10 Cara Menentukan Nama Produk Yang Memikat Pasar

Sebagian entrepreneur banyak menghabiskan waktu untuk memikirkan nama produk. Nama memiliki peranan penting yang akan mendorong terciptanya gambaran produk dalam benak konsumen. Oleh karena itu, nama produk sebaiknya mengandung makna atau cerita. Nama yang tepat akan mudah dipahami dan diingat konsumen.

Nama Pepsi diambil dari nama enzim pencernaan, pepsin. Sony diambil dari kata latin Sonus yang berarti suara. Sementara  Nintendo dari nama Jepang, Nintendou-Nin, yang berarti bisa dipercaya dan tendou yang berarti surga. Meski nama produk bukan sesuatu yang penting bagi konsumen karena kebanyakan konsumen lebih mengutamakan kualitas produk namun nama yang tidak tepat akan membingungkan konsumen. Dalam nama suatu produk biasanya terdapat diferensiasi produk itu sendiri.

Mari kita lihat masalah yang dihadapi Apple setelah meluncur kan Newton. Nama ini diberikan pada produk PDA atau personal digital assistant. Sayangnya, banyak konsumen yang tidak mendapatkan gambaran produk apa yang sebenarnya diusung Apple. PDA terdengar seperti istilah medis, bahkan bidang perdagangan pun menggunakan istilah PDA. Akibatnya, banyak konsumen menolak istilah ini. Jadi, apa yang harus dilakukan untuk memilih nama produk yang bisa memikat pasar?

  1. Nama produk harus mudah diucapkan.
  2. Mudah diingat.
  3. Pilihlah nama yang unik.
  4. Nama harus dapat menggambarkan diferensiasi atau keunikan produk.
  5. Tidak terlalu panjang.
  6. Hati-hati menyerupai produk lain.
  7. Hindari nama yang mengandung kontroversi atau melanggar hukum.
  8. Sebaiknya hindari singkatan (akronim).
  9. Pertimbangkan nama yang dapat go-internasional.
  10. Lakukan survei nama melalui berkonsultasi dengan keluarga, sahabat, atau calon konsumen.

Jika memilih menjadi entrepreneur berarti kita dituntut untuk menjadi seseorang yang kreatif. Tak hanya dalam menemukan ide, tetapi juga dalam mengemas, memasarkan, bahkan memimpin tim kerja. Maka, waspadailah bahaya asumsi. Asumsi yang menghalangi daya kreatif ada di mana-mana dan bisa dari siapa saja. Sering kali, yang terjadi, ketika kita membicarakan niat dan ide-ide baru untuk pengembangan bisnis, orang-orang di sekitar kita biasanya memberikan pendapat mereka. Ada yang memberikan dukungan penuh dalam bentuk kalimat-kalimat positif yang mem bangkitkan semangat.

Di sisi lain, ada pula orang yang tidak percaya kalau kita bisa mengembangkan bisnis, mengatakan ide itu tidak masuk akal, mustahil, dan pernyataan/tindakan negatif lainnya yang menggoyahkan semangat. Hal-hal negatif ini bisa dikatakan sebagai beban-beban asumsi yang bisa membuat kita mundur teratur. Beban asumsi berikutnya adalah anggapan atau pemikiran orang lain secara umum berkaitan dengan ide yang kita ajukan.

Misalnya, kita mengatakan pena, maka orang di sekitar kita akan berpikir dan langsung membayangkan tinta, alat untuk menulis, dan hal-hal lain yang secara umum menggambarkan pena. Padahal dari kata ‘pena’ bisa tercipta pena elektronik, pena yang mampu bersuara untuk setiap kata yang terbaca/tertulis, atau kue berbentuk pena.

“Bukan tentang apakah ini, tetapi apa yang mungkin?” kata Helga Drummond dalam bukunya How to be a Successful Entrepreneur. Cara kita menemukan sesuatu yang baru adalah dengan menentukan apa yang kita lihat dan bagaimana kita melihatnya. Jika kita ingin menemukan ide-ide baru, bebaskan diri dari asumsi yang menghalangi. Berpikirlah out of the box.

Sumber: 101 Problem Solving for Entrepreneur

Tinggalkan Balasan