3 Strategi Public Relation (PR) Dalam Membantu Bisnis Startup

3 Strategi Public Relation (PR) Dalam Membantu Bisnis Startup

Berikut serangkaian sudut pandang menarik yang bisa membantu startup dalam memulai strategi Public Relation (PR) mereka nantinya.

1. Mulai dari menghadirkan narasi yang kuat

Lars Voedisch selaku Managing Director dari Precious Communications mengatakan, startup sebaiknya memiliki strategi PR sejak awal. Untuk memulainya, Lars menyarankan langkah pertama adalah menentukan narasi seperti apa yang akan dibawa kepada publik.

“PR itu bukan hanya soal mengadakan event atau dimuat di media. PR harusnya menemukan narasi yang tepat sehingga produk kita memiliki posisi yang jelas di pasar,” jelas Lars.

Meski sangat krusial, Lars menyadari bahwa memilih narasi yang tepat bisa cukup membingungkan. Ia mengaku banyak founder startup tahap awal yang menemuinya dan mengeluh mereka tidak punya banyak cerita yang bisa disampaikan kepada publik. Biasanya, produk mereka masih sedang dalam tahap penyempurnaan, dan belum memiliki basis konsumen yang besar.

Menariknya, Lars justru merasa itulah salah satu miskonsepsi yang kerap terjadi di ranah PR untuk startup. Ia menilai banyaknya berita pertumbuhan startup membuat orang seolah terobsesi dengan berita soal pencapaian saja. Padahal Tidak harus melulu bicara soal pencapaian semata. “Ada banyak alternatif,” kata Lars.

Kita bisa bicara soal strategi founder dalam mengelola organisasi perusahaan, atau kesalahan dan pelajaran yang dialami founder selama ini, atau mungkin sosok influential di tim.

Lars menekankan, “pada akhirnya, orang tidak akan tertarik jika kita selalu bicara soal produk yang kita jual saja. Unsur empati dan human experience bisa memperkuat narasi untuk merebut perhatian mereka.”

Pendapat yang sama diutarakan PR Director dari Traveloka, Sufintri Rahayu. Perempuan yang akrab disapa Fifin ini menilai, justru pemberitaan yang hanya mengulas pencapaian finansial atau pengembangan produk melulu akan sulit mencuri perhatian publik.

Ia menekankan bahwa tujuan PR bukan hanya membuat publik mengenal suatu brand saja, namun juga membangun reputasi brand sekaligus memastikan semua stakeholder memiliki persepsi yang sama.

Fifin mencontohkan, salah satu narasi yang dibawa Traveloka di awal berdiri adalah tentang founder mereka, Ferry Unardi, yang drop out dari Harvard dan memilih memulai bisnisnya sendiri.

Ferry yang merupakan anak daerah asal Padang, saat itu merasa kesulitan mencari tiket transportasi secara ringkas dan terjangkau. Pengalaman itulah yang akhirnya menginspirasi Ferry memulai bisnis online travel agent.

“Dalam narasi itu kita tidak bicara soal produk Traveloka atau capaian-capaian finansial. Namun dari kisah itu juga publik jadi mengenal Traveloka dan akhirnya mengetahui produk apa yang kami bawa.”

2. Jeli membangun kerja sama dengan media

Bicara soal PR tentu tidak lepas dengan peran media. Enricko Lukman selaku Chief Operating Officer dari Content Collision meyakini, suatu startup butuh dukungan media untuk berkembang dan diterima publik.

“Yang tidak banyak diketahui, jurnalis yang bekerja di media itu menerima puluhan email setiap harinya. Semuanya berisi undangan liputan atau press release,” jelasnya.

Sebagai mantan jurnalis teknologi, Enricko sangat paham soal ini. Pengalaman itulah yang kini ia gunakan untuk mengembangkan Content Collision, sebuah agency yang fokus di bidang press release dan content marketing.

Itulah sebabnya, ia menekankan pentingnya mengirim email dengan subjek yang menarik namun tetap to-the-point. Jika terlalu generik dan bertele-tele, besar kemungkinan jurnalis akan mengabaikannya dan memilih berita lain.

Startup tahap awal kata Enricko harus mengemas konten mereka sesuai media yang mereka targetkan. Sayangnya, ia melihat strategi ini jarang dilakukan startup di Indonesia. Mayoritas hanya mengirim press release ke sebanyak-banyaknya jurnalis, dan berharap ada beberapa yang bersedia memuat informasi tersebut.

“Berikan informasi soal teknologi ke media teknologi, begitu pula untuk media bisnis. Dengan begitu informasi yang dibagikan tidak hanya menarik bagi jurnalis, tapi juga buat pembaca.”

Hubungan personal yang kuat antara startup dengan jurnalis kata Lars juga akan sangat membantu dalam hal PR. Untuk itu, ia menghimbau para founder (khususnya yang masih di tahap awal) untuk tidak hanya menghubungi jurnalis saat ingin bisnisnya diulas saja.

“Ajak mereka bertemu dan ngobrol. Selain memperkuat hubungan, kalian juga bisa meminta sudut pandang rekan jurnalis terkait bisnis yang sedang kalian rintis,” jelas Lars.

Tips lain yang diutarakan Fifin yakni agar para pelaku startup bisa mengembangkan media mereka sendiri. Mulai dari Twitter, YouTube, hingga blog. Dengan begitu, suatu startup jadi bisa membagi informasi mana yang akan diterbitkan pihak eksternal, dan informasi mana yang lebih baik jika diterbitkan oleh media milik perusahaan.

“Semua kanal itu sangat membantu kami (Traveloka) dalam membangun reputasi sekaligus menjalin kedekatan dengan pengguna. Secara finansial pun strategi ini lebih terjangkau dibanding menyelenggarakan event komunitas ataupun press conference,” jelasnya.

3. Product, Purpose, Passion

Dalam menyusun strategi PR, Lars mengelompokkannya ke dalam tiga elemen dasar yang perlu diimplementasikan setiap startup:

  • Yang pertama adalah product. Artinya, sebelum menyusun strategi PR, suatu startup harus sudah meyakini peran produk yang mereka kembangkan. Mulai dari keunggulan produk hingga lanskap persaingan di industri tersebut. Dari situ bisa ditentukan positioning startup di tengah peta kompetisi.
  • Kedua adalah purpose. Suatu startup harus paham betul apa tujuan dari keberadaannya di industri. Siapa target pasar, masalah apa yang dihadapi oleh pasar tersebut, dan bagaimana solusi yang ditawarkan bisa menjawab kebutuhan pasar.
  • Yang terakhir adalah passion. “Ini adalah bagaimana kita menceritakan semangat, visi, dan kultur perusahaan secara antusias, namun tetap autentik”, jelas Lars. Namun ia juga menekankan unsur kejujuran dan keterbukaan, jangan sampai ada narasi atau klaim yang dilebih-lebihkan, karena pada akhirnya itu justru membuat publik kehilangan kepercayaan.

Enricko juga mengingatkan bahwa PR pada dasarnya adalah sebuah cara perusahaan berkomunikasi dengan publik yang menjadi target konsumen mereka. Jangan hanya startup yang melulu menyampaikan informasi ke publik, tapi juga harus mendengar apa opini publik soal mereka.

Engage with your customer, listen to them. Ini penting untuk memastikan narasi yang dibawa oleh perusahaan tetap relevan dengan minat publik,” tutup Enricko.

Sumber: id.techinasia.com

Tinggalkan Balasan