang, pikir saya! Jika saya bisa menyelesaikan masalahnya, ini adalah peluang bagi saya. Kemudian saya tanya, harga yang ditawar showroom berapa? Harga pasaran berapa? Mobilnya mau dijual berapa? Setelah tahu info detailnya, saya bilang saya akan bantu menjualkan. Dan inilah yang kemudian saya lakukan. Saya foto mobilnya. Selanjutnya, foto mobil tersebut saya posting di TokoBagus.com dan Berniaga.com (waktu itu). Saya naikkan harga jualnya sekian juta rupiah. Dua hari berlalu, mobil tersebut laku terjual. Hehehe. Singkat cerita, teman saya puas dengan harga jual mobilnya yang lebih tinggi. Pembeli? Juga puas. Dan tentunya saya yang paling puas, karena mendapatkan uang jutaan rupiah, hehehe. Sekali lagi, mengubah peluang jadi uang. Masih banyak peluang yang pernah saya olah secara spontan. Nah, saya kira dua contoh kecil di atas sudah bisa membuka pikiran Anda. Ya, lebih jelilah melihat peluang yang ada.

Sumber: 5 Jurus Menambah Income Rp 10 Juta Per Bulan by Dedy Hartono

Tinggalkan Balasan